Beternak Kelinci Holland Lop, Dian: Dibutuhkan Kesabaran Ekstra

Eko Sabdianto, breeder kelinci Holland Lop, saat tengah mengecek pertumbuhan bayi kelinci. (Yog).

BACAMALANG- Beternak kelinci sangat dibutuhkan ketelatenan, dan kesabaran yang ekstra. Pasalnya, produktifitas kelinci dari setelah lahir dan siap dijual berumur 2,5 bulan, atau lebih tepatnya sudah siap sapih yang tidak menyusui induknya lagi.

Setidaknya hal itu seperti yang diungkapkan Eko Sabdianto, breeder kelinci hias jenis Holland Lop, yang berlokasi di Jalan Kelud, Gang Punden, RT 2, RW 11, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu.

Menurutnya, beternak kelinci memanglah sangat menguntungkan, akan tetapi juga membutuhkan kesabaran, atau lebih tepatnya kesabaran ekstra.

“Karena kita belum bisa menikmati hasilnya hingga beternak setidaknya 4 bulan, bahkan setengah tahun. Karena kelinci bisa dipanen biasanya di usia 2,5 bulan-3 bulan, khususnya untuk kelinci jenis Holland Lop. Pada usia itu, kelinci sudah siap untuk dijual,” kata Dian sapaan akrabnya, pada Sabtu (15/1/2021) di sela-sela kesibukannya membersihkan kandang kelinci.

Pemilik farm KWB Rabbitry ini menjelaskan, sebelum kelinci berumur 4-5 bulan, peternak harus “puasa” tidak mendapat pemasukan. Karena masa birahi kelinci berumur 4-5 bulan, atau setelah moulting baru bisa dikawinkan.

“Jadi pada periode ini, pembudidaya pemula mesti belajar memperlajari kebutuhan kelinci, pengelolaan kandang dan mengobati penyakit-penyakit yang sering kali datang seperti: scabies, mencret dan kembung, terlebih pada musim penghujan seperti saat ini,” terang dia.

Lalu kemudian, lanjut Dian, belum lagi manakala ketika kelinci indukan hamil, maka seorang breder harus belajar mengurus persalinan. “Ini yang perlu sekali diperhatikan bagi breeder pemula, yang harus menyediakan nestbox atau kotak melahirkan, tujuannya agar si induk kelinci selalu merasa nyaman dan tidak setres, sampai bayi kelinci lahir,” ujarnya.

Kesabaran breeder bakal diuji, manakala terjadi banyak angka kematian, baik kepada bayi yang dilahirkan, kelinci sapihan atau malah induknya sendiri.
Alhasil, beberapa peternak kemudian merasa putus asa begitu melihat beberapa kelinci peliharaanya sakit parah yang tak kunjung sembuh, dan pada akhirnya mati.

“Terus terang, saya sendiri pernah putus asa di fase ini lantaran banyak kelinci yang terserang scabies parah dan memutuskan untuk menjual semuanya. Tapi saya berubah pikiran begitu melihat salah satu indukan melahirkan 4 ekor bayi kelinci yang lucu, dan semuanya terlahir dengan selamat. Jadi, itulah titik ketika saya memutuskan lanjut beternak, apapun yang terjadi,” ungkap dia.

Situasi membaik ketika breeder mulai panen. Terlebih untuk seekor kelinci anakan Holland Lop kualitas show sapihan berumur 2,5 bulan miliknya laku terjual Rp 2,5 juta, untuk betina usia 4 bulan Rp 4 juta.

“Pengeluaran biaya pakan otomatis bakal tertutupi, jika kita beternak dalam jumlah yang lumayan banyak, maka dapat dipastikan kebutuhan hidup breeder juga ikut tercover,” bebernya.

Dian juga menyarankan, bagi peternak pemula agar memelihara kelinci secara bertahap. “Jadi jangan langsung banyak, karena untuk menghindari kerugian di fase 6 bulan awal, indukanpun silahkan diperbanyak pelan-pelan setelah keterampilan dan keahlian merawat kelinci terkuasai. Jika semua berjalan lancar, 4 bulan kemudian kita berpotensi mendapatkan penghasilan bulanan sesuai target,” pungkas dia.

Menyiapkan Nestbox Tempat Persalinan Kelinci

Salah satu momen paling krusial kelinci adalah saat melahirkan. Saat memulai beternak pada 2014 yang lalu, dirinya belum tahu apa kebutuhan kelinci menjelang dan saat akan melahirkan, termasuk kebutuhan akan nestbox (kotak tempat persalinan) kelinci.

“Ya, waktu itu saya belum tahu, kalau ternyata masa kehamilan kelinci itu hanya berkisar 1 bulan saja, akibatnya bayi-bayi kelinci yang baru lahir berserakan di mana-mana, bahkan ada yang jatuh di bawah kandang galvanis,” ucapnya.

Karena sesuatu hal dan salah perlakuan, masih kata Dian, maka bayi-bayi kelinci itu akhirnya mati. Rata-rata karena kedinginan dan tak disusui induknya. Padahal breeding mengandalkan kelahiran sebagai tulang punggung produksi. Gagal dalam fase itu berarti gagal menjadi breeder.

“Belakangan saya tahu ternyata saat melahirkan induk kelinci membutuhkan nestbox. Di habitat aslinya, kelinci melahirkan di tempat-tempat tersembunyi, sebagian di lubang tanah yang dia buat sendiri. Jadi, kotak persalinan adalah sebagai ganti lubang persembunyian tempat kelinci mau melahirkan. Pada kotak ini, nantinya induk kelinci bakal membuat sarang dengan merontokkan bulu-bulunya dan kemudian melahirkan,” tutupnya. (Yog/zuk).