Pancaroba Peradaban & Carut Marut Linimasa

Foto: Personel Hutan Hujan. (ist)

Apa yang pertama terlintas kala mendengar Hutan Hujan? Unit folk dengan lagu “adem”?
Mendayu-dayu? Lirik surealis? Kali ini, ada baiknya kita lupakan itu semua. Sejenak.

Lewat single terbaru mereka bertajuk “Pancaroba Peradaban”, Hutan Hujan sekilas
menyampaikan sebuah amarah. Sebuah ekspresi keluh kesah, tentu bukan hal yang biasanya dibikin oleh kuintet asal Malang ini. Coba simak single sebelumnya yang bertajuk “Jatuh Rindu” serta album pertama mereka Hutan Hujan (2018), terasa berbeda, bukan?

Diakui oleh Sigit Prasetyo, si penulis lirik, bahwasannya “Pancaroba Peradaban” terinspirasi dari kekacauan hari-hari ini. “Liriknya adalah keluh kesah perubahan perilaku manusia di era digital sekarang ini. Manusia lebih berani berekspresi dan berucap kata tanpa mempedulikan lawan bicaranya,” tutur pria yang sering terlibat di belakang layar beberapa band Malang tersebut.

“Hal di atas bisa jadi belati bermata dua, di satu sisi mengungkapkan kejujuran. Tapi di lain sisi satu kata dapat membunuh perasaan orang lain dengan atau tanpa disadari. Tak heran jika belakangan timeline social media kita penuh dengan umpatan dan caci maki dari sesama warganet,” tambahnya.

Keresahan tersebut kemudian disambut antusias oleh Edy Priono, gitaris Hutan Hujan, sekaligus karib Sigit selama 13 tahun ini. Syahdan, penulisan lirik, melodi, hingga aransemen dari lagu inipun tak memerlukan waktu lama untuk dimanifestasikan menjadi karya utuh. “Mungkin karena kami juga sudah satu frekuensi,” tutur Edy saat ditemui di Sembrani Production Jln Tebo Selatan 222 Malang.

Sedikit lebih dalam tentang sisi aransemen dan musik, “Pancaroba Peradaban” lebih kaya
dengan perubahan nada, tempo dan birama. Lompatan-lompatan ketukan dari 6/8 menjadi 4/4 dengan balutan nada-nada timur tengah khas Ottoman membuat progresi dan groove lagu ini berbeda dengan kebanyakan musik yang sedang beredar di pasaran hari ini.

Video musik Pancaroba Peradaban dapat dinikmati di Channel Youtube Hutan Hujan mulai 30 September 2020. Bersamaan dengan itu, akan dirilis secara berurutan di toko digital hingga radio-radio di Indonesia. Sebelum dirilis resmi, Hutan Hujan juga telah mengunggah proses di balik layar dan produksi lagu ini, sehingga para pendengar dapat melihat bagaimana penciptaan karya itu terjadi.

Simpul kata, semoga kita segera menyesuaikan diri dengan perubahan dunia yang sedang terjadi. Kadang, Peradaban berjalan pelan kejam, merubah pengertian menjadi saling tikam.

Selamat datang di “Pancaroba Peradaban”.