Ajak Warga Cegah Covid-19, Ini yang Dilakukan Sosiologi FISIP UB

Foto: Kegiatan PM FISIP UB di Pekuncen Pasuruan. (ist)

BACAMALANG.COM – Lewat program Pengabdian Masyarakat (PM), Sosiologi Fisip Universitas Brawijaya (UB) mengajak warga Pekuncen Pasuruan mengantisipasi Virus Covid–19.

“Melalui program Pengabdian Masyarakat Kami mengajak warga Pekuncen Pasuruan mengantisipasi Virus Covid–19,” tandas Ketua PM Ahmad Imron Rozuli, M.Si.

Inovasi Untuk Masyarakat

Sekilas informasi, kegiatan pengabdian masyarakat merupakan suatu kegiatan yang wajib dilakukan oleh dosen sebagai wujud penerapan keilmuan masing-masing bidang, terutama dalam mencari terobosan inovatif yang mampu menjawab persoalan masyarakat.

Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang interaksi masyarakat tentu mempunyai perspektif unik dan pendekatan cukup luwes.

Pasalnya bentuk program PM yang dipelopori oleh Ahmad Imron Rozuli, M.Si dan Arief Budi Nugroho, M.Si mempunyai misi yang cukup urgentif.

Salah satu yang ditawarkan ialah kegiatan PM mengarah pada strategi pencegahan Covid-19 melalui gerakan komunitas di bidang seni, kesehatan dan peningkatan usaha mikro.

Inovatif dan Unik

Letak keunikan dari kegiatan PM ini ialah menggerakkan tingkatan kalangan berdasarkan usia, sehingga mereka minimal mampu membiasakan rutinitas kesehariannya berdasarkan pada standard protokol kesehatan yang berlaku.

Kegiatan PM ini memposisikan kalangan remaja, dewasa dan lansia mempunyai andil dalam ikut serta mencegah Covid–19, sebab jika hanya pemerintah saja yang bergerak membutuhkan suatu proses yang cukup panjang, baik dalam hal penyampaian ataupun pemahaman dari berbagai pihak.

“Oleh karena itu, kegiatan PM ini juga menghasilkan suatu video pendek yang berisikan strategi mencegah Covid-19 melalui bahasa dan perilaku lokal yang melekat pada setiap usia,” ujar Ahmad Imron Rozuli, M.Si.

Gerakan yang dimaksud dalam kegiatan PM adalah mengekspresikan suatu ide kreatifitas dari Forum Anak (FA) yang berada di Pekuncen RT 02 /RW 04 yang sejauh ini telah didampingi olehTriswantoro dan Nurnaningsih.

Forum ini merupakan tempat menampung ide-ide brilian dari generasi muda, khususnya usia 10-18 tahun, setiap bulannya mempunyai aktifitas seni tari, drama, belajar bersama, dan peduli lingkungan seperti belajar mengenal jenis tanaman dan mengetahui cara merawatnya.

Potensi inilah yang dijadikan sebagai bahasa dan simbol lokal yang menerangkan bahwa mereka mempunyai rutinitas namun tetap menerapkan standar prokotol kesehatan.

Sehingga memberikan pembelajaran pencegahan Covid–19 tidak hanya dari hal yang umum, melainkan mengamati kebiasaan perilaku sekitar yang patut diteladani dalam mencegah Covid-19.

Hasil Positif

Kegiatan yang telah dilakukan mulai bulan Juni sampai Agustus ini, diarahkan pada pencegahan Covid–19, tentunya menarik perhatian masyarakat, sebab bukan hanya unsur medis yang ditampilkan, melainkan perilaku-perilaku khas pada setiap usia.

Bagaimana para remaja, dewasa, dan lansia bisa membiasakan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari telah sesuai anjuran pemerintah, satgas, dan medis.

“Atau dengan kata lain hasil positif yang dicapai PM adalah menumbuhkan kebiasaan perilaku sehat di tengah pandemi,” ujar Arief Budi Nugroho, M.Si.

Langkah awal mencapai hasil positif ialah tim PM memberikan pemahaman pentingnya menerapkan protokol Kesehatan dan mengamati aktiftas posyandu lansia Posyandu Mawar Merah RT04 RW02.

Secara langsung aktifitas mereka telah sesuai protokol kesehatan berupa menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker dan berhati-hati beraktivitas di rumah bagi yang mempunyai anak bekerja di luar kota.

Menyalurkan Ide Kreatif

Hasil positif lainnya ialah kegiatan PM ini bisa menyalurkan ide-ide kreatifitas warga Pekuncen berupa lagu “cuci tangan enam langkah” yang diciptakan oleh Triswantoro.

“Yoooo,, ayo cuci tangan 6 langkah
“Yooo,, ayo ojok lali cuti tangan
“Njupuk sabun ditelesi njupuk banyu sing mengalir
“Nomor siji diputer-puter telapak tangane
“Nomor loro gosok panggung tangan kiwo tengen
“Nomor tellu selu-selu jari kiwo
Diteruske selo-selu jari tengen
“Nomor papat ngunci jari jari tangan
“Nomor lima puter jempol kiwo tangen
“Nomor enam pucuk driji direseki
“Yooo, ayo cuci tangan digalakno
“Yooo, ayo ojo lali urutane
“Bebas kuman anggu kabbe sekeluarga

Lagu di atas sebenarnya telah dibuat tahun 2017 ketika pencipta lagu memberi perhatian lebih terhadap kebersihan lingkungan dan tangan.

Pada saat itu, ia berpikir bahwa untuk menjaga tubuh Kita dari serangan kuman ataupun jenis virus lainnya, langkah kecil yang bisa dilakukan adalah mencuci tangan.

Begitulah yang dipikirkan oleh pencetus lagu enam langkah ini. Sehingga saat inipun lagu tersebut sangat cocok sebagai salah satu unsur mecegah penularan Covid-19.

Stimulasi Modal

Capain positif lainnya adalah tim PM memberikan stimulasi modal kepada penjahit bordir yang bisa membuat masker, kemudian masker tersebut dibagikan kepada warga yang tidak memakai masker.

Seperti kalangan tukang becak, pedagang bakso, anak jalanan, dan pedagang lainnya.

Selain itu, kegiatan PM ini juga didukung oleh kehadiran Cak dan Ning Kota Pasuruan.

Mereka memerankan dalam pembuatan video bagaimana berperilaku di tempat umum masih tetap sesuai protokol. baik dalam aktifitas nongkrong, berdiskusi, bertamu, shoping, dan aktifitas lainnya yang sesuai dengan usia mereka.

Bisa Diadopsi

Program PM bisa diadopsi untuk kawasan lain. Sebenarnya bentuk kegiatan PM tidak terlalu menganut perspektif yang cukup luas, hanya saja mengarah pada bagaimana menyampaikan pengetahuan kepada seluruh kalangan masyarakat tentang membiasakan perilaku hidup sehat melalui unsur sosial budaya lokal tanpa mengabaikan protokol kesehatan dan anjuran pemerintah.

Dengan kata lain, menyisipkan pengetahuan protokol kesehatan dalam rutinitas sosial budaya masyarakat.

“Point’ yang berpeluang diadopsi dikawasan lainya adalah bukan nama dan bentuk programnya, melainkan cara atau analogi kegiatan PM ini bisa digunakan dimana saja sesuai karakteristik sosial budaya masyarakat. ‘’ujar Koordinator Pelaksana Kegiatan Dano Purba, M.Sos.

Kegiatan PM ini didukung dan diizinkan oleh beberapa pihak yang terlibat di dalamnya, yaitu Lurah Kelurahan Pekuncen (Neneng Kurnia Rosida, S.STP, MM).

Dalam penyampaiannya ia mengatakan, agar tetap waspada dan Covid-19 tersebut merupakan sejenis Covid sebelumnya yang sudah ada sejak lama, jadi masyarakat harus mampu memilah dan memilih informasi yang tepat dan benar.

“Agar bisa menyikapi pandemi sesuai dengan anjuran pemerintah, kesehatan, satgas, dan RT/RW,” jelas Neneng Kurnia Rosida, S.STP, MM.

Harapan lainnya dilontarkan pendamping Forum Anak (Nurningsih), bahwa semoga dengan capaian yang dihasilkan berupa lagu, video, dan bagi-bagi masker setidaknya masyarakat bisa menyadari bahwa penting membiasakan hidup sehat.

“Kita hidup beriringan dengan Covid-19 harus menumbuhkan perilaku sehat, atau bahkan menjadikan hidup sehat sebagai kebudayaan bersama,” tukas Nurniningsih.

Pada kesempatan yang sama Waras sebagai salah satu perwakilan Cak Pasuruan mengatakan bahwa pemuda adalah generasi yang menjadi penentu masa depan bangsa.

“Berperilaku sehat dan berpikir produktif adalah kunci utama kalangan pemuda mencegah Covid-19,” tegas Waras.

Sehingga hidup di tengah pandemi tanpa mengurangi semangat inovasi, belajar, dan meraih prestasi sesuai bidangnya.

Semoga dengan adanya luaran dari kegiatan PM ini bisa memberikan pembelajaran untuk semua kalangan, baik pengetahuan tersirat ataupun pesan yang bisa menjadi acuan berperilaku bagi pemuda. (*/had)