Dampak Pandemi, Aliansi Mager Sampaikan 9 Tuntutan kepada Rektor UMM

Foto: Aksi Aliansi Mahasiswa Bergerak tuntuk keringanan selama pandemi kepada Rektor UMM. (ed)

BACAMALANG.COM – Aliansi Mahasiswa Bergerak (Mager) melakukan aksi unjuk rasa di depan kampus Universitas Muhammadiyah Malang, Selasa (16/2/2020). Ada ratusan mahasiswa yang ikut dalam aksi. Mereka sempat bersitegang dengan pihak keamanan kampus dan mendobrak portal saat akan masuk ke areal kampus.

Dalam rilis yang diterima BacaMalang.com, para mahasiswa ini bermaksud untuk menyampaikan aspirasi kepada birokrasi kampus. Pada dasarnya, mereka sangat mendukung kebijakan dan program-program UMM yang berkaitan dengan kesejahteraan mahasiswa dan seluruh elemen universitas demi menjunjung tinggi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Hanya saja, beberapa waktu belakangan ini membuat mereka semua mengalami dampak berat dari wabah global yang sedang terjadi. Pandemi Covid-19 yang menimpa dunia khususnya di Indonesia, telah memberi dampak yang serius terhadap beberapa aspek seperti ekonomi, politik, sosial, ketahanan nasional bahkan aspek pendidikan. Pemerintah pusat maupun daerah telah melakukan banyak pencegahan demi meminimalisir dampak Pandemi ini.

Adapun yang paling dirasakan mereka sebagai mahasiswa, khususnya di UMM adalah kebijakan yang di ambil dalam surat edaran Universitas Muhammadiyah Malang Nomor E.6.o/080/BAA-UMM/II/2021 tentang seluruh kegiatan belajar mengajar di laksanakan secara blended learning sampai akhir Semester Genap Tahun Akademik 2020/2021. Menurut apa yang disampaikan dalam surat tersebut, perkuliahan tetap dilaksanakan secara online pada angka 2, dan juga yang dijelaskan pada angka 3 yaitu Praktik dilabotarium yang menunjang penyelesaian studi mahasiswa dilaksanakan secara offfline.

Dalam hal ini, Aliansi Mager menyoroti isi yang ada dalam angka 3 tersebut tidak dijelaskan fakultas mana saja yang melakukan praktik dilabotarium secara offline. Mereka menilai, isi dari angka 2 dan 3 tersebut jika tidak dilaksanakan secara tatap muka atau offline maka uang yang telah dibayarkan menjadi pertanyakan. Apalagi mereka tidak menggunakan fasilitas yang ada dikampus, mulai dari kelas, labotarium, air, listrik dan perangkat penunjang lainnya.

Selain itu, juga pada sekitar bulan Oktober, Mahasiswa baru yang melaksanakan PESMABA tidak semuanya melaksanakan secara offline dan mahasiswa saat ini yang melaksanakan P2KK yang dilaksakan secara online. Justru mereka disuruh membayar penuh, padahal mereka tidak mendapatkan fasilitas yang sebagaimana didapatkan seperti asrama hingga konsumsi.

Maka dari itu, mereka menuntut sejumlah ha sebagai mahasiswa kepada Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. Pertama, pemotongan SPP 50% selama pandemi. Kedua, pembebasan pembayaran SPP untuk mahasiswa yang sudah tidak mengambil mata kuliah. Ketiga, memberikan kuota gratis selama perkuliahan daring. Ke-empat, menghentikan peningkatan biaya SPP 5% per tahun. Kelima, meringankan biaya magang selama pandemi. Ke-enam, memberikan perpanjangan masa pembayaran SPP. Ketjuh, Pengembalian 50% uang P2KK dan Pesmaba mahasiswa baru dikarenakan para Mahasiswa baru tidak melaksanakan P2KK secara offline dan tidak semuanya para mahasiswa baru melaksanakan Pesmaba secara offline. Kedelapan, menghentikan pungli parkir masjid untuk mahasiswa UMM dikarenakan itu terrmasuk fasilitas dari uang SPP yang dibayarkan mahasiswa. Kesembilan, memberikan efektifitas pembelajaran selama pandemi.

Untuk diketahui, tuntutan dari Aliansi Mager ini sudah dilihat dari aspek perekonomian, dimana tentunya banyak orang tua dari para mahasiswa yang perekonomiannya tedampak. Banyak yang penghasilannya berkurang dari berdagang dikarenakan kebijakan pemerintah yang menerapkan PPKM pertengahan bulan Januari hingga diperpanjang sampai bulan Februari ini atau yang kehilangan pekerjaannya. Selain itu juga dikarenakan banyak perusahaan yang terdampak covid yang merumahkan karyawannya, seperti yang dilansir oleh cnnindonesia.com Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan akibat virus corona tembus 3,06 juta orang. Angka itu merupakan data per 27 Mei 2020. (*/yga/red)