Muncul Tiga Hipotesa Situs Kumitir, Minggu Ini Dilakukan Uji Akademis

Foto : Deddy (pakai kacamata) saat berada di situs Kumitir. (ist)

BACAMALANG.COM – Keberadaan sebuah situs tidak hanya penting bagi literasi sejarah dan budaya, namun di dalamnya menyimpan satu entitas peradaban yang menarik untuk diurai.

Begitu pula halnya dengan situs Kumitir yang berada di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto yang hingga kini memunculkan tiga kesimpulan berdasar dari hipotesa dan dasar penetapan yang berbeda-beda.

“Minggu ini dilakukan uji akademis untuk memberikan penjelasan tentang apa dan fungsi dari situs Kumitir di masa lalu,” tandas Pemerhati Sejarah dan Budaya Jawa Timur Deddy Endarto, Minggu (13/9/2020).

Tiga Hipotesa

Sekilas informasi, paska ekskavasi Situs Kumitir, maka akan masuk tahap evaluasi dan kajian.

Menariknya berbagai hipotesa muncul secara liar, karena memang tidak ditemukan bukti pendukung yang cukup kuat di lapangan yang bisa menjelaskan apa dan fungsi dari situs Kumitir di masa lalu.

Ada yang berhipotesa bahwa Kumitir adalah candi pendharmaan dari Sri Narasinghamurti atau Mahesa Campaka.

“Tapi ini menemui tantangan berat karena Mahesa Campaka yang kakek dari pendiri Majapahit adalah Raja di wilayah Dhaha, yang sekarang Kita kenal sebagai wilayah seputaran gunung Wilis : Kediri, Tulungagung, Blitar dan sekitarnya. Apa iya pendharmaannya harus berada di wilayah Trowulan,” terang Deddy.

Hipotesa lain adalah Istana Pesanggrahan dari Bhre Wengker. Memang di wilayah Kotaraja Trowulan, para Raja Bawahan mempunyai istana pesanggrahan (mirip fungsinya dengan kedutaan besar bagi wilayah yang dipimpinnya).

Contoh : Istana Bhre Kahuripan di area Klinterrejo yang sedang juga di ekskavasi oleh BPCB Jawa Timur.

Juga adanya temuan baru di wilayah Desa Tumapel, dusun Seduri. Yang menurut analisa Deddy dikatakan bisa jadi adalah istana pesanggrahan dari Bhre Tumapel.

“Maka ya boleh-boleh saja ada hipotesa bahwa Situs Kumitir adalah Istana Pesanggrahan dari Bhre Wengker. Seingat saya, dalam kitab Negara Kertagama diuraikan juga posisi dari istana pesanggrahan para raja bawahan bergelar Bhre itu,” ujar Deddy.

Istana Sri Kertabhumi

Sebagai alternatif dan memperkaya wacana, Deddy menuturkan jika dirinya juga mempunyai hipotesa.

Menurutnya Situs Kumitir diperkirakan adalah Istana Sri Kertabhumi (raja ke-12, dikenal dalam cerita rakyat sebagai Brawijaya-V).

Yang pernah digempur oleh Bhre Dhaha seperti diceritakan pada prasasti Jiyu. Dan kemudian berusaha direbut kembali oleh Raden Patah (putra Sri Kertabhumi) dari Demak Bintara.

“Pukulan balik dari Demak itu membuat Bhre Dhaha yang bergelar Sri Girindrawardhana Dyah Ranawijaya memindahkan ibukota Majapahit ke wilayah Dhahanapura. Dan Trowulan dikuasai Demak dengan menempatkan pejabat yang dalam kronik China bernama Nyoo Lay Wa,” terang Deddy.

Deddy mengungkapkan, kronik China adalah berita yang ditulis oleh pedagang China dan terdokumentasi di Klenteng Sam Po Kong Semarang dan menjadi catatan sejarah komunitas itu.

Lebih jauh pria yang juga Owner Wilwatikta Online Museum ini menjelaskan, pola kehancuran dan lokasinya yang segaris dengan arah serangan Bhre Dhaha ke Trowulan. Yang diperkirakan turun dari wilayah Jabung.

Adapun dasar hipotesa adalah Prasasti Jiyu menjelaskan serangan itu. Sebaran inskripsi atau tanda pada batu yang menandai kehadiran Dyah Ranawijaya banyak tersebar dari Pacet, Mojosari dan sekitarnya.

Uji Akademik

Guna memberikan penjelasan secara rasional dan keilmuan, maka Deddy mengungkapkan, akan diadakan uji akademik dalam Minggu ini.

“Belum diuji akademis, minggu ini sepertinya. Prinsipnya obyektif saja dengan derajat sama, dan mungkin ada masukan lain dari masyarakat boleh saja asal ada sandarannya,” papar pria alumnus SMAN 7 Surabaya ini.

Deddy mengungkapkan, saat ini pihaknya menunggu laporan dari BPCB Jatim.

“Biasanya ada tim kajian dari Kemendikbud RI Direktorat Kebudayaan. Uji akademis melibatkan universitas yang punya jurusan sejarah dan ahli,” urai Deddy.

Deddy menjelaskan, ironisnya saat ini Situs Kumitir belum menjadi Cagar Budaya.

Deddy menuturkan, status lahan milik masyarakat, dan terletak diluar KCBN Trowulan. Ia menuturkan, harusnya segera dilindungi dan ditetapkan sebagai cagar budaya melihat temuan sudah masif.

“Kalau uji akademis cuma merunut sejarah lokasi dan situsnya, penetapan cagar budaya punya prosedur yang beda lagi. Tapi karena pelaku ekskavasinya adalah BPCB JATIM, maka seharusnya catatan laporan itu juga jadi dasar penetapannya,” pungkas Deddy. (had/red)