Vaksinasi dan Trend Global Flattening Curve Covid, Picu Perbaikan Ekonomi

Foto: dr. Umar Usman MM. (ist)

BACAMALANG.COM – Meski kurva pandemi secara global menunjukkan tren penurunan (global Flattening Curve), namun semua pihak harus tetap waspada dan berperilaku antisipatif.

“Walaupun tren global Covid menurun Kita harus tetap tidak kendor waspada. Saya melihat adanya keadaan simultan yaitu adanya vaksin, menjadikan tren global menurun, penguatan mata uang, serta pertumbuhan ekonomi. Namun harus diimbangi 3T plus 5 M,” tegas Wakil Ketua Satgas Covid 19 NU Malang Raya, dr Umar Usman MM, Selasa (16/2/2021).

Tahap kedua

Sekilas info, Pemerintah akan melaksanakan vaksinasi Covid-19 tahap kedua, pada 17 Februari 2021. Diberikan bagi pekerja publik serta melanjutkan vaksinasi bagi Lansia di atas usia 60 tahun.

Program vaksinasi tahap kedua ini, diharapkan selesai Mei 2021. Total sasaran mencapai 38,5 juta orang. Terdiri dari 16,9 juta pekerja publik dan 21,5 juta Lansia.

‘’Vaksinasi diharapkan membawa multi efek positif. Ketika mereka terproteksi lewat vaksinasi, maka Kita dapat menurunkan laju virus. Otomatis mengurangi beban rumah sakit, serta membantu tenaga kesehatan,’’ kata dr Umar yang juga Ketua PC NU Kabupaten Malang ini.

Semester II Membaik

Distribusi 3 juta Vaksin Covid 19 seluruh Provinsi di Indonesia, diperkirakan akan memberikan efek positif terhadap perekonomian di semester II 2021.

Asumsi ini disampaikan berpatokan sebagian besar masyarakat di zona merah mendapatkan Vaksin. Prioritas penanganan pandemi saat ini ialah kembalinya aktivitas ekonomi normal dapat tercapai melalui distribusi vaksin serta pencegahan perluasan penularan COVID-19 yang mendorong terjadinya herd immunity.

“Dalam pemulihan di jangka panjang ini langkah pemerintah merunning dengan PPKM Mikro InshaAllah tepat, tanpa perlu mengorbankan perekonomian lebih jauh,” kata dr Umar yang juga alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.

Covid Turun, Rupiah Naik

Berdasar data di bursa efek, Rupiah menguat 15 poin ke Rp13.895 per Dollar AS pada perdagangan Selasa (16/2), yang diperkirakan ditopang penurunan kasus harian Covid-19 di dalam negeri.

Nilai tukar Rupiah berada di posisi Rp 13.895 per dolar AS di perdagangan pasar spot pada Selasa (16/2). Mata uang Garuda menguat 15 poin atau 0,11 persen dibanding Rp13.910 per dolar AS pada Senin (15/2).

Rupiah menguat dengan mayoritas mata uang Asia lainnya. Won Korea Selatan menguat 0,37 persen, baht Thailand 0,15 persen, ringgit Malaysia 0,15 persen, dan dolar Singapura 0,11 persen.

“Kasus baru harian Covid-19 menurun, surplus neraca perdagangan Indonesia Januari juga bisa membantu penguatan Rupiah. Minat pasar disokong info baik kemajuan vaksinasi Covid-19 global dan menurunnya kasus baru harian Covid-19,” jelas dr Umar.

Trend Flattening Curve

Perkembangan kasus positif Covid-19 di Indonesia dalam beberapa hari terakhir mengalami tren penurunan. Kasus kematian akibat Covid-19 juga setiap harinya mengalami penurunan yang signifikan.

Penurunan terjadi bukan hanya di Indonesia, namun di tingkat internasional juga terjadi penurunan kasus. Ini dapat terlihat dari data penurunan kasus per pekannya di Indonesia sebanyak 14 ribu kasus.

Pada pekan awal Februari terdapat 176.000 kasus dan pada pekan kedua menjadi 161.00 kasus. Data dari laman kawalcovid19.id, kasus positif Covid-19 di Indonesia pada 30 Januari 2021 mencapai angka 14.518 kasus dan setelah itu terjadi tren penurunan sampai dengan 8.844 pada 13 Februari 2021.

Kasus kematian akibat Covid-19 juga mengalami penurunan yang menggembirakan. Pada awal Februari, jumlah kematian per hari mencapai lebih dari 300 orang.

Memasuki pekan kedua, terjadi penurunan menjadi 212 orang per hari atau 31,4 persen dalam sepekan. Adapun jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia sampai dengan 14 Februari 2021 mencapai 1.217.468 kasus sejak pengumuman kasus perdana pada 2 Maret 2020.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga merilis data sejak minggu pertama Januari, kasus baru Covid-19 secara global dalam tren penurunan. Pada pekan awal Januari, jumlah kasus global sudah berada di bawah 5 juta.

Di pekan kedua turun jadi 4,7 juta infeksi dan terus turun pada pekan ketiga menjadi 4,1 juta kasus dan akhir Januari berada di bawah 4 juta yakni 3,7 juta kasus.

Sementara untuk menyelesaikan pelacakan kasus bagi 269 juta jiwa diperkirakan butuh sekitar 80.000 tracer di seluruh desa. “Saya mengapresiasi langkah Pemerintah untuk mensinergikan tracing melibatkan TNI / Polri yakni dengan melibatkan sekitar 80 ribu tracer,” pungkas dr Umar. (had)