Bunuh Diri di Malang Marak, Begini Analisis dan Solusi dari Pakar

Foto : Sakban Rosidi. (Ist)

BACAMALANG.COM – Adanya fenomena maraknya kasus bunuh diri, selayaknya ditangani dengan pendidikan self-reselience yaitu menumbuhkan sikap kemampuan seseorang mengubah dirinya bangkit dari keterpurukan atau kesengsaraan dalam hidup.

Hal ini dikatakan dosen filsafat pendidikan, Pascasarjana IKIP Budi Utomo, Sakban Rosidi, Sabtu (14/3/2020).

“Maraknya kasus bunuh diri, semestinya ditangani dengan pendidikan self-reselience yaitu menumbuhkan sikap kemampuan seseorang mengubah dirinya bangkit dari keterpurukan atau kesengsaraan dalam hidup,” tegas Dr. Sakban Rosidi, M.Si.

Seperti diketahui, setidaknya ada tiga peristiwa bunuh diri yang menghebohkan Malang Raya.

Peristiwa bunuh diri yang pertama terjadi di Jalan Laksda Adi Sucipto, Kelurahan Blimbing, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Aksi bunuh diri dilakukan oleh BHM, 54 tahun.

Kasus bunuh diri kedua terjadi di sebuah gubuk tengah sawah di Jalan Tenaga Baru VI Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Korban berinisial MP, 39 tahun warga Jalan KH Amir Kelurahan Ngembal Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang ditemukan gantung diri oleh teman korban yang kerja di sekitar wilayah tersebut sekitar pukul 11.30.

Sedangkan kasus ketiga yaitu warga Desa Petungrejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur pasangan suami istri JW (42), dan YI (38), yang ditemukan tewas diduga bunuh diri secara bersamaan di rumahnya, Selasa (10/3/2020).

Sakban mengatakan, kejadian dan pola bunuh diri seperti ini ada kecenderungan meningkat.

Pola demikian dikenal sebagai bunuh diri egoistik dan anomik. Lompatan harapan (raising expectstion) manusia modern, acapkali justru meningkatkan keputus-asaan (raising frustration).

Celakanya, pola dan gaya hidup individualistik dan bahkan egoistik manusia jaman modern, menggerus solidaritas sosial, hingga setiap individu harua hidup tanpa sandaran sosial.

Maka terjadilah hidup tanpa makna, tanpa dukungan, dan tanpa harapan (meaningless, helpless, and hopeless).

Ia menuturkan, faktor penyebab pertama, sangat mungkin karena ketidak-sanggupan menghadapi ancaman kehancuran harga diri.

Betapa penting harga diri, sehingga bunuh diri dipandang sebagai satu-satunya cara untuk penyelamatan dari kehancuran yang dipersepsi lebih parah.

Penyebab kedua, keputus-asaan menghadapi dilema akut. Apapun keputusan atau peristiwa yang akan terjadi sama-sama berpotensi menghancurkan dirinya. Karena itu, dipilih alternatif ketiga , yakni bunuh diri.

Sakban menjelaskan, solusi harus mencakup dua sasaran: pencegahan sejak dini ideasi bunuh diri, dan penanganan subjek rawan bunuh diri.

Pedagogi, konseling, psikoterapi dan bahkan hipnoterapi harus dibuat mudah diakses oleh siapa saja.

Tujuan utamanya, membatu warga masyarakat menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, yang tidak rapuh dalam menghadapi apapun ancaman.

Semacam pendidikan self-reselience dan coping strategies bagi semua warga juga menjadi landasan program ketahanan dan kesehatan mental masyarakat.

“Adanya pusat krisis yang lebih mengedepankan kepentingan kemanusiaan dan kegawat-daruratan, seperti Women Crisis Center, sangat perlu diperkenalkan agar bisa menjadi penolong saat kejadian krisis,” pungkas Sakban. (Had)