Pemberdayaan Masyarakat di Nias, Begini Kisah Unik Alumnus UB Adaptasi Bahasa

Foto: Bachtiar Djanan berkumpul dengan warga Nias. (ist)

BACAMALANG.COM – Menjadi penggerak pemberdayaan masyarakat membutuhkan skill plus dan tak biasa. Salah satunya adalah kemampuan cepat dalam beradaptasi bahasa dengan wilayah yang ditempatinya.

“Dan aku baru ngerti, ternyata bahasa Nias iku onok keunikan yang rasanya gak onok ndek daerah lain manapun di Indonesia (dan saya baru tahu jika bahasa Nias mempunyai keunikan yang tidak ada di daerah manapun di Indonesia),” terang Bachtiar Djanan,
Wakil Ketua NGO Komunitas Hiduplah Indonesia Raya (Hidora).

Sekilas informasi, saat ini pria alumnus Universitas Brawijaya ini kini konsen dan fokus dalam pemberdayaan masyarakat di Wisata Budaya Desa Tumöri, Gunungsitoli Barat, Kota Gunungsitoli, Nias, Sumatera Utara.

Tidak ada akhiran konsonan

Ia mengatakan, dalam Bahasa Nias itu tidak ada satupun kata yang berakhiran dengan huruf konsonan, semua berakhir di huruf vokal.

“Awalnya aq gak percoyo, trus kucoba cek, liat di link ini, lirik lagu-lagu berbahasa Nias: (awalnya saya tidak percaya terus saya coba melihat di link lagu berbahasa Nias). Dari entah sekian puluh lirik lagu-lagu Nias, ternyata memang tidak satupun kata yang berakhiran konsonan, selain kata “Nias”. Unik ya. Tak jamin dari lirik lagu-lagu Nias itu satu kata pun Kita nggak ngerti artinya,” urai Bachtiar.

Link yang dishare Bachtiar adalah sebagai berikut : https://ononiha-nias.blogspot.com/2020/09/kumpulan-lirik-lagu-nias-terbaik-dan-terpopuler.html?m=1

Ia menuturkan, sebetulnya nama Nias sendiri itu bukan dari penyebutan oleh orang asli Nias. Tapi itu dari orang luar Nias. Nama Nias bagi orang Nias adalah “Ono Niha” (tanpa akhiran konsonan).

Nama orang yang unik

Bachtiar menilai nama-nama orang Nias cukup unik. Contohnya:
Sozatulö Zebua, Fozuwöloo Tafonao, Arozatulö Bawamenewi, Amonitazarö Zebua, Tönazarö Zebua.

Ia menjelaskan, intinya Sumut ini mempunyai kekayaan budaya yang luar biasa, dengan banyaknya etnis. Bahasa merupakan salah satu identitas dasar suatu etnis. Bahasa Nias mempunyai keunikan yang setahunya tidak dimiliki oleh etnis-etnis lain di Indonesia, yaitu bahasanya yang tidak mengenal akhiran kata huruf mati/konsonan. Selain hanya kata “Nias”.

Ia menceritakan sudah kemana-mana mulai Sumatera sampai Papua, tidak pernah menjumpai keunikan yang seperti ini.

Semula ia nggak percaya, tapi begitu melihat link website yang isinya puluhan lirik lagu berbahasa Nias, ternyata memang satupun tak ada kata yang berakhiran konsonan, semua vokal, kecuali kata Nias.

Kekayaan budaya

Tapi dalam bahasa Nias, kata-kata Nias sendiri kalau orang sana menyebut Ono Niha. Ia nyaris satupun tak memahami kata-kata bahasa Nias. Banyak huruf F, Z, dan Ö. Belum lagi nama-nama orang Nias juga tidak familier di telinganya. Menghafalkan namanya sulit sekali.
Tapi itulah kekayaan budaya yang luar biasa dan sangat menarik

“Bersyukur Indonesia mempunyai kekayaan budaya yang sangat unik seperti bahasa Nias. Indonesia harus tahu dan harus bangga tentang keunikan-keunikan budaya (bahasa) yang ada di Nias ini,” paparnya.

Bachtiar menyataksn butuh kesabaran mempelajari bahasa Nias. “Menyulitkan sih tidak. Menjadi tantangan baru untuk bisa belajar dengan cepat. Caranya ya saya catat.. Dimulai dengan kalimat yang umum dipakai,” terangnya.

Berikut catatan Bachtiar saat belajar bahasa Nias :

Ya’odo = saya
Ya’ugö = kamu
Ya’ira = mereka
Ya’aga = kami
Ya’ita = kita
Ya’ami = kalian
Ya’e = nih.. (Menyerahkan sesuatu)
Saohagölö = terima kasih
Ya’ahowu = assalamualaikum (pengganti selamat pagi, selamat siang, selamat malam, dalam berjumpa, berpisah)
Gowirio = ubi kayu, singkong
Banio = kelapa
Möido uahe = saya pergi dulu ya,
Sabata uahe = sebentar ya (minta ijin pergi)
Oma sido khöu = aku suka kau
Oma do le = cium aku ya.. (Buat lucu2an)
Nakhi = adik
Ga’a = a bang
Bapa sa’a = pak de
Bapa sakhi = pak lik
Bapa talu = kakaknya pak lik
Ga’a sa’a, ga’a talu, ga’a sakhi
Dua = kakek
Nene, gawe = nenek
Salawa = kades
Ono matua = laki2
Ono alawe = perempuan
Ono = anak
Kefe = kepeng

Ya’ adalah awalan dari penyebutan subyek. Ia mengatakan, cara adaptasinya, begitu dapat kata/kalimat baru, dicatat, dipraktekkan.

“Salah-salah dikit gapapa, malah jadi hiburan bagi lawan bicara Kita. Dan masyarakat akan senang melihat Kita bersemangat belajar bahasa mereka. Itu pintu masuk yang baik untuk pendekatan ke masyarakat. Masyarakat tidak menilai seberapa pandai Kita berbahasa mereka, tapi yang dilihat dan diapresiasi adalah seberapa Kita mau berproses untuk mengenal dan mengapresiasi mereka,” pungkas Bachtiar Djanan. (had)