Rektor Unisma Sebut Wartawan Adalah Orang Hebat, Begini Penjelasannya

Foto: Silaturahmi PWI Malang Raya dengan Rektor Unisma. (yog)

BACAMALANG.COM – Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya menggelar silaturahmi dengan Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) Prof. Dr. H. Maskuri Bakri, M.Si, Sabtu (16/1/2021).

Dalam forum silaturahmi yang dilakukan secara daring tersebut, Maskuri sangat mengapresiasi PWI Malang Raya dibawah kepemimpinan Cahyono (Wartawan Harian Bhirawa) yang akan dilantik pada 28 Januari 2021 mendatang.

“Saya dihadapkan dengan orang-orang hebat disini. Ini Saya apresiasi Pak Ketua dengan jajarannya, karena forum yang seperti ini baru pertama kali diadakan oleh PWI Malang Raya,” tandas Rektor Unisma kelahiran Tuban ini.

Pihaknya berharap, kesempatan silaturahmi ini oleh akan membawa berkah untuk seluruh pihak. Pasalnya, baik PWI Malang Raya maupun Unisma mempunyai tujuan yang sama berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Karena niatnya untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT. Sesuai dengan kapasitas dan jalur yang berbeda tetapi tujuannya InshaAllah mulia. Tujuaannya sama, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa,” tutur Maskuri.

Ia menuturkan, momen ini menjadi titik sentral yang perlu disepakati bersama mengingat lembaga pendidikan dan media pers tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenanakan konsep pentahelix menjadi salah satu kunci untuk membangun budaya dan peradaban.

“Pentahelix adalah sinergisitas antara pendidikan tinggi, pemerintah, pengusaha, masyarakat, dan media massa. Ini tidak bisa dilihat sebelah mata, semuanya punya peran dan punya kapasitas masing-masing untuk mewujudkan Indonesia hebat, untuk mewujudkan Indonesia bermartabat dan untuk mewujudkan Indonesia maju, untuk mewujudkan Indonesia terkenal di tingkat International,” imbuh Maskuri.

Oleh karenanya, lanjut Maskuri, lembaga pendidikan seperti pendidikan di Unisma dengan media tentu memiliki spesifikasi. Hanya saja, menurut Maskuri media memiliki suatu keleluasaan, kelonggaran dan kebebasan.

“Jadi Kami dalam konteks ini punya program-program studi, tetapi media ini tidak memiliki program studi. Program studi apa saja dimiliki oleh media. Ini hebatnya media. Wes pokoknya lintas ilmu, lintas sejarah, lintas konten, lintas budaya, lintas peradaban. Iniliah orang-orang hebat dihadapan saya, jadi lintas apa saja, punya kebebasan, sebebas-bebasnya tetapi terbatas. Punya kebebasan yang terbatas, karena media masa. Saya yakin tetap memiliki etika jurnalistik,” papar Maskuri.

Maskuri memaparkan, etika jurnalistik ini dijadikan sebagai spiritnya para jurnalis. “Jadi kalau sampai jurnalistik tidak mempunyai etika akan tidak bermartabat begitu, karena Jurnalis punya etika makanya bermartabat,” jelasnya. (yga/had)