Terdakwa Mutilasi Pasar Besar Dituntut Seumur Hidup, Kuasa Hukum Keberatan

Foto : Terdakwa kasus mutilasi di PBM. (ist)

BACAMALANG.COM – Karena menilai JPU (Jaksa Penuntut Umum) tidak mempunyai alat bukti perencanaan pembunuhan serta dari hasil visum et repertum tidak kuat, maka Kuasa Hukum terdakwa Sugeng Santoso, yakni Iwan Kuswardi tidak sepakat dengan tuntutan hukuman seumur hidup.

“Saya tidak sepakat dengan tuntutan hukuman seumur hidup. Pasalnya, jaksa tidak mempunyai alat bukti yang dapat digunakan dasar untuk membuktikan terdakwa merencanakan pembunuhan,” tandas Kuasa Hukum terdakwa Sugeng Santoso, Iwan Kuswardi, Rabu (12/2/2020).

Dikatakannya, apalagi cara membunuhnya, menggunakan cutter. Padahal dalam surat dakwaan disebutkan membunuh dengan cara membekap dan memotong leher menggunakan gunting.

Selain itu, ia menambahkan, surat tuntutan tersebut bisa dengan mudah dipatahkan jika dihubungkan dengan hasil visum et repertum, dimana menyatakan anggota badan dipotong post mortem artinya dipotong setelah meninggal dunia.

Seperti diketahui, setelah tiga kali tertunda, akhirnya sidang pembacaan tuntutan pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang, Wanto dan Hariyanto terhadap terdakwa kasus mutilasi, yakni Sugeng Santoso dibacakan pihak JPU dalam persidangan.

Pihak JPU menuntut Sugeng Santoso dengan pidana penjara seumur hidup karena dinilai telah terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap wanita beridentitas Mr X hingga memutilasinya.

“Benar terdakwa Sugeng dituntut dengan pidana seumur hidup,” jelas Kajari Kota Malang, Andi Dharmawangsa ditemui di Kantor Kejari Kota Malang.

Lanjutnya, dari tuntutan tersebut, hal yang memberatkan terdakwa adalah, ia selalu berbelit-beli dan tidak koperatif saat memberikan keterangan. 

Kemudian, perbuatan yang dilakukan terdakwa juga merupakan perbuatan yang tergolong sadis.

” Selain itu juga terdakwa pernah dihukum karena melakukan penganiayaan pada tahun 1992. Untuk hal yang meringankan terdakwa tidak ada,” bebernya.

Melihat hal tersebut, pihak JPU meminta hakim PN Malang untuk memberikan putusan jika terdakwa secara meyakinkan telah melakukan tindakan pidana pembunuhan berencana dan menjatuhkan pidana penjara seumur hidup.

Selanjutnya, agenda persidangan akan kembali berlanjut pada Senin, 17 Februari 2020 dengan agenda persidangan pledoi dari pihak terdakwa. (yog/had).