Tidak Bisa Bayar Angsuran, Puluhan Nasabah BTPN Syariah Padati Kantor Advokat di Kota Batu

Foto : Suasana kantor Hukum Rastra Yustisia & Associates. (ist)

BACAMALANG.COM – Setelah puluhan orang nasabah PT. Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera atau Mekar bertandang ke Kantor Advokat Rastra Yustisia & Associates yang beralamat di jalan Kapten Ibnu Kota Batu minta bantuan hukum, kini giliran puluhan orang lainnya menyusul dan memadati kantor anggota Peradi Malang Raya tersebut.

“Hari ini kami cukup prihatin, berpuluh orang datang silih berganti datang ke kantor kami dengan beragam permasalahan yang hampir semuanya sama yaitu tentang pembayaran cicilan yang tertunggak akibat dampak Covid-19,” ungkap Ketua Bidang Humas Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Malang Suwito di kantornya, Selasa (15/4/2020).

Menurutnya, masyarakat yang datang ke kantornya sejak kemarin beragam. “Jika kemarin masyarakat mengeluh perbuatan Koperasi yang berpraktek rentenir, Lembaga Keuangan kendaraan bermotor atau leasing, PT. PNM Mekar, kini bertambah, yaitu dari Bank BTPN Syariah,” katanya.

BTPN Syariah ini, kata dia, adalah anak perusahaan BTPN, dengan kepemilikan saham 70% dan merupakan bank syariah ke- 12 di Indonesia.

“Bank ini, beroperasi berdasarkan prinsip inklusi keuangan dengan menyediakan produk dan jasa keuangan kepada masyarakat terpencil yang belum terjangkau serta segmen masyarakat pra sejahtera,” ungkapnya.

Foto : Suwito saat melayani nasabah BTPN Syariah. (ist)

Selain menyediakan akses layanan keuangan kepada masyarakat tersebut, kata dia, BTPN Syariah juga menyediakan pelatihan keuangan sederhana untuk membantu mata pencaharian nasabahnya agar dapat terus berlanjut serta membina masyarakat yang lebih sehat melalui program dayanya.

“Saat ini, kami masih belum memahami apa sebab BTPN Syariah beroperasi tidak ubahnya seperti PT. PNM Mekar, dimana dalam penagihannya walau tidak memaksa tetapi cara – cara menagih terhadap nasabah benar – benar membuat nasabah merasa tidak nyaman dan tidak menyenangkan.

Perbuatan itu meliputi, menunggu di rumah berjam-jam, terus melakukan penagihan dengan kata yang diulang –ulang membosankan dengan tujuan agar nasabah lekas membayar kewajibannya kepada BTPN Syariah yang bagi nasabah yang terdampak tidak langsung Covid–19 tersebut sangatlah berat.

Dikatakannya, jangankan untuk membayar angsuran, untuk makan dan beli kuota Internet yang dipergunakan mengerjakan tugas sekolah anak –anak mereka secara online saja kesulitan.

Karena usaha mereka adalah usaha mikro dimana usaha kecil tersebut terdampak langsung maupun tidak langsung akibat virus Covid–19.

Maka dalam hal ini, pihaknya akan segera menempuh jalur hukum untuk melindungi masyarakat Kota Batu dari para pemegang saham mayoritas Bank BTPN Syariah tersebut.

“Langkah pertama kami akan bersurat kepada Bank BTPN Syariah untuk memohon penangguhan pembayaran. Bahkan restrukturisasi kredit klien kami. Karena klien kami ini bukan profil nasabah yang nakal, mereka tidak bisa membayar angsuran karena usaha mereka benar – benar sepi dan tidak menghasilkan apapun,” pungkas Suwito. (hum/had)