Catatan Kecil, Buku POKJA: Aktivis POKJA Kota Batu Punya Selera

Foto: Pokja, buku sejarah lahirnya Kota Batu. (Eko)

Oleh: Yunanto

Acap kali menjelang HUT Kota Batu, 17 Oktober, POKJA pasti diperbincangkan kembali. Eksistensi POKJA seolah kembali mengisi ruang dan waktu di kota ini. POKJA serasa tidak terpisahkan dengan proses lahirnya sebuah kota definitif ini yang pernah berjuluk “Negeri Swiss Kecil”.

Singkatan POKJA populer sejak awal menuju kelahiran sebuah kota definitif di Kota Administratif (Kotif) Batu.

Dideklarasikan 7 September 1999, POKJA adalah singkatan dari Kelompok Kerja Peningkatan Status Kotif Batu menjadi Kota Batu.

Saya bukan anggota POKJA. Saya juga bukan wong mBatu. Kendati demikian sejumlah “pentolan” POKJA adalah sahabat karib saya. Sebut saja, antara lain, sesepuh POKJA almarhum Drs. Mashuri Abdulrochim, MM. Kumpul saya sejak almarhum masih jupen (juru penerangan), PNS Golongan II di Kantor Deppen Kabupaten Malang. Medan tugasnya di Kecamatan Batu, pada dekade 1980.

Ada pula adik-adik saya di dunia kewartawanan yang pegang peran di institusi POKJA. Saya ingat, antara lain Andrek Prana, SH., MSi (Ketua Presidum) dan Yani Andoko, SH (Koordinator Bidang Pendanaan). Keduanya mantan anggota DPRD Kota Batu.

Andrek yunior saya di koran pagi “Suara Indonesia” (1983) dan di koran sore “Surabaya Post” (1984-1987). Yani pernah kumpul dengan saya di tabloid “Jatim News”.

Ada pula sohib-sohib saya yang super aktif di POKJA. Mereka antara lain Drs. Sumiantoro (Sekjen), Imam Basuki, Slamet Hendro Kusumo, SH, Hendik Sugianto, Harijono MC, Letkol Purn. Ruslan Effendi, SH serta Drs. KH Ali Murtadlo.

Selalu Debat
Awal 2015, saya ditemui oleh almarhum Pak Huri (sapaan akrab Drs. Mashuri Abdulrochim, MM) dan Andrek Prana. Tujuan mereka, memberi saya “proyek” pembuatan (baca: penulisan) buku sejarah lahirnya Kota Batu.

Saya bersedia, tapi saya sertai catatan. Pertama, bahan-bahan tulisan harus saya dapatkan dari pelaku sejarah. Tentu, dalam hal tersebut adalah para aktivis POKJA sendiri. Tujuan saya, agar isi buku benar-benar fakta yang telah terjadi. Hal ini berkorelasi kuat dengan bobot kualitas isi buku itu, kelak.

Catatan kedua, akurasi serta bobot orisinalitas bahan tulisan plus foto-foto ilustrasi pendukungnya harus disepakati oleh tim penyusun. Pasti, tim penyusun dimaksud berada di dalam kepanitiaan pembuatan buku tersebut. Dua syarat mutlak tersebut digenapi.

Hal menarik yang saya kenang hingga kini, antar-pengurus POKJA selalu terjadi debat sengit. Perdebatan kerap berkepanjangan hanya untuk memutuskan satu topik tentang isi buku dalam satu bab saja. Padahal ada beberapa bab.

Beda pendapat wajar. Memperdebatkan beda pendapat juga hal wajar. Itu “ruh” demokrasi. Suasana memang sangat demokratis. Misal, tidak perduli almarhum Pak Huri mantan Ketua DPRD Kota Batu, jika ada yang tidak sependapat, maka Pak Huri pun didebat sengit.

Begitu pun “nasib” Andrek Prana. Meski ia Ketua Presidum Pokja dan mantan Wakil Ketua DPRD Kota Batu, tak luput dari “serbuan” debat sengit. Ada banyak lagi yang “senasib” dengan almarhum Pak Huri dan Andrek Prana.

Bahkan, tudak perduli sudah berusia purna tugas sekalipun, seperti Letkol Purn. Ruslan Effendi, SH dan Harijono MC tidak luput dari “gempuran” debat sengit.

Itulah gambaran suasana sehari-hari saat menyusun buku sejarah lahirnya Kota Batu. Saya sebagai penyunting bahan-bahan tulisan sekaligus penyusun naskah buku, merasakan atmosfir demokrasi yang luar biasa di internal pengurus dan anggota POKJA, kala itu.

Atmosfir “Seduluran”
Satu hal yang tidak mungkin saya lupakan adalah atmosfir seduluran (persaudaraan) di internal POKJA. Sungguh luar biasa. Wujud konkretnya, meskipun mereka nyaris selalu berdebat sengit, namun setelah debat selesai kembali ke atmosfir seduluran. Bercanda ria diiringi derai tawa panjang. Tak ada permusuhan, apalagi dendam.

Atmosfir seduluran sangat kuat saya rasakan selama kumpul dengan para aktifis POKJA. “Mako” (markas komando) tim penyusun buku tersebut di sebuah rumah kosong, dua lantai (lumayan besar), di Desa Sumberejo, dekat dengan destinasi wisata Songgoriti. Rumah tersebut milik almarhum Pak Huri.

Beda pendapat kemudian berdebat sengit dalam suasana yang demokratis, saya rasakan sebagai sebuah “budaya” di internal POKJA. Sungguh, “budaya” yang asyik untuk mempertajam daya nalar dan memperluas wawasan.

Proses penyusunan buku sejarah lahirnya Kota Batu berlangsung sekitar empat bulan, intensif. Setelah naskah selesai ditulis dan desain grafis pun rampung, tinggallah menuju proses cetak.

Saya ingat, Hendik Sugianto dan Imam Basuki yang mondar-mandir ke percetakan. Buku sejarah lahirnya Kota Batu berjudul POKJA Pendiri Kota Batu setebal 452 halaman, akhirnya rampung dicetak. Semoga menjadi bacaan bermanfaat, khususnya bagi generasi muda Kota Batu.

Sebagai penyunting naskah buku tersebut, ada satu hal yang tidak mungkin saya lupakan. Satu hal itu adalah, “budaya” debat dan seduluran. Kesimpulan saya benar, aktivis POKJA memang punya selera tersendiri, khas POKJA.

Dirgahayu Kota Batu, 17 Oktober 2001-17 Oktober 2020.

Catatan Redaksi: Yunanto, alumni Sekolah Tinggi Publisistik – Jakarta.