Gunung Kawi Menara Air (2)

Foto: Pietra Widiadi. (had)

Oleh Pietra Widiadi

BACAMALANG.COM – Tulisan ini masih terkait dengan tulisan sebelumnya dengan judul Gunung Kawi, tulisan ke 2 ini masih menyinggung Gunung Kawi.

Kali ini lebih pada upaya melihat bagaimana Pemerintah melihatnya. Sebagai aset untuk kehidupan di masa yang akan datang ataukah sebagai aset yang akan dihabiskan dalam satu periode tertentu dengan kepimpinan yang sesaat.

Kali Metro, yang merupakan anak Kali Brantas ini berhulu di Gunung Kawi, selain itu juga ribuan coban besar kecil hadir di kawasan Gunung Kawi.

Gunung tua in, disebut tua karena merupakan gunung bukan vulkanik yang terletak pada jajaran gunung vulkanik seperti gunung Kelud, gunung Anjasmoro atau gunung Arjuna dan gunung Semeru – Bromo di sisi Timurnya.

Dalam sanepo budaya Jawa, gunung Kawi, disebut juga gunung Kawitan, atau gunung mula-mula. Gunung Kawi terletak pada poros Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Blitar.

Dengan gambaran seperti itu, jelas bahwa Gunung ini merupakan sebuah “Menara Air” yang besar.

Perkembangan atau yang disebut juga dengan pembangunan di kawasan Gunung Kawi, kurang mendapatkan perhatian untuk dipertahankan sebagai Menara Air.

Gunung yang merupakan menara air, dalam arti memiliki kemampuan menyimpan dan menampung air yang cukup besar, ini seperti tidak begitu dijaga.

Kita bisa lihat kejadian banjir bandang di Coban Rondo pada Februari 2016 yang lalu, yang berdampak pada daerah Pujon, Kabupaten Malang.

Kita juga bisa simak, banjir bandang di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar pada Januari 2020 yang lalu.

Dua kejadian ini, menunjukan bahwa kawasan hutan yang dilindungi, seperti kawasan Perhutani atau kawasan Lindung konservasi tidak dijaga dengan tepat.

Kejadian banjir bandang sebenarnya sudah sebuah indikasi jelas bahwa kawasan tangkapan air untuk kehidupan di masa akan datang kurang mendapatkan perhatian.

Selain itu kita bisa lihat misalnya kawasan bukit Panderman di Batu, sampai di Barat lagi terdapat kawasan lindung yang mengakibatkan adanya Coban atau di Kecamatan Pujon.

Di mana kawasan yang cukup exotic, menggairahkan karena alamnya itu, dibiarkan merana. Bangunan “berijin”, dalam arti berijin karena umumnya bangunan permanen yang megah, baik berupa permukiman dan komplek pervillan.

Pembangunan yang dilakukan dan diijinkan berkembang di kawasan Gunung Kawi tidak hanya berupa bangunan permukiman dan wisata non alam, tetapi juga perkebunan yang dikembangkan tanpa mengindahkan daya dukung lingkungan.

Misalnya ada wisata petik buah, namun tidak ada penguatan dengan tanaman keras supaya air hujan tetap bisa ditahan di kawasan tangkapan air, atau kita bisa lihat salah satu wisata yang baru saja dibuka, yang bukitnya disulap jadi bukit rumput dan menghilangkan tanaman kerasnya.

Kita juga bisa saksikan, bahwa di sisi Selatan Gunung Kawi, di Kabupaten Malang, juga dirambah dengan industri peternakan yang mengkonsumsi air begitu besar.

Menara yang segera tumbang

Konflik perebutan air, saat ini belum nampak muncul meski sudah ada tanda-tanda, seperti beberapa kasus kecil di desa terkait dengan perebutan menyalurkan air, untuk kebutuhan pertanian dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari di desa Sumbersuko, Pandanrejo atau di Petungsewu di Kecamatan Wagir.

Di Wagir terjadi rebutan air juga, di mana kebutuhan air yang biasanya diperoleh dari sumber untuk pertanian sulit diperoleh dan kemudian ada limpahan air limbah yang dilimpahkan ke pertanian warga.

Kejadian ini, tentu akan menjadi besar kalau Gunung Kawi sebagai Menara Air ini tidak benar-benar dijaga.

Perlindungan tumbuhan atau tanaman besar yang menjadi tumpuan untuk menyimpan air perlu sekali dilakukan.

Kalau tidak akan terus berkurang, dan itu merupakan bencana yang akan meledak pada akhirnya.

Selain itu, karena ketersediaan air yang tidak terpenuhi, mengakibatkan pertanian menjadi tidak memiliki potensi sebagai mata pencaharian dari warga dan pada akhirnya akan mendorong orang beralih profesi.

Pada awalnya mungkin akan tidak nampak dan terasa karena alih profesi ini dianggap biasa, yaitu dari sektor pertanian ke sektor non pertanian, terutama pada sektor pabrikan.

Pada titik ini jelas bahwa pada upaya alih profesi memberikan gambaran bahwa aset yang dimiliki warga masyarakat terabaikan.

Tidak hanya aset berupa harta benda bergerak dan tidak bergerak tetapi juga aset sumberdaya manusianya, seperti keahlian bertani dan berkebun.

Tentu bahwa profesi petani dan kebun ini, tidak hanya sekedarnya, karena profesi ini menjadi diversifikasi dalam beberapa progesi khusus yang membutuhkan keahlian, seperti pemijahan, kehamilan ternak, pembibitan, budi daya, mekanisasi pertanian dan seterusnya.

Dari gambaran tersebut di atas, nampak bahwa air sebagai tumpuan hidup tidak sekedar sebagai barang konsumsi yang bisa dipenuhi oleh air kemasan atau kemasan isi ulang, tetapi lebih dari itu.

Dengan demikian yang disebut dengan Menara Air adalah bagaimana penghidupan warga masyarakat di kawasan Gunung Kawi benar-benar diproteksi.

Ini menunjukkan bahwa bahwa Menara Air ini memiliki pengertian yang lebih luas, yaitu “menara kehidupan dan penghidupan” karena dengan tidak adanya air, maka penghidupan manusia juga akan mengalami kesulitan.

Kesenjangan pemanfaatan Tata Ruang

Kecemasan pada ketersediaan air untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari, juga untuk kebutuhan pertanian nampaknya akan makin besar dalam 10 tahun ke depan.

Kecemasan ini, bisa menjadi bertambah besar, tatkala Kita menyimak dokumen RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kabupaten Malang tahun 2010.

Serta tidak ada pemantauan dan pengawasan penggunaan kawasan selain untuk tujuan perlindungan area tangkapan air (water catchment).

Melongok dokumen tata ruang Kabupaten Malang, nampaknya rencana pengelolaan ruang dan pola ruang di Kabupaten Malang ingin mewujutkan sebuah Kawasan perkotaan dengan meninggalkan aset pertanian yang begitu besar.

Hal ini bisa ditemukan bahwa yang disasar lebih pada pertumbuhan ekonomi yang dibebankan pada kawasan kecamatan tertentu seperti Ngantang dan kurang memperhatikan kawasan Menara Air di Gunung Kawi, seperti di Kecamatan Wagir dan Ngajum yang masih cukup luas cakupan area tutupan hijau.

Yang dikhawatirkan dari hal tersebut di atas adalah lambat laun kawasan Kabupaten Malang segera berubah dari pertanian dan perkebunan menjadi permukiman dan kawasan industry besar yang kurang melihat daya dukung dan tampung, apalagi kebijakan amdal terdapat perubahan tentang partisipasi stakeholder yang berkepentingan atas keberadaan industri yang dibangun.

Selain itu, Gunung Kawi yang disebutkan merupakan Menara Air tidak secara jelas disebutkan bagaimana harus dilindungi.

Ketidakpedulian ini bisa dilihat bahwa tidak adanya dokumen RDTR (Rencana Detil Tata Ruang) untuk Kecamatan Wagir.

Hal ini mungkin kecamatan Wagir dianggap kurang penting untuk disusun dibandingkan dengan kawasan yang akan tumbuh pesat dengan kekuatan perkembangan ekonomi perkotaan sepeti Ngantang dan Punjon misalnya.

Kurangnya perhatian akan kawasan Gunung Kawi sebagai kawasan tangkapan air akan mengakibatkan kerusakan Menara Air di 4 Kabupaten yang ada dalam cakupan kawasan di Gunung Kawi, akan segera semakin besar.

Dengan demikian, maka makin luasnya alih fungsi lahan pertanian dan perkebunan untuk fungsi yang lain menandakan bahwa Pemerintah Kabupaten tidak hadir dalam pembangunan yang dilakukan masyarakat.

Sebagai regulator, Pemerintah sepertinya tidak cukup perhatian untuk memberikan perlindungan Kawasan Gunung Kawi.

Meski Gunung Kawi dengan jelas dinyatakan sebagai Kawasan lindung dan resapan dalam pasal 33 RTRW Kabupaten Malang yang menjelaskan tentang rencana pola ruang wilayah menggambarkan rencana sebaran kawasan lindung dan kawasan budidaya.

Dari gambaran umum yang disampaikan di atas merupakan tantangan bagi calon Bupati yang akan berlomba memperebutkan kursi yang akan dilakukan pada bulan Desember mendatang.

Sejauh ini, nampaknya yang dilihat pada calon ini adalah soal ekonomi yang dikembangkan tanpa mengindahkan keberadaan lingkungan hidup lestari yang akan memberikan kesejahteraan dan kehidupan di masa yang datang.

Dengan demikian pemilihan Bupati baru nanti, adalah kontestasi untuk memenangkan kesejahteraan warga Kabupaten Malang dan yang mendapatkan manfaat dari Gunung Kawi pada masa yang akan datang. (*)

Catatan : Penulis adalah founder dial-foundation, lembaga nirlaba yang terletak di desa Sumbersuko, Wagir – Gunung Kawi (Pendopo Kembangkopi) dan saat ini aktif sebagai Green Policy Manager di WWF Indonesia. Email dialfoundation@live.com.