The Commander of Grindcore : Napak Tilas Bangkai Band dari Terbentuk Tahun 1994 hingga Sekarang

Foto: dari kiri, Pink, Tatok, Erwan 'Stench', Susianto, Andry. (ist)

BACAMALANG.COM – Kota Malang di era 90-an dikenal identik dengan musik cadas dan ekstrem seperti death metal, black metal, punk hingga grindcore. Berbagai genre undreground ini pula yang menjadi sarapan muda – mudi Kota Malang waktu itu. Bahkan fenomena ini juga diiringi dengan lahirnya band-band cadas, salah satu diantaranya Bangkai Band yang menggambil genre grindcore.

Bahkan, sejarah mencatat bahwa Bangkai adalah sebuah band grindcore yang masih konsisten di jalur musik underground hingga saat ini. Saat Bangkai lahir tahun 1994 waktu itu, di Malang masih musim premanisne dan gangster. Embrio Bangkai sendiri berawal dari band kelas yang bernama Primitive Symphony yang terbentuk di tahun 1992. Pada awal tahun berdiri, Primitive Symphony sendiri memiliki prestasi sebagai juara festival musik yang diadakan oleh GEMMA (Gerakan Musisi Muda Malang).

“Unsur kemenangan itu bukan dari apa – apa, tapi karena sama-sama kita tidak sadar dan aku obit (obit adalah bahasa malangan yang di balik menjadi tibo atau terjatuh) di fikir itu atraksi. Jadi waktu itu aku tidak sadar diri pegang mic macam jim morrison, terus tersandung, difikir mirip Jim Morrison (vokalis The Doors.red) juga. Akhirnya juara 1 dan juara favorit,” ujar Andry Bejo, salah satu inisiator terbentuknya Bangkai Band saat ditemui di warkop KPKN daerah Sekarpuro, Pakis, Malang.

Andry Bejo yang waktu itu sebagai Vokalis menjelaskan, usia Primitive Symphony memang tak berlangsung lama. Hal ini terjadi usai dirinya mundur dari Primitive Symphony dengan dikuti oleh 3 personil lama lainnya seperti Tatok (Gitar), Susianto (Drum) dan Imam alias Erwan “stench” (Gitar). Namun karena ketiganya memiliki misi yang sama, akhirnya terbentuklah Bangkai Band di tahun 1994. Musiknya banyak dipengaruhi oleh Napalm Death, Terrorizer, Brutal Truth, Discharge, Repulsion, Black Flag, dan Dead Kennedy. Untuk memaksimalkan laju gerinda bermusik Bangkai Band, gabunglah Pink pada tahun 1995 yang mengisi posisi bass hingga saat ini.

“Nah, waktu itu aku masih megang vocal sama bass. Seiring berjalannya waktu dengan saya mengisi vocal dan bass, rasanya kurang maksimal bermusiknya, akhirnya aku narik Pink. “pungkas pria lulusan Smpn 5 Ngantang tersebut.

Foto: dari kiri, Puguh, Dhandit, Kendat, Andry, Pink. (ist)

Bisa dikatakan Bangkai adalah band underground yang paling tua usianya dan masih eksis sampai sekarang di kota Malang bahkan Indonesia. Mereka boleh dipanggil kakak, bahkan paman, bagi band-band muda saat ini. Tentunya paman yang keren, karena masih suka musik keras.

Seiring berjalannya waktu, Bangkai Band pun seringkali muncul megikuti festival musik. Salah satunya yang menjadi momen kenanagan ada saat tampil di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang di tahun 1996.

“Di jaman itu, kami mempunyai ciri khas karena sering mengelabuhi panitia festival dengan membawakan lagu nuansa Grindcore. Yang paling kita igat waktu itu adalah penonton di posisi depan panggung sepi, bahkan hampir tidak ada penonton. Nah begitu aku menyebut lagu dari Dewa, penonton cewek cowok pada merapat. Tapi begitu tau lagu yang kita bawakan dari Napalm Death yang berjudul Ai Abstain, penonton pada semburat (bubar), tapi itu juga jadi moment penting. Akhirnya, ketika hari ini aku bertemu band musisi yang di era dulu, sering di bilang; band gendeng iki senengane ngakali panitia, ngakune band pop tibakno grindcore-an,” ujar Andri Bejo.

Andri Bejo menambahkan, Bangkai Band pertama tampil di event underground yakni pada tanggal 28 Juli tahun 1996 dalam Parade Musik Underground yang di gelar oleh TSC (Total Suffer Community) yang diselenggarakan di Gedung Sasana Asih YPAC. Event inilah yang sekaligus menjadi cikal bakal perkembangan acara musik grauk atau parade musik cadas di Malang Raya.

“Bangkai pertama kali main di PMU (Parade Musik Underground) yang digelar di YPAC tahun 1996. Jadi PMU pertama dan kedua kita ikut semua. Waktu itu ada Trauma, Slow Death, Fisection, Sinner Surabaya,” imbuhnya.

Satu tahun berselang, Bangkai mengeluarkan full album perdananya tahun 1997 yang di produseri oleh Mas Agung Centra Music Studio. Pasca keluarnya album ini Bangkai juga menunjukkan eksistensi bermusiknya dengan tampil di Event Granat yang berlangsung Universitas Udaya tahun 1998 setelah keluar album For W.H.A.T tahun 1997.

“Bangkai waktu itu di produseri Mas Agung, dia yang mengelola Centra Music Studio di Jalan Trunojoyo (depan Bioskop Patimura). Jadi Mas Agung waktu itu banyak pilihan band-band untuk diajak rekaman, dan pada akhirnya yang dipilih adalah Bangkai. Mas Agung sendiri itu orang era glam rock macam Motley crue, Poison, Last rockid dan lain-lain. Kita juga sempat di tawari label rekaman dari Amerika dan Perancis hingga tour Eropa, karena faktor tida bisa bahasa inggris waktu itu dan masih tidak ada Google Translate, Bangkai pun men-skip tawaran itu,” terangnya.

Dalam perjalanannya waktu itu, memang banyak lika-liku yang dialami Bangkai Band. Salah satunya pernah ditawari rekaman oleh label rekaman luar negeri Razorback dan Osmos. “Tapi karena kita kembali lagi, alasannya klasik gak iso boso enggres kita enggak berani kesana. Kalau Razorback itu Amerika, kalau Osmos itu di Perancis. Pernah juga ditawari tour eropa waktu itu, tapi kita belum serius; iki temenan ta ora, wedi jenenge arek Old Side Ngalam harre. Old side in branding of New york wkwk, “ujar Andri Bejo dengan candaan khasnya.

Para personil Bangkai Band ini ternyata sempat berada di titik jenuh dan vakum tahun 2001. Namun pada akhirnya bangkit kembali dengan penambahan personil dari Extreme Decay dan Hyperblast. Kemudian keluarlah album Emotional Comform yang diproduseri oleh Oox Sinergi Nation.

“Sampai suatu ketika kita pada jenuh semua, Tatok lulus dari kuliah dia jadi Lawyer, Susianto juga berumah tangga. Nah sampai akhirnya yang bertahan hanya saya, Pink dan Imam yang bertahan di Bangkai waktu itu. Waktu era si Tatok dan Susianto keluar, Bangkai vakum banget. Akhirnya sampai suatu ketika hanya Aku dan Pink saja. Kita setelah itu ada penambahan dua personil, Eko Plokoto (Extreme Decay) dan Zainul (Hyper Blast). Dan Imam setelah itu kembali lagi ke Bangkai, dan akhirnya keluarlah album Emotional Comfrom tahun 2002. Semua recording dilakukan di Natural Studio Surabaya. Dan tahun 2017 kembali merilis album ketiga yang berjudul Re-emotional Comform yang digarap juga oleh Oox Sinergi Nation. Kita juga pernah ikut kompilasi Brutally Sickness, Fallen Angel, Tribute to Terrorizer” paparnya.

Di tahun 2020 ini, Bangkai mencoba hadir dengan formasi personil yang siap menggempur benteng gendang telinga dengan bumbu pesan sosial melalui dentuman alunan musik gerindanya. Formasinya yakni Andry bejo (Vokal), Pink (Bass), Puguh (Gitar), Dhandit (Drum) dan Kendat (Gitar).

Bangkai berharap, semangat bermusik di Malang tetap bergairah dan terus berkarya di jalur musik yang di tempuh dan bisa menjadikan masa – masa yang kelam berubah menjadi lebih baik. “Harapan Bangkai bisa memberikan kontribusi kepada anak-anak Malang, mungkin dengan musik bia memberi contoh seusia kita masih grincore, masih semangan main musik, biar anak-anak muda tidak patah semangat dan tetap berkarya. Malang hari ini iklim bermusiknya mulai surut, entah karena keadaan Covid atau bagaimana, tapi sebelum covid gairah bermusiknya juga sudah mulai turun,” ujar Andry Bejo.

Sementara itu, Pink menambahkan jika citra musik dibuat untuk mengalahkan yang kecendrungan hal negative. Melalui musik, pemikiran secara benar itu muncul terus-menerus. “Karena aku dulu yang preman banget, di tulung Heri Bedes mengenal musik Underground mungkin masih di Lowokdoro aku wkwkwk. Supaya bisa menggantikan masa-masa yang kelam, yang kurang bener bisa larut dalam musik tersebut. Jadi minimal memberi semangat inilah, nggak mabuk, tua nggregretno, pancet gila, penggaweane ke masjid (Andry, red.). Syukur-syukur bisa menginspirasi, karena di musik kan ada nada, ada lirik. Meskipun cuma mendengarkan saja, kalau bisa menghayati lirik – liriknya, kan bisa ketemu. Kita harus apa, kita mau apa, kita mau bagaimana, kadang hal simple di buat susah” ujar mantan freeman Embong Brantas yang disambung oleh mantan freeman Mbareng ini. (far/red)