Pandemi atau Sindemi Covid-19, Begini Kata dr Umar

Foto: dr Umar Usman MM. (Ist)

BACAMALANG.COM – Terkait Covid-19 saat ini muncul istilah Sindemi. Sejak mewabah dari China akhir tahun 2019, Covid-19 terus meluas hingga secara resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutnya sebagai pandemi global.

Namun, hampir setahun pandemi Covid-19 ini berlangsung, jumlah orang yang terinfeksi di seluruh dunia sudah mencapai angka 50 juta. Sindemi kependekan dari sinergi dan pandemi. Artinya, penyakit seperti Covid-19 tidak berdiri sendiri.

Di satu sisi ada virus SARS-CoV-2, yaitu virus penyebab Covid-19 dan disi lain ada serangkaian penyakit yang sudah diidap oleh seseorang. Kedua elemen ini saling berinteraksi yang diperparah oleh ketimpangan sosial yang tajam.

Istilah ini dicetuskan untuk menyebut kondisi ketika dua penyakit atau lebih berinteraksi sedemikian rupa, sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih besar ketimbang dampak dari masing-masing penyakit tersebut.

“Dampak dari interaksi ini diperparah kondisi sosial dan lingkungan yang dapat menyatukan kedua penyakit atau membuat populasi menjadi lebih rentan terhadap dampaknya,” jelas Penanggung Jawab Satgas Covid–19 PC NU Kabupaten Malang dr Umar Usman MM.

Kesimpulannya, dalam beberapa kasus, kombinasi penyakit memperkuat dampak dan kerusakan yang dialami orang itu. “Kami melihat bagaimana Covid-19 berinteraksi dengan berbagai kondisi yang sudah ada sebelumnya, diabetes, kanker, masalah jantung dan banyak faktor lain,” kata dr Umar.

Pengaruh lingkungan sosial ekonomi juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko Covid-19. dr Umar memaparkan sejumlah jalan keluar yang dapat dilakukan menyikapi situasi Pandemi virus Covid-19.

PROKES dan Kepedulian Sosial

Mengikuti segala anjuran kebijakan pemerintah mencegah meluasnya wabah Covid-19 dengan selalu jaga Jarak (physical distancing), tetap di rumah jika tidak ada keperluan mendesak, memakai masker ketika keluar rumah, dan selalu mengikuti protokoler kesehatan Covid-19.

Meningkatkan rasa peduli, berbagi dan toleransi antar sesama. “Kegiatan ini bisa dilakukan di ruang lingkup RT, RW, dusun, dan desa/kelurahan dengan cara menghimpun data warga yang memang layak untuk dibantu kemudian dengan cara swadaya masyarakat dan gotong royong warga lain yang dianggap mampu untuk bisa berbagi menyisihkan sebagian penghasilannya dalam membantu warga/tetangganya yang mengalami kesulitan ekonomi,” tukas dr Umar.

Stop Diskriminasi dan informasi benar

Diskiriminasi korban Covid-19 baik itu pasien positif, PDP, ODP maupun tim medis yang melakukan perawatan pasien covid. Kewaspadaan bukan berarti harus mengucilkan, menjauhi atau bahkan mengusir, tetapi bersama saling menguatkan, saling peduli antar sesama, dan bekerjasama menghadapi virus Corona ini.

Stigma pandemi saat ini menjadi musuh terbesar untuk penanggulangan Covid-19. Karena stigma bahwa pasien yang didiagnosis Covid-19 akan melalui prosedur yang rumit, menjadikan masyarakat cenderung untuk menyembunyikan diri atau anggota keluarga jika ada yang mengalami gejala penyakit tersebut.

Menyampaikan informasi yang memang benar dari sumber yang terpercaya, sehingga masyarakat tidak perlu merasakan panik dan takut berlebihan. “Dengan mengikuti prokes, virus ini dapat dicegah tanpa harus mengikis rasa kemanusiaan, kepedulian dan toleransi yang menjadi budaya masyarakat Indonesia,” tutur dr. Umar.

SKM dan Pengujian

dr Umar mengungkapkan, selain menjalankan pengadaan vaksin, selayaknya pemerintah juga memberi atensi pada sistem kesehatan masyarakat (SKM). dr Umar menyebutkan aturan penggunaan masker yang lebih ketat dan pelacakan kontak yang lebih baik sangat diperlukan.

dr Umar menyebutkan penyebaran penyakit semakin cepat, terutama di ibu kota provinsi Jakarta, dan di provinsi terpadat di Jawa Barat, Tengah dan Timur, dan tingkat pengujian tetap rendah yakni rata-rata antara sekitar 12.000 hingga 20.000 orang per hari di sebuah negara. sekitar 270 juta.

dr Umar menguraikan wajar muncul kekhawatiran tentang strategi pemerintah seiring dengan meningkatnya jumlah kasus. “Dengan tingkat pengujian yang rendah, pemerintah jauh tertinggal dari kecepatan penyebaran dan jauh dari pengendalian pandemi, terutama untuk Pulau Jawa [rumah bagi sekitar 140 juta orang] dengan lebih dari 50 persen populasi Indonesia,” jelas dr Umar.

Berdasar data Spectator Index terkait persentase tes Covid-19 yang telah dilakukan terhadap populasi di sejumlah negara, diketahui ada10 negara dengan jumlah tes terendah per 1.000 penduduk: Madagaskar (3,32), Nigeria (3,38), Malawi (3,52), Taiwan (6,59), Mozambik (6,59), Cote d’Ivoire (7,62), Zimbabwe (10,06), Indonesia (11,88), Uganda (12,67), dan Ethiopia (13,44).

Pentingnya Testing

Tidak ada yang tahu pasti jumlah total orang yang terinfeksi Covid-19 di suatu negara. Satu hal yang diketahui adalah status infeksi dari mereka yang telah dites. Semua infeksi yang ditunjukkan dari hasil tersebut dihitung sebagai kasus yang dikonfirmasi.

Artinya, berapa banyak kasus yang dikonfirmasi bergantung pada jumlah tes. Tanpa tes, tidak ada data kasus yang dikonfirmasi. Testing menjadi pintu untuk melihat penyebaran pandemi. Tanpa adanya data tentang kasus yang dikonfirmasi melalui tes, sulit untuk memahami pandemi dan menentukan kebijakan yang diperlukan untuk mengendalikannya.

Yakni massif menjalankan 3T (testing, tracing, dan treatment). Jadi, jika ada kegiatan kerumunan, pemerintah sigap menemukan kasus dan melakukan isolasi mencegah penyebaran. Kalau perlu harus menjemput bola melakukan pemeriksaan random di tempat-tempat asal dari orang-orang di kerumunan. “Hal tersebut, semata-mata untuk memastikan agar penyebaran Covid-19 tidak terjadi,” tutup dr Umar. (had)