Ajak Modernisasi Peternakan Sapi, Pemuda Pesanggrahan Ini Jelaskan Manfaatnya

Caption : Heri Pambudi di kandang Sapi. (ist)

BACAMALANG.COM – Meski pandemi menimbulkan kerugian bagi peternak sapi potong (bakalan/anakan) di lereng Gunung Panderman Toyomerto, Pesanggrahan, Kota Batu, namun mereka masih merasa bersyukur karena harga sapi potong umur 2 tahun masih baik dan menjanjikan.u

Pada sisi lain, guna memaksimalkan hasil, peternak sapi potong berupaya mengajak merawat ternak dengan sistem lebih modern (modernisasi).

“Jumlah peternak sapi disini sekitar 290 orang. Namun sebagian besar menjalankan dengan tradisional. Hanya sekitar lima persen yang sudah menerapkan modernisasi. Modernisasi ini menurut saya bisa menjadikan peternak beruntung karena lebih praktis-ekonomis,” tandas peternak sapi potong Pesanggrahan Kota Batu, Heri Pambudi, Kamis (17/3/2021).

Mulai lulus SMK

Ia mulai menekuni dunia ternak semenjak lulus SMK tahun 2017. Nama sapi (jenis) yaitu sapi potong dan jenisnya meliputi Limousin, Ssmental, dan FH.

Ia mengaku selama menjadi peternak sapi potong tidak menemukan kendala berarti. “Selama saya berternak alhamdulillah aman yang penting kebutuhan konsentrat dan hijauan tercukupi,” imbuhnya.

Ia mengatakan potensi keuntungan yang bisa didapat adalah daging sapi potong tersebut. “Alhamdulillah sekarang saya punya 9 ekor, ada 1ekor yang sudah berumur 2 tahun, 2 ekor umur 1 tahun, dan yang 6 masih bakalan,” imbuhnya.

Melakukan inseminasi buatan

Heri menceritakan jika beternak sapi potong butuh proses dan kesabaran.
“Butuh proses dan kesabaran. Awalnya itu sebelum saya ternak sapi potong, saya beternak sapi perah FH, terus ada salah satu anakannya itu jantan saya besarkan sampai 2,5 tahun dan saya jual dengan harga Rp 27 juta. Dari situ saya hitung-hitung menguntungkan terus dengan sapi perah saya yang berjumlah 8 ekor saya IB (Inseminasi Buatan) jenis Simental dan alhamdulillah lahir jantan semua. Saya dapat modal dari penjualan sepeda motor seharga Rp 15 juta dan saya belikan 1 ekor Limousin seharga Rp 12 juta dan sisa Rp 3 juta untuk kebutuhan pakan selama pemeliharan,” paparnya.

Untuk perawatan sehari-hari masih dilakukan sendiri dan dibantu orangtua.
Untuk penjualan ke pasar hewan (patok), biasanya penjualan berumur 2 tahun yang sudah siap potong.

Selama pandemi ini untuk penjualan sapi potong yang sudah berumur 2 tahun atau yang sudah siap potong harga masih menguntungkan dari pemontongan biaya-biaya pakan dan perawatan selama pemeliharan, tetapi kalau penjualan sapi potong yang masih bakalan harganya turun selama musim pandemi ini.

Ajak Modernisasi Peternakan

Ia berharap peternak di Toyomerto ini semakin maju dengan mengajak peternak-peternak sapi disini dengan cara yang modern tidak begitu bekerja keras tetapi hasil maksimal. Apalagi destinasi wisata di Kota Batu ini sangat banyak dan untuk keperluan daging sapi dibutuhkan setiap hari (konsumsi wisatawan) agar tercukupi.

Ternak modern itu menggunakan pakan silase yaitu jerami dijadikan molase. Namun kendala untuk penggemukan adalah suhu dingin.

“Kurang cocok sebenarnya untuk penggemukan tetapi saya menggunakan cara yang lain dengan dipacu pakan yang bermutu tinggi dan kasih sayang agar panen cepat untung besar,” jelasnya.

Perawatan yang dilakukan secara rutin seperti pembersihan kandang setiap pagi dan sore, memandikan setiap pagi dan yang penting kasih sayang kepada ternak tersebut agar terasa nyaman di kandang.

“Kalau peternak disini itu masih jarang yang pemberianya pakannya seperti itu disini. Makanya saya mengajak melakukan modernisasi agar hasilnya optimal dan peternak semakin makmur,” pungkas Heri. (had)