Berkesenian di Era Digital, Ini Tips Cak Percil dan Iksan Skuter

Cak Percik (dua dari kiri) dan Iksan Skuter (dua dari kanan) bersama para seniman (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang menggelar kegiatan Art & Culture Conference Pembinaan, Pemberdayaan dan Apresiasi Pelaku Seni Budaya Tahun 2020. Workshop yang dihelat di Hotel Santika pada Rabu dam Kamis (12-13/8/2020) ini menghadirkan sejumlah narasumber di bidang seni dan budaya.


Beberapa di antaranya adalah seniman Cak Percil dan musisi Iksan Skuter. Cak Percil sendiri adalah sedikit dari seniman tradisional yang telah mengembangkan sayapnya ke dunia digital.


“Saat awal pandemi, sekitar bulan Maret lalu, saya telah berusaha survive dengan membuat konten Youtube,” ujarnya Kamis (14/8/2020).


Pemilik nama asli Deni Afriandi ini mengatakan, konten ini awalnya ahanya dibuat dari kehidupan keseharian di rumah. Namun ia terus belajar, dan berusaha tetap produktif dengan mengemas konten lawakannya di media sosial tersebut dengan serius.


“Selain saya mulai berkolaborasi, saya buat pentas Kejang, yang merupakan gabungan seni Ketoprak dan Janger dari Banyuwangi,” imbuhnya.


Cak Percil menegaskan bahwa intinya adalah produktivitas, sehingga masih masih bertahan dan menghasilkan di era pandemi saat ini.
“Berkat banyaknya viewer, alhamdulillah saya sudah bisa mendulang hasil tiap bulan dari kanal Youtube yang saya kelola,” tandasnya.


Senada dengan Cak Percil, musisi Iksan Skuter menekankan bahwa seniman harus produktif dalam berkarya. “Kalau Cak Percil di seni tradisional, saya fokus dengan keahlian saya di bidang musik,” ujarnya.


Iksan mengisahkan jatuh bangunnya dia sebagai musisi pada hampir dua dekade ini. Namun sebagai musisi ia menikmati sebuah proses, bukan hanya hasil akhirnya saja.


“Seperti pendaki gunung, biasanya yang diceritakan pasti bagaimana pendakiannya, bukan keadaan di puncak,” terangnya.


Menurut Iksan, masa pandemi ini adalah kepusingan seluruh seniman di dunia. “Mau Metallica, Spultura dan Coldplay pun merasakan hal yang sama, maka jangan merasa panik secara personal, posisi musisi Malang tidak jauh berbeda dengan musisi di barat, atau Amerika,” tegasnya.


Bagi dia, saat ini adalah momen yang tepat untuk membuat karya sebanyak-banyaknya. Namun, imbuhnya, corona adalah momen bagi seniman untuk merestart ulang, khususnya dalam berpikir dan mengekspresikan seni daalam cara yang sangat berbeda.


“Kita tidak bisa ‘metenteng’ bikin acara offline, apalagi di era digital seperti saat ini,” urainya.


Iksan sendiri telah menggunakan sejumlah platform digital seperti spotify hingga YouTube untuk gelaran karya musiknya. “Saya berharap acara ini dapat menyuarakan keresahan seniman musik maupun seniman lainnya di Malang, semoga ada kebijakan yang bisa memberi solusi, harapan dan angin segar buat para seniman,” tuturnya.


Sementara itu, Kepala Disdikbud Kota Malang, Zubaidah mengatakan acara tersebut diikuti oleh 95 pelaku kesenian dan kebudayaan di Kota Malang dengan tujuan untuk memaksimalkan dan menyejahterakan pelaku seni dan kebudayaan. “Apa yang digelar selama dua hari ini akan dipakai sebagai rangkuman bagi kami untuk menyusun program-program ke depan,” pungkasnya.


Dalam kesempatan tersebut juga digelar pemberian apresiasi kepada sejumlah seniman dan pegiat seni. (ned/mid)