Soal Pandemi dan Intoleransi, MWC Turen Sikapi Begini

Foto : Gus Syafaat. (ist)

BACAMALANG.COM – Nahdatul Ulama (NU) mempunyai kepedulian dan komitmen berkontribusi menyelesaikan berbagai persoalan sosial kemasyarakatan, termasuk adanya pandemi dan maraknya paham intoleransi.

“Kami membentuk Gusgas MWC di tingkat kecamatan dan terus berkoordinasi dan konsolidasi dengan satgas Kecamatan Turen untuk bersinergi dalam pencegahan terjadinya penyebaran Covid 19 agar tidak semakin meluas,” tegas Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC-NU) Kecamatan Turen, KH Syafaat Muhammad, Jumat (12/2/2021).

Gus Syafaat menjelaskan pihaknya menjalankan berbagai upaya antara lain : melakukan penyemprotan disinfektan pada aset-aset NU secara berkala ( musholla, masjid , sarana pendidikan/ ponpes, Kantor NU dan lainnya ), pembagian masker, handsanitizer, dan vitamin kepada warga ( di support penuh oleh LazisNU Kecamatan Turen ) serta sosialisasi dan edukasi terkait pentingnya prokes.

Prokes, Ketahanan Ekonomi dan Sikap Terkait Intoleransi

Dalam menyikapi Covid 19 MWC NU menginstruksikan untuk selalu patuh dan bekerjasama dengan Satgas Covid desa masing-masing.

Memberikan instruksi untuk melakukan beberapa amalan untuk tolak balak, melakukan rekayasa jamaah dengan meminimalisir terjadinya pengumpulan massa pada ruang / tempat-tempat yang tidak memenuhi standard prokes.

Sementara untuk mencegah keterpurukan ekonomi, secara Lembaga, NU melakukan ekspansi usaha melalui Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) dengan beberapa jenis usahanya antara lain penjualan air mineral merk AQNU, membuka akses kepada warga Nahdliyin khususnya untuk menjadi anggota KOPTANU ( Koperasi Tani Nusantara ) milik MWC NU agar bisa mengakses permodalan untuk pengembangan usaha mereka, serta membuka usaha Catering yang sementara ini masih terbatas melayani kegiatan kegiatan internal NU.

Selain itu, MWC NU Turen berupaya bersikap tawasuth terkait intoleransi. “Kami berpatokan pada sikap tawasuth / tengah-tengah tidak ekstrim kanan ataupun ekstrim kiri, sikap tawazun seimbang dalam segala hal, sikap i’tidal tegak lurus / adil dalam mengambil kebijakan, sikap tasamuh/toleransi dengan menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip tidak sama dengan tanpa mengakui atau membenarkan perbedaan prinsip tersebut,” pungkas Gus Syafaat. (eko/ had)