Ibu Megawati dan Cinta Ciliwung Bersih

Foto : Megawati dalam webinar HUT PDIP. (ist)

Oleh : Pietra Widiadi, Praktisi Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan

Pada tanggal 8 Januari 2021 yang lalu, dalam rangka HUT PDIP ke-48, PDIP menyelenggarakan dialog dengan para Penerima Kalpataru seluruh Indonesia dalam tema “Cinta CIliwung Bersih”

Dalam kesempatan ini, Ibu Mega yang juga merupakan penggagas Yayasan Kebun Raya Indonesia, sekaligus sebagai Ketua Yayasan, menyampaikan pesan tentang pentingnya pelestrian Sungai Ciliwung dan sekaligus dalam rangka hari Menanam Pohon Sedunia. Dalam kesempatan ini, Ibu Megawati, menyampaikan terima kasih pada penerima Kalpataru atas perjuangannya dan minta maaf belum bisa berinteraksi secara berkala.

Ibu Megawati memberikan apresiasi kepada para penerima Kapataru karena berpartisipasi pelestarian lingkungan yang dilakukan tanpa pamrih. Ini perjuangan penerima Kalpataru yang harus dicontoh oleh para kader PDIP. Untuk memberikan apresiasi ini, Ibu Megawati juga mengharapkan ada komunikasi yang secara regular, dengan membentuk semacam paguyupban penerima Kalpataru. 

Hal ini dilakukan karena Ibu, prihatin bahwa para penerima Kalpataru tidak cukup mendapatkan apresiasi, setelah mendapatkan penghargaan. Dengan demikian, maka perjuangan para penerima Kalpataru dapat didukung dan dapat disebarluaskan kepada warga masyarakat. 

Mengelola Sampah

Dicontohkan oleh Ibu Megawati, bagaimana persoalan mengelola sampah. Jadi pengelolaan sampah bukan hanya pemerintah saja yang mengatasi, tetapi seluruh warga masyarakat, karena sampah bisa memberikan dampak yang negatif pada tempat kehidupan warga masyarakat. Jadi warga masyarakat, perlu berinisiatif dan melakukan upaya-upaya mengelola sampah, bukan hanya membersihkan sampah saja.

Keprihatian Ibu Megawati, juga menyampaikan bahwa rasa dari kehidupannya masyarakat semakin tumpul dengan tidak mengajarkan hal-hal yang peduli dalam lingkungan, seperti bagaimana membuang (mengelola) sampah.

Selain itu, kurang ada getaran untuk memperjuangkan kehidupan Kita sendiri. Maka perjuangan penerima Kalpataru adalah pahlawan tanpa bintang yang patut dicontoh, ditiru sehingga pelestarian bisa dilakukan.

Pesan juga disampaikan kepada peserta dari kader PDIP, terutama yang menjadi anggota DPR/DPRD supaya meneladani para penerima Kalpataru. Berjuang tanpa pamrih, berjuang tidak mengharapkan bintang. Sehingga kader PDIP tidak berpolitik dan tidak hanya membangun karier tapi harus menyatu dengan masyarakat, hidup bersama masyarakat dan mendengarkan apa yang mereka harapkan dan yang bisa didukung. 

Anggota DPR/DPRD seharusnya mencontoh para penerima kalpataru, dengan kesabaran dan upaya memperbaiki lingkungan, seperti penerima Kalpataru yang melestarikan Penyu, melestarikan ketersediaan air, melestarikan Bakau.

Jepang Mengelola Sampah

Pada kesempatan lain, sebelumnya Ibu Mega mendorong Pak Jokowi, Pak Ahok, Pak Jarot pada masa menjadi Gubernur untuk memberikan perlindungan dan pelestarian Ciliwung. Dorongan ini dilakukan dengan memberikan contoh perilaku warga Jepang dalam mengelola sampah. Dalam hal ini perilaku warga Jepang yang sangat perhatian terhadap pengelolaan sampah. Sampah harus berhenti di rumah, sampah dipilah-dipilah dulu di rumah sehingga mengurangi sampah sejak dari rumah.

Bagaimana menggerakkan hati Kita seperti itu, kalau sudah banjir maka saling menyalahkan. Hal ini, sebenarnya dilakukan oleh para penerima Kalpataru untuk melestarikan lingkungan hidup. Mereka berjuang untuk pelestarian alam dan lingkungan hidup. Mengusahakan kehidupan warga yang lebih baik dengan menyediakan air.

Lebih dari itu, Pemerintah harus membelajarkan kembali kebersihan di sekitar kehidupannya, di lingkungannya. Hal ini memberikan upaya membangun kesehatan, dengan ketersediaan air yang cukup. Tapi air tidak datang dengan sendirinya. Jangan sampai lautan diobrak-abrik, karena masalah benur, seperti benur Lobster yang bentuknya sangat kecil. Dan karena uang, Kita berikan pada orang lain.

Keprihatinan ini, mendorong ibu Mega mendialogkan tentang “Cinta Ciliwung bersih” dengan para penerima Kalpataru. Jangan sampai di Sungai Ciliwung, sampah bertumpuk berton-ton. Dengan keprihatinan ini dalam HUT PDIP ke-48, dalam menyemangati setiap insan masyarakat, terutama para Kader PDIP, Ibu Megawati mengharap mengundang para Penerima Kalpataru.

Dialog 3 Penerima Kalpataru

Dan dalam webinar ini, dengan teman Cinta CIliwung Bersih, mengundang 3 penerima Kalpataru yang berkarya di DAS CIliwing, yaitu Abah Idin, Abah Jatmika dan kelompok Mat Peci (Masyarakat Pecinta CIliwung) yang dikembangkan oleh Babeh Usaman Firdaus untuk membagikan pengalamannya dalam mengelola DAS Ciliwung.

Chaerudin alias Bang Idin berhasil menghijaukan kembali bantaran Sungai Pesanggrahan di kawasan Karang Tengah, Jakarta Selatan, yang sebelumnya tercemar akibat sampah. Sungai Pesanggrahan yang di sepanjang bibirnya ditumbuhi antara lain pohon Bambu, Sukun, Melinjo, Rambutan, Tanjung, Belimbing Wuluh, atau Nangka, yang merupakan hasil kerja keras Bang Idin setidaknya dalam 15 tahun terakhir.

Jatmika penyelamat Lingkungan – 2015. Dari berhasil melestarikan lingkungan, dengan menanam Bambu sepanjang 11 kilometer di sepanjang sungai Ciliwung, dari belakang kantor PDAM Tirta Kahuripan hingga Kali beradu yang terletak di Kampung Poncol, Kecamatan Cibinong. Awalnya mulai menanam disini sepanjang sebelas kilometer karena bambu memiliki tiga keunggulan. Bambu diameter dengan 8 cm mampu menghasilkan 1,2 kg oksigen yang bisa dipakai untuk bernafas dua orang.

Sedangkan satu Bambu dalam satu rumpun bisa tercipta 300 Bambu dengan mudah berarti bisa menghidupkan 600 orang untuk bernafas. Bambu itu memiliki tiga manfaat, lingkungan budaya dan ekonomi. 

Usman Firdaus adalah pendiri dari komunitas Masyarakat Peduli Ciliwung (Mat Peci) di kelurahan Srengsreng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (24/12). Usman memulai ikhtiar melindungi Sungai Ciliwung pada tahun 2006 dengan membentuk Kelompok Tani Cikoko Lestari di Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.

Satu pos dibangun untuk koordinasi dan berbagi informasi tentang aktivitas kelompok. Saat itu, jumlah relawan yang bergabung hanya enam orang. Luas wilayah sungai yang dijadikan area konservasi sekitar 6.000-meter persegi.

Mulai tahun 2009, Usman mulai mengajak lebih banyak warga pinggiran Sungai Ciliwung. Komunitas peduli tersebut tumbuh di sepanjang aliran sungai dari Srengseng Sawah hingga Manggarai. Saat ini, tercatat 16 komunitas yang bergabung dalam komunitas Mat Peci dengan personel sebanyak 110 orang. Rute konservasi memanjang 16 kilometer. Sejak saat itu, komunitas berganti nama menjadi Masyarakat Peduli Ciliwung (Mat Peci). (*)