Terdampak Banjir Kayu dan Lumpur, Warga Ngantang Berharap Bantuan Air Bersih

Foto: Banjir lumpur dan material kayu mati di Kecamatan Ngantang. (ist)

BACAMALANG.COM – Pasca bencana banjir yang membawa material lumpur dan tumpukan kayu di Kecamatan Ngantang pada Rabu (6/1/2021) lalu, sebagian warga berharap bantuan air bersih karena instalasi air mengalami kerusakan akibat terjangan banjir.

“Saya mohon ada bantuan air bersih. Karena Kami mengalami kesulitan air bersih,” terang warga Dusun Wonorejo, Desa Pait, Kecamatan Ngantang, Caca, Rabu (13/1/2021).

Sementara itu, salah seorang netizen, warga Malang, Umar, memposting himbauan bantuan di media sosial (FB) untuk menarik simpati dan kepedulian membantu sesama.

Dalam postingannya Umar menuliskan :
“Ayo dulur” monggo dibantu saudara kita yang sedang kena bencana lahar dingin dan jebolnya tanggul, sehingga membutuhkan air bersih untuk desa ngantru dan sekitarnya yang punya toren monggo dibantu alangkah indahnya jika saling membantu”

Postingan tersebut dikirimkan Selasa (12/1/2021). Selain kalimat diatas, Umar juga menyertakan sejumlah foto dan sebuah video pendek menggambarkan keadaan lokasi kejadian. Hingga berita ditulis ada 12 netizen yang merespon.

Berdasar informasi yang berhasil dihimpun, ada sekitar 1.000 KK di Desa Sidodadi, Ngantru, dan Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengalami kesulitan air bersih karena pipa air milik masyarakat HIPAM (Himpunan Pendudukan Pemakai Air Minum) rusak parah dihantam banjir yang membawa lumpur dan kayu, Rabu (06/01/2021) petang.

Sejumlah perangkat forkopimda telah melakukan peninjauan ke lokasi kejadian dan mengambil beberapa tindakan evakuasi dan pembersihan Jumat (/1/2021).

Ada tiga desa yang terdampak banjir. Meliputi Sidodadi, Ngantru, dan Pandansari. Setiap desa berbeda-beda dampaknya. Semisal Desa Sidodadi, dampak terbesar dari banjir tersebut adalah banyaknya material kayu dan lumpur yang terbawa banjir menerjang 5 hektar sawah milik 25 petani, di Dusun Simo, Desa Sidodadi.

Material kayu dan lumpur juga merusak pipa HIPAM sepanjang 2 km, termasuk pipa air minum dari sumber di gunung ke permukiman berakibat 350 KK Desa Sidodadi kesulitan air bersih, karena pipanya rusak.

Selain Desa Sidodadi, dua desa lainnya, Ngantru dan Pandansari, juga terdampak banjir. Untuk Pandansari, pipa air yang rusak paling parah, karena jarak dari sumber ke permukiman penduduk lebih jauh. Akibat rusaknya pipa, 800 KK kesulitan air bersih. Pipa milik masyarakat ini dibangun pasca letusan Gunung Kelud tahun 2014 lalu.

Butuh Air Bersih

Umar mengatakan, temannya (Caca) tinggal di Pait, Dusun Wonorejo, Kecamatan Ngantang, melakukan kontak whatsApp menceritakan keadaan yang dialaminya.

Umar menceritakan kejadiannya adalah banjir lahar dingin memutuskan paralon dari sumber air. “Sekarang sebagian warga membutuhkan air bersih. Kelangkaan air bersih ini disebabkan banjir bandang yang datang dari lereng Gunung Kelud beberapa hari lalu, dan mengakibatkan terputusnya beberapa pipa yang biasanya digunakan mensuplai air bersih ke pemukiman desa tersebut,” terang Umar.

Umar mengatakan, warga minta bantuan air bersih dengan segera untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Salah satu teman foto model saya tinggal disana pak. Ini dia lagi minta tolong biar dapat perhatian dari pihak terkait,” pungkas Umar. (had)