Pengusaha Konveksi Dimejahijaukan, Terkait Perusakan Pagar

Foto : Terdakwa kasus pengrusakan pagar. (yog)

BACAMALANG.COM – Kujang Agus Suyono, warga Jalan Kartini 7 Malang dimejahijaukan oleh Chatalina pemilik rumah di Jalan Kartini 17 Malang dan dilaporkan ke Polresta Malang Kota, Juli 2017 lalu gara-gara melakukan perusakan pagar rumahnya.

Karena tidak kooperatif untuk menyelesaikan masalah perusakan pagar, Kujang akhirnya menjalani penahanan dan sidang di PN Malang, Rabu (12/2/2020).

Kujang terbukti melanggar Pasal 170 ayat (1) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP dan/atau pasal 406 KUHP tentang perusakan.

Sebenarnya pengusaha konveksi ini dilaporkan Juli 2017 lalu namun kasusnya baru dinyatakan P-21 (sempurna) Desember 2019.

Selanjutnya berkas perkara tersebut telah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kota Malang dan Kujang ditahan oleh Kejaksaan Negeri Kota Malang No: Print-230/M.5.11/Eoh.2/01/2020, tanggal 30 Januari2020.

Dalam laporan polisi itu, Kujang, panggilannya dianggap membongkar dan merusak pagar tembok yang terbuat dari panel beton yang berdiri diatas tanah milik Chatalina.

Pembongkaran dilakukan oleh Kujang dengan alasan truk atau mobil pikap miliknya bisa masuk ke dalam rumah kontrakannya di Jalan Kartini 19 A Malang yang persis di sebelah rumah milik Chatalina.

Menurut keterangan Chatalina, pagar tersebut dipasang untuk pembatas rumah setelah ada pengukuran dari BPN Kota Malang.

Sidang tersebut dipimpin hakim Nuruli Mahdelis, SH, MH, dengan Hakim anggota Sri Hariyani SH, Sugianto SH dan JPU Hanis Aristya Hermawan SH.

Pelapor yakni Chatalina sudah meminta Kujang untuk mendirikan kembali pagar tembok beton itu dan akan menyelesaikan perkara yang sudah dilaporkan ke polisi secara kekeluargaan.

Tapi Kujang tidak mau mendirikan pagar tersebut. Bahkan, mobil-mobil miliknya menutupi jalan masuk rumah Chatalina.

Rudy Murdany SH, penasehat hukum Kujang mengatakan saat kliennya  menyewa rumah tersebut sebenarnya sudah ada perundingan karena pemilik  rumah yang dikontrak mengaku keberatan  dengan pembangunan pagar itu.

“Akhirnya dimediasi oleh Satpol PP dan Dinas PU Kota Malang. Hasilnya disuruh mundur 10 meter,” ungkapnya. Namun, Chatalina sendiri dituding tidak pernah ada di sana.

“Sejak klien saya menyewa rumah itu  untuk gudang konveksi. Sedangkan rumah milik pelapor dalam keadaan kosong,” tambahnya.

Pagar itu, menurutnya sangat mengganggu proses memasukkan barang. “Sekarang upaya hukum kita ajukan kebenaran formil dan materil. Saksinya pemilik rumah. Dia secara tertulis sangat keberatan dengan pagar itu,” pungkas Rudy Murdany. (yog/had).