Jerat Narkoba kala Pandemi, Turut Menjerat Ekonomi?

Foto: Ilustrasi. (alodokter.com)

Oleh: Ella Mulyantika Aprilia

Pandemi corona berimbas memukul berbagai sektor perekonomian. Berbagai kontraksi di sektor perekonomian turut meningkatkan jumlah kriminalitas. Diantara banyak tindakan kriminal saat pandemi, angka tertinggi justru diraih oleh konsumsi narkoba. Beberapa selebriti tanah air tertangkap mengonsumsi narkoba dan menimbulkan kegaduhan di masyarakat luas. Benarkah peningkatan konsumsi narkoba saat pandemi makin memperburuk kondisi perekonomian Indonesia?

Peningkatan Kriminalitas Saat Pandemi

Karopenmas Divisi Humas Polri, Rusdi Hartono, dalam konferensi pers yang digelar secara virtual pada hari Selasa tanggal 2 Februari 2020, menyampaikan situasi kamtibnas yang menggambarkan situasi kejahatan yang terjadi. Disampaikan bahwa jumlah kejahatan meningkat dari minggu ketiga hingga minggu keempat bulan Januari tahun 2021. Pada minggu ketiga bulan Januari 2021 angka kejahatan menyentuh angka 4.878 kasus kejahatan , angka ini meningkat menjadi 5.247 pada minggu keempat bulan Januari tahun 2021. Tren kejahatan meningkat sebesar 7,56%. Kejahatan yang mendominasi minggu keempat Januari 2021 adalah penggunaan narkotika, disusul dengan pencurian dengan pemberatan, pencurian kendaraan bermotor, dan pencurian dengan kekerasan.

Kasus Selebriti Konsumsi Narkoba

Kasus selebriti mengonsumsi narkotika juga menjadi perbincangan publik. Beberapa nama artis terseret dalam penyalahgunaan narkotika sepanjang tahun 2020. Deretan artis tersebut antara lain Lucinta Luna , Vitalia Sesha, Vanessa Angel, Rezza Alatas, Tio Pakusadewo, Roy Kiyoshi, Dwi Sasono, Catherine Wilson, Reza Artamevia, Millen Cyrus, dan Iyut bing Selamet. Memasuki awal tahun 2021, publik kembali dibuat gempar. Anak pedangdut Rhoma Irama, Ridho Roma, ditangkap di sebuah apartemen di Jakarta Selatan pada hari Kamis tanggal 4 Februari 2020 malam. Ditemukan 3 butir pil ekstasi dari saku celana depan Ridho Rhoma. Publik figur yang diharapkan menjadi panutan bagi masyarakat luas, justru kembali menjadi sorotan setelah tertangkap menyalahgunakan narkotika.

Pandemi dan Penyalahgunaan Narkoba

Pandemi memberikan dampak besar bagi negeri ini. Bukan hanya dampak perekonomian yang mengalami kontraksi di berbagai sektor. Pandemi juga menimbulkan efek psikologis yang berat terhadap masyarakat. Dilansir dari laman alodokter, pandemi corona menimbulkan berbagai masalah psikologis. Masalah psikologis ini dapat menimbulkan gangguan mental saat pandemi terjadi. Rasa ketakutan terhadap wabah, terasing selama karantina, kesedihan dan kecemasan jauh dari orang terkasih, kebingungan dengan informasi berlebih yang simpang-siur. Tekanan selama pandemi berakibat menimbulkan gangguan berupa ketakutan dan kecemasan keselamatan diri,teman,dan orang terdekat, perubahan pola tidur dan makan, bosan, stres, dan munculnya gangguan psikomatis.

Stres yang dibiarkan berlanjut akan berdampak pada gangguan psikomatis. Psikomatis terdiri dari dua kata, psyche (pikiran) dan soma (tubuh). Psikomatis merupakan gangguan yang terjadi secara fisik yang diperparah oleh faktor mental seperti rasa cemas dan stres. Gangguan psikomatis dapat disembuhkan dengan berbagai cara seperti psikoterapi, akupuntur, relaksasi, hipnosis, dan konsumsi obat-obatan termasuk depresan dan penghilang rasa sakit yang diresepkan oleh dokter.

Gangguan mental dan psikomatis selama pandemi justru diselesaikan dengan cara yang salah oleh sebagian masyakat dengan mengonsumsi narkotika. Dilansir dari laman Puslidatin BNN, dari data Pemberantasan Polri, diperoleh data terdapat 32.040 kasus dan 41.303 tersangka kasus narkotika, presekusor narkotika, dan psikotropika sepanjang tahun 2019. Data tersebut semakian meningkat pada tahun 2020 selama pandemi terjadi. Diperoleh data 41.424 kasus dengan 53.287 tersangka dalam kasus penyalahgunaan narkotika dan psikotropika sepanjang tahun 2020. Data tersebut menunjukkan korelasi positif kecemasan dan gangguan kesehatan mental selama pandemi yang berimbas pada peningkatan konsumsi narkotika di Indonesia.

Dampak Ekonomi Penyalahgunaan Narkotika

Penyalahgunaan Narkotika di tengah pandemi, semakin menyudutkan kondisi perekonomian bangsa. Menteri Keuangan, Sri Mulyani, di Gedung Kalimantan Kantor Pusat DJBC, Rawamangun, Jakarta Timur, menyatakan bahwa narkoba sangat menganggu ekonomi. Karena transaksi narkoba underground economy dan transaksinya tidak terekam. Sri Mulyani menyampaikan narkoba membuat daya beli masyarakat menurun dan menganggu produktivitas masyarakat.

Underground economy adalah seluruh aktivitas kegiatan ekonomi yang memproduksi barang dan jasa secara ilegal (tanpa izin) dan berbasis pasar. Deputi Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN), Inspektur Jenderal Arman Depari, menyatakan telah melakukan pengkajian bersama Universitas Indonesia dan diperoleh hasil bahwa kerugian ekonomi akibat belanja narkoba oleh bandar di Indonesia mencapai 73 triliun rupiah per tahun.

Potensi pajak yang hilang akibat kegiatan underground economy adalah potensi pajak yang tidak dilaporkan dari kegiatan peredaran narkoba. Potensi pajak dihitung dengan memperoleh tarif pajak rata-rata yaitu rasio penerimaan pajak terhadap PDB (tax to GDP ratio), yang dikalikan dengan nilai underground economy. Dari data Badan Pusat Statistik, diperoleh data bahwa PDB Indonesia pada Q4 tahun 2020 mencapai 15.434 trilun rupiah dengan penerimaan pajak yang terealisasi 70,539 triliun rupiah. Potensi pajak yang hilang dari perhitungan tersebut mencapai 333,636 triliun rupiah.

Pemerintah telah membahas RAPBN 2021 dengan DPR pada 14 Agustus 2020. Ditargetkan penerimaan APBN sebesar 1.776,4 triliun dan belanja negara diproyeksikan sebesar 2.747,5 triliun rupiah. Belanja tersebut terdiri dari anggaran kesehatan 169,7 triliun rupiah, anggaran pendidikan 549,5 triliun rupiah, pembangunan TIK 30,5 triliun rupiah, pembangunan infrastruktur 414 triliun rupiah, anggaran ketahanan pangan 104,2 triliun rupiah, perlindungan sosial 419,3 triliun rupiah, dan pembangunan pariwisata 14,4 triliun rupiah. Dari data tersebut dana underground economy sebesar 73 triliun akibat transaksi narkotika tidak dapat diperoleh dalam penerimaan negara untuk mencukupi berbagai belanja negara di era pandemi ini. Fakta tersebut semakin mengguncang perekenomian negara di tengah kondisi pandemi. Diperlukan peran seluruh masyarakat, dimulai dari diri sendiri, keluarga, sekolah, pemerintah, dan aparat penegak hukum untuk bahu-membahu menuntaskan permasalahan konsumsi narkotika di Indonesia.

Mari dukung pemulihan bangsa, jauhi konsumsi narkoba dan bangkitkan perekonomian Indonesia.

Penulis : Ella Mulyantika Aprilia, Pegawai Kantor Pelayanan Wajib Pajak Besar Tiga dan Alumnus Politeknik Keuangan Negara STAN.
*) tulisan merupakan opini pribadi penulis, dan tidak mewakili instansi.