Eksis Bisnis Sandal Gunung Saat Pandemi, Febriyan Lakukan Pivot Bussiness

Foto: Febriyan Arsa. (ist)

BACAMALANG.COM – Beruntunglah para pelaku bisnis yang saat pandemi melanda tetap eksis. Salah satu enterpreneur muda yang mampu bertahan adalah Febriyan Arsa yang telaten menggeluti usaha penjualan sandal gunung.

“Kiat eksis dari pandemi adalah sudah bukan waktunya lagi bersaing. namun agar tetap survive Kita perlu berkolaborasi dengan berbagai pihak. Pandemi mengajarkan banyak hal, Yakni Kita harus kreatif menyikapinya dengan membuat produk yang paling mudah diterima pasar. Atau melakukan pivot bisnis tetapi dengan line up produk yang berbeda. Seperti Garuda Indonesia yang berfokus ke penerbangan. Sekarang pivot bisnis dengan fokus menggarap catering untuk korporasi. Lion Air pivot bisnis dan hanya fokus untuk kirim-kirim barang atau usaha kargo lewat Lion parcelnya,” tegas Febriyan Arsa, Rabu (17/2/2021).

Ia menjelaskan, alasan usaha ini karena passion di bidang fashion. Terutama di bidang sandal gunung yang didominasi oleh merek-merek ternama yang notabene harganya mahal. “Sehingga Kami hadir menghadirkan produk yang lebih berkualitas dengan harga terjangkau,” tutur pria alumnus Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya ini.

Ia menceritakan, sejak tahun 2013 kebingungan menemukan pengrajin tas yang bagus. Karena di Singosari terdapat pengrajin sandal.

“Saya pikir, mulai aja jualan dulu, dan juga di bisnis tas, diharuskan melakukan pre order dengan kuantitas yang begitu besar. Mengingat Kami masih belum tahu channel mana saja yang memiliki kualitas pembuatan tas yang bagus. Namun bisa dengan sistem pembelian sedikit. Karena tidak memungkinkan juga untuk produksi sendiri di awal usaha,” jelasnya.

Ia memilih produk sandal karena bermula dari kebingungan tidak adanya channel pembuatan tas. Akhirnya ia memilih untuk memulai usaha sandal dengan merek Portibi.

Dan di tahun 2018 ia berhasil mengakuisisi perusahaan pembuatan sandal di Bandung untuk menjadi bagian dari tempat produksi.

Penghobi Jalan dan Hiking

Ia menjelaskam melihat potensi pasar saat ini harus menentukan segmen yang benar-benar fokus untuk digarap. Saat itu memang benar puncaknya orang sangat suka sekali dengan aktifitas outdoor, hiking, atau jalan-jalan ke gunung.

“Dan ini adalah market yang bagus sekali, karena market ini merupakan market yang loyal dalam membeli produk berkualitas tinggi. Karena untuk menunjang aktifitas outdoor yang begitu berat. dan tidak mempedulikan harga,” ungkap Febriyan.

Produknua hadir untuk memenuhi segmen para pecinta outdoor yang menginginkan produk berkualitas tapi tetap dengan harga yang terjangkau.

“Penjualan Kami seluruh channel distribusi secara offfline tersedia di toko-toko sepatu di hampir seluruh Jawa Timur, sebagian Jateng, seluruh Bali dan juga Labuan Bajo NTT. Untuk online tersedia di seluruh marketplace,” paparnya.

Ia awalnya menggunakan bahan dan pengrajin sandal di daerah Singosari. Namun ketidak konsistenan hasil pengrajin, akhirnya pusat produksi dipindah ke Bandung. Karena ia menemukan pengrajin sandal yang memiliki kinerja dan hasil yang sesuai dengan visi perusahaannya.

Yaitu yang hasilnya jauh lebih baik dan bagus ketimbang di tempat sebelumnya (Singosari).

Sempat berpindah-pindah tempat produksi. Dari Singosari pindah Sidoarjo, dari Sidoarjo pindah Mojokerto, dan fix di Bandung. Sementara untuk gudang distribusinya ada di Jalan Tebo Selatan Mutiara Residence, Kecamatan Sukun Kota Malang.

Eksis Saat Pandemi

Sebelum pandemi ia memiliki 16 orang karyawan, namun saat ini tersisa hanya 4 orang karyawan saja.

Omset per bulan jika situasi normal diatas Rp 150 juta. Namun untuk saat pandemi ini jauh drastis turun diangka Rp 30 – 40 juta saja.

“Di awal pandemi masuk indonesia, pemasukan tembus Rp 5 juta saja sudah Alhamdulillah,” imbuhnya.

Untuk saat ini ia masih belum kepikiran untuk menghire orang. Karena ia menginginkan usaha ini tetap bertahan tanpa mengeluarkan budget lebih untuk menghire orang.

“Tapi Kami tetap membuka kesempatan untuk teman-teman yang terkena dampak pandemi, PHK dan lainnya untuk berwirausaha dan menjadi reseller Portibi Indonesia,” tukasnya.

Untuk harga sandal dipatok range dari harga Rp 90 ribu -Rp 180 ribu. Juga tersedia sandal gunung untuk anak-anak. Sementara untuk tas range harga Rp 120ribu – Rp 150 ribu.

Masker dan Tas

Saat marak pandemi, ia juga berualan masker mulai awal April 2020. Omset yang diraup mencapai rata-rata Rp1 juta per bulan.

Saat ini pihaknya mengeluarkan produk baru yakni tas model waist bag, dan produk ini cukup sukses menjadi tulang punggung usahanya.

Ia menjelaskan, kendala bisnis ini, jika produk tidak segera laku dan terlalu lama mengendap di gudang akan rawan terkena jamur. Untuk penyimpanan, suhu, pencahayaan juga harus diperhatikan.

“Harapan ke depan, Covid bisa segera hilang dari Indonesia dan pemerintah benar-benar selektif untuk memberikan stimulus untuk pengusaha-pengusaha UMKM. Agar dapat tetap bertahan di masa pandemi. Dan ia berharap ke depan Portibi Indonesia bisa menjadi brand outdoor yang bisa mendunia,” jelas Febriyan mengakhiri.

Untuk mengetahui informasi lebih jauh, bagi pembaca bisa mengunjungi instagram pribadi : @febryanarsa, ig usaha @portibiindonesia, @katalogportibi dan FB : Portibi Indonesia. (had)