Panen Buah Jeruk Milik Sendiri, Petani di Selorejo Malah Dipolisikan

Purwati didampingi Sugeng saat memberikan keterangan kepada wartawan di Mapolres Malang (ist)

BACAMALANG.COM – Sebanyak 10 orang petani dilaporkan ke Polres Malang atas tuduhan dugaan pencurian buah jeruk di tanah khas Desa Selorejo, Kecamatan Dau.

Mereka dilaporkan oleh Edi Sumarno selaku Sekretaris Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes Dewa Rejo Selorejo pada Senin (13/7/2020).

Para petani ini kemudian memenuhi panggilan penyidik Unit II Satuan Reserse Kriminal atau Satreskrim Polres Malang untuk memberikan keterangan pada Sabtu (18/7/2020). Kesepuluh petani yang memenuhi panggilan itu diantaranya, Sugeng, Turiman, Waliadi, Jakik, Wawan, Jiono, Ali, Sauji, Ngateman, dan Sulianto.

“Ini ada 10 orang yang mendapat undangan untuk klarifikasi. Kami kan nanam sendiri, ngerawat sendiri, begitu panen kok dituduh mencuri. Ya kami datangi (panggilan penyidik, red), wong kami merasa tidak mencuri,” kata perwakilan Kelompok Tani Sumber Rejeki Selokerto Selorejo, Purwati.

Menurut Purwati, ada 102 petani jeruk yang menggarap atau menyewa di tanah khas desa tersebut. Setiap tahunnya, para petani membayar biaya sewa kepada Pemerintah Desa Selorejo.

“Itu merawat 25 hektar. Kan ini dengar-dengar mau dikelola BUMDes. Kan kontraknya hanya lisan saja, tapi kami bayarnya tiap panen, tiap tahun. Ada kwitansinya. Ini ada yang sudah panen, kami petik, tapi kami dituduh mencuri. Kami meminta keadilan,” terangnya.

Sementara itu, petani jeruk lainnya, Sugeng, mengaku jika beberapa waktu lalu sudah ada pembicaraan dengan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto.

“Ini kan masih sengketa. Beberapa waktu lalu, kan ada pak Didik Ketua Dewan. Itu mengatakan biar tahun ini petani yang memetik hasilnya dan menikmati hasilnya,” ucap Sugeng. (mid/yog)