Menelusuri Jejak Ali Kalora, Peran Uighur dalam MIT dan Terorisme di Indonesia (2)

Foto: Dr. Amir Mahmud, S.Sos.,M.Ag. Direktur Amir Institue.(ist)

BACAMALANG.COM – Peristiwa pembantaian yamg menewaskan 4 orang di Desa Lembatongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulteng, Jumat (27/11/2020) oleh Kelompok Teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora menggemparkan tanah air.

Kepala (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) BNPT, Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, Satgas Tinombala berhasil melumpuhkan sebagian anggota teroris dan terus memburu Ali Kalora cs.

Berikut hasil wawancara dengan Direktur Amir Institue Dr. Amir Mahmud, S.Sos.,M.Ag. mengupas tentang penelusuran jejak Ali Kalora, peran Uighur dalam MIT dan Terorisme di Indonesia.

8. Khusus di Indonesia, jika isu Uighur ini terus dikembangkan dan berhasil meningkatkan sentimen anti China, prediksinya apa yang akan terjadi?

Kejadian 98 bisa saja terjadi kalau kepekaan kurang. Apalagi saat ini konteks Pemerintahan dinilai berkiblat ke China. Saya S1 Politik jadi mengenal peta geo Politik. Pemerintah harus reaktif membendung berbagai isu negatif apalagi Indonesia mayorias penduduk beragama Islam. Islam radikal cenderung menggoreng isu China. Saya ngomong berdasar data empiris. Sering saat Saya bicara di seminar ada SMS usil menuduh otak saya sudah membela China dan murtad. Saya berani berdebat dan beragumentasi berbasis data. Terkait gambar di google (penyiksaan) ada dugaan bukan dibuat di China tapi rekayasa AS.

9. AS terlihat bermain dalam kasus ini, tanggal 6 Oktober 2020 AS secara terbuka menghapus Gerakan Islam Turkistan Timur (ETIM) yang jelas-jelas “musuh abadi” China dari daftar organisasi teroris? Bagaimana tanggapan Anda?

Tanggal 6 Oktober 2020 Amerika menghapus gerakan separatis Turki (Turki timur) yang anti China. Gerakan Turki ini anti China. AS memberi statemen tahun 2013 bahwa ini gerakan terorisme, termasuk negara Saudi Arabia, Tajikistan, dan Malaysia. Namun justru kenapa sekarang dicabut dari daftar terorisme. Dengan alasan AS, data yang dipublish China tidak memenuhi syarat. Dulu kenapa AS menghapus, ini kan standar ganda. Ternyata AS banyak “bermain” di negara mayoritas muslim. Eropa bagi AS, gak ngefek. Kantong-kantong Amerika banyak di berbagai negara muslim.

10. Lepasnya ETIM dari daftar organisasi teroris apakah memungkinkan kelompok
ini menjalin hubungan dengan JAD atau MIT di Indonesia?

Mereka ETIM punya cara berkomunikasi dengan teroris Indonesia, mereka menempuh cara bagaimana di Indonesia bisa diterima. Mereka berkomunikasi dengan cara pakai HP. Ada aplikasi tertentu. Ketika Kita membuka ada sandi. Dan tidak bisa/ sulit dilacak dan dibuka pihak lain.

11. Melihat kasus di atas, apakah menurut Anda AS berperan dalam gerakan kontra terorisme di Indonesia?

AS punya kepentingan kontra terorisme di Indonesia. Osamah super silent saja bisa terdeteksi. Apalagi hanya masalah kaunter ini mudah bagi AS. Untungnya Indonesia pencegahan sudah ada dengan Soft Approach. Bahkan dunia heran melihat Indonesia terbelalak. Bagaimana Indonesia bisa melakukannya, termasuk AS. Indonesia diperhitungkan, karena penduduk muslim banyak.

12. Apa Pesan dan himbauan Anda?

Kita harus membuka mata membaca fenomena pergerakan yang ada bagaimana isu yang dipakai di dunia internasional. Uighur bukan kejahatan Nasionalsitik, tapi sudah memainkan hal -hal yang ekstrim yakni ideologi dan agama. Bangsa Indonesia cerdas. Kita harus memahami jalur-jalur yang dimasuki teroris yang menciptakan perpecahan. Inti ideologi ekstrim itu pertama jadikan klonflik dulu, lalu chaos. Maka mudah runtuh. Mari Kita bersatu. Tidak memilah suku, etnis dan agama. Karena kalau sudah hancur Kita baru menyesal. Lihat Suriah yang dimainkan AS dengan isu perlawanan Syiah dan Sunni (pembantaian Sunni) ini dimainkan media internasional. Sekarang mau beli susu bayi, dan makanan sulit. Mari Kita jaga persatuan dan kesatuan. Ini perlu penyamaan persepsi.

13. Bagaimana kerjasama dengan luar negeri dalam memberantas terorisme?

Sinergi tanggulangi terorisme yang penting mungkin intelijen. Kalau lain-lain (peralatan) sudah. Sekarang sudah dilakukan. Bantuan luar negeri sah-sah saja. Indonesia selama ini belum minta bantuan. Beberapa tahun lalu diberi bantuan Australia penanganan bom Bali. Anggaran yang dipakai RI dipakai menjalankan Soft Approach seperti deradikalisasi, dan pencegahan (membendung). Indonesia tidak butuh bantuan luar negeri menangani terorisme. Kunci Soft Approach adalah dua yakni Rehabilitasi dan Preventif. Dunia berdecak kagum akan hal ini. Saya membaca persoalan anak bangsa. Saya bukan orang Pemerintah. Saya lihat penanganan Densus 88 tidak ada kekerasan. Kalaupun ada mungkin personal saja. Saya lihat Densus 88 hari ini tidak melakukan dengan brutal. Dulu, terkesan keras. Saya bertemu pucuk pimpinan Densus. Berdialog, melakukan pertemuan, dan kadang bertanya. Saya cek Apa benar penanganan represif. Mereka menjelaskan dengan gamblang/detail. Saya masak meragukan keterangan mereka. Saya kan punya ukuran juga. Selama ini terbuka. Hari ini saya mengetahui berbagai peristiwa penangkapan teroris itu melalui media. Banyak berita di media yang kurang pas. Namun setelah saya cross check ke orang Densus, tidak seperti itu.

14. Apa pesan Anda terkait terorisme, deradikalisasi dan persatuan bangsa ?

Saya mengajak marilah pemahaman keagamaan Kita diiringi dengan pemahaman wawasan kebangsaan. Jika tidak akan muncul intoleransi. Karena terkait ideologi Pancasila saya kira sudah selesai dan final. Tidak ada lagi yang perlu dipertentangkan. Founding father sudah mengakomodir semua hal penting. Itulah Pancasila. Mampukah Kita membendung arus ideologi global?. Itu tergantung Kita. Pancasila sudah jelas. Sila pertama terkandung nilai religius yang di negara lain tidak ada. Sudah mengayomi seluruh hajat hidup orang banyak. Jangan ada kesan minoritas mayoritas. Jangan melulu membahas hal-hal perlawanan, Kita tarik evaluasi. Untuk bersatu maju bersama. (*/had)