Kisah Heroik Milenial, Bantu Belajar Anak Desa Kala Pandemi

Caption : Rizki (kanan, syal biru). (ist)

BACAMALANG.COM – Bermunculannya kisah heroik, tak hanya melulu didominasi kiprah nakes berjibaku di tengah pandemi.

Namun juga ada kisah lainnya seperti cerita patriotik anak muda milenial membantu pembelajaran anak desa saat Pagebluk Corona di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang ini.

“Saya ingin bisa memberikan manfaat pada sekitar, khususnya di dunia pendidikan anak,” tutur salah satu pengajar Bimbel Ayo Sinau Wagir Rizki Diawar, Selasa (12/1/2021).

Anak muda yang tinggal di Jalan Nakula Tulusayu Wagir ini mengatakan, dirinya sudah lulus kuliah di STID (Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah) Al-Hadid Surabaya dan saat ini menunggu wisuda.



Sebelum join di bimbel ia mempunyai pengalaman penunjang yakni pernah menjadi guru mengaji di waktu masih SMP, SMK dan kuliah. ” Saya juga sering ikut kegiatan bakti sosial di masyarakat , pembinaan, dan pelatihan,” tukas Rizki.

Dalam kegiatan mengajar di bimbel ini, Rizki menempuh perjalanan sekitar 5 kilometer naik sepeda motor dari rumahnya. “Saya naik sepeda motor. Ya pakai uang bensin sendiri. Yang penting Kita ikhlas dan bermanfaat untuk sesama,” papar Rizki.

Terkait pembelajaran daring saat pandemi, ia mengatakan, belajar dengan sistem daring sebenarnya sangat efektif dan efisien untuk kalangan yang paham iptek).

Namun hal tersebut, berbeda jika dengan anak-anak seusia TK dan SD yang seringkali mengalami kesulitan.

“Karena di lapangan yang saya lihat bukan anaknya yang belajar, tapi ortunya. Apalagi jika anak usia kelas 1-3 yang masih sangat perlu bimbingan langsung guru. Karena kebanyakan dari mereka masih sulit untuk memahami soal yang diberikan. Maka penggambaran realitas masih harus diberikan dengan cara tatap muka, tapi melihat kondisi sekarang, ya gimana lagi jika Kemendikbud sudah memutuskan demikian,” terang Rizki.

Pada bimbel ini, pengajar tidak mendapatkan honorarium, namun Rizki mau berpartisipasi meskipun tidak ada HR.

“Iya memang sejauh ini tidak Ada pemberian fee bagi pengajar, saya mau berpartisipasi karena saya ingin menjadi orang yang bermanfaat. Bagi saya mengajari anak-anak dari tidak bisa menjadi bisa, itu sudah menjadi bayaran yang mahal. Apalagi jika mereka menerapkan apa yang saya ajarkan dan bisa memberikan manfaat bagi mereka dan orang disekitarnya. Saya Kira itu sudah jadi bayaran akhirat saya,” imbuh Rizki.

Berdasar pembagian jatah wilayah, Rizki mengajar 10 murid di Dusun Jemunang Desa Pandanrejo. “Dan rencana pingin bantu ngajar juga di Desa Sidorahayu,” papar Rizki.

Terkait antusiasme Rizki menceritakan Antusias mereka tinggi. “Antusias mereka tinggi banget. Karena sebelum kegiatan dimulai mereka sudah berkumpul dan sampai nunggu. Saat belajarpun hingga terkadang lebih lama, karena sudah asyik belajar. Hal inipun juga didukung ortunya anak-anak,” urai Rizki.

Ingin Belikan Alat Tulis

“Kalau saya pribadi, memang ingin ikhlas dalam mengajar anak-anak. Saya pikir ini amalan sayalah buat mengabdi di masyarakat, namun jika ada dermawan yang hendak membantu dari segi dana, ya mungkin akan saya terima buat beli bahan dan alat mengajar. Karena saya juga pingin bantu dari segi materi ke anak-anak. itung-itung buat beli ATK,” jelas Rizki.

Kalau misal ada honorarium, Rizki merasa bersyukur. “Jika Ada HR, ya disyukuri aja, mungkin ini bentuk apresiasi masyarakat kepada saya, Dan saya bisa membaginya dengan anak-anak,” imbuh Rizki.

Rizki berharap bimbel terus berkembang dan maju. “Harapan saya, bimbel ini bisa terus berkembang. Dan teman-teman pengajar jangan sampai lelah untuk memberikan manfaat. Jika ada teman-teman yang berminat bisa gabung dengan Kami. Biar manfaat yang diberikan bisa semakin luas. Banyak untungnya bukan materi tapi imateri,” terang Rizki mengakhiri. (had)