Cara Unik Lindungi Dari Covid-19, Warga Sidoasri Sumawe Gelar Ritual dan Kenakan Gelang Kulit Kayu Gendong

Foto : Warga lakukan isolasi wilayah. (ist)

BACAMALANG.COM – Untuk perlindungan dari Virus Covid-19, warga Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kabupaten Malang menggelar ritual khusus dan mengenakan gelang kulit Kayu Gendong.

“Kulit kayu ini bisa dipakai untuk penyembuhan berbagai macam penyakit. Jika memakai gelang dari kulit kayu gendong ini selama dua bulan saja, semua penyakit yang ada di tubuh akan hilang,” terang tokoh masyarakat Desa Sriminto, Rabu (15/4/2020).

Seperti diketahui, berbagai cara dilakukan oleh masyarakat di seluruh Indonesia untuk memerangi virus Corona yang mewabah saat ini.

Mereka berjuang dengan cara mereka masing-masing mencegah penularan penyakit pernapasan yang sedang marak tersebut.

Salah satu cara unik seperti yang dilakukan oleh sebagian warga di Desa Sidoasri, Kecamatan Sumawe, Kabupaten Malang.

Selain Pemerintah Desa berpenduduk 5000 jiwa ini sudah melakukan social distancing, physical standing, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hingga lockdown, ada juga sebagian warga di desa pesisir pantai ini masih melestarikan warisan leluhur nenek moyang.

Foto : Sriminto kenakan gelang kulit. (ist)

Warga menggelar ritual dengan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan sang pencipta semesta alam, dan ada diantaranya juga mengenakan gelang dari kulit kayu jenis gendong yang didapatkan dari kawasan hutan sekitar.

Petugas Linmas Desa Sidoasri Sriadi mengatakan, kulit kayu gendong dipercayai oleh sebagian warga sebagai penolak wabah.

“Oleh orang-orang terdahulu, kulit kayu gendong ini untuk kalung hewan yang terserang penyakit. Dengan dikalungi kulit kayu ini, penyakit pada hewan itu akan hilang dengan sendirinya. Karena itu, dalam kondisi seperti ini, kulit kayu ini dipakai sebagai gelang oleh banyak warga. Kami berharap, virus Corona ini tidak menyebar luas,” urai Sriadi.

Sementara itu, Kepala Desa Sidoasri Andiek Ismanto mengatakan, pemakaian kulit kayu gendong itu merupakan kearifan lokal yang dihidupkan kembali.

Mereka meyakini, dengan mengenakan kulit kayu tersebut dan berkat pertolongan Tuhan pencipta semesta alam, kampung mereka akan terbebas dari penyakit.

Dikatakannya, sejak merebaknya Covid-19 ini pihaknya sudah menugaskan perangkat desa dan Linmas untuk standby di pintu masuk desa.

“Kami menetapkan piket selama 24 jam dengan sistem shift termasuk persiapan obat untuk penanggulangan virus Corona ini,” ujar Andiek.

Ia mengatakan, dalam kesehariannya, di Desa Sidoasri dilintasi warga yang kebanyakan asal luar daerah.

“Tujuan penjagaan di pintu masuk desa ini, kami tidak menginginkan warga kami terinveksi virus ini,” terangnya.

Tidak kalah pentingnya, Kades juga melarang masuk pihak-pihak yang mengakibatkan kerumunan massa.

Seperti, wisatawan, debt colector, bank titil, leasing dan koperasi. Ada sebagian pihak berkepentingan yang diperbolehkan masuk seperti, bakul sayur, sales kebutuhan rumah tangga atau warung.

“Kami mohon kesadaran kepada semua pihak yang berkepentingan diupayakan tidak menciptakan kerumunan, selama kondisi seperti ini,” pungkas Andiek. (had)