Mengenal Lebih Dekat D.I.P.A Band

Foto : Personil D.I.P.A (ist)

BACAMALANG.COM – Di sudut kota Malang, ada salah satu band yang terbentuk tahun 2002 bernama D.I.P.A (Dhandit, Ideh, Pras, Anwar). Mereka adalah salah satu band yang intens di ajang festival sejak berdiri hingga bertahan sampai tahun 2004 sebelum akhirnya vakum.

Setelah merasakan kejenuhan dengan rutinitas band yang stagnan, Dhandit, sang pentolan D.I.P.A, akhirnya kembali membentuk band tersebut dengan konsep baru pada tahun 2017. Kali ini, Dhandit yang juga sebagai gitaris menggandeng para personil baru yakni Z-Fuck (Bass), Jimmy (Drum) dan Jihad (Vocal) dengan mengusung genre Rock Alternative.

“Pada akhirnya terbentuklah band reinkarnasi dari DIPA dengan title baru (Down Into PAlace) yang berarti turun keistana, maksudnya adalah seperti Malaikat yang turun ke Bumi menumpas kejatan yg mengambil influance AudioSlave dan SoundGarden. Dengan tema kritik sosial yang terjadi sehari-hari, dengan single berjudul ‘Kosong’ yang bercerita tentang pembual – pembual di luar, yang hanya omong kosong,hanya memberi janji dan mimpi tapi kenyatannya kosong,” kata Dhandit.

Karya D.I.P.A (ist)

Dalam selang waktu yang sangat singkat, sekitar 6 bulan, D.I.P.A merilis album self title yang berisikan 8 lagu di bawah naungan Portal Musik Indonesia. Karya ini bisa di dapatkan penikmat musik di Jajan Kaset (Jakarta), Hardness.inc (Lombok), Sukabumi Music (Sukabumi). Comestore (Semarang), dan di Malang sendiri bisa di dapatkan di personil D.I.P.A sendiri.

“Band ini sendiri juga berkontribusi di sejumlah event festival seperti Festival Pasar Larkiran dengan memborong sejumlah trophy Juara 2, The Best Guitar dan The Best Bass. Selain itu juga di Festival yang diselenggarakan di Balai Kota Among Tani Batu, kami berhasil menyebet Juara 2, dan juga di Event Malang Bikers Days Out 2017,” terang alumnus Sastra Inggris Universitas Gajayana Malang ini.

Saat ditemui BACAMALANG di tempat kosnya di daerah Merjosari, Kota Malang, pria lajang berusia 32 tahun ini sangat berharap nantinya para pelaku seni di Malang lebih di perhatikan lagi dan ada wadah yang lebih spesifik lagi.

“Maksudnya bisa merata di segala kalangan dan ada tempat untuk menyalurkan karyanya, semisal berjualan dalam bentuk rilisan fisik, dan para pegiat event organizer bisa untuk mengapresiasi band – band lokal yang baru maupun yang sudah melanglang buana. Dengan begitu akan tercipta sinergi di antara musisi Kota Malang dan bisa menjadi lebih baik lagi,” jelasnya. (Far)