Penggiat Literasi Malang Ini Komentari Hilangnya Palestina di Google Maps

Foto: Nikmatus Sholikah. (ist)

BACAMALANG.COM – Di tengah maraknya protes ribuan netizen terkait hilangnya Palestina di Google Maps, Penggiat Literasi Malang Nikmatus Sholikah, meminta masyarakat muslim di seluruh dunia tetap memberikan dukungan kedaulatan Palestina.

“Saya berharap, semoga masyarakat muslim di seluruh dunia bisa bersama-sama mendukung kedaulatan Palestina, meskipun di Google Maps tidak ada label negara Palestina,” tegas Nikmatus Sholikah, Minggu ((19/7/2020)).

Sekilas informasi, merebaknya isu yang menarik perhatian netizen pekan ini terkait pihak Google yang tidak menuliskan negara Palestina di Google Maps memicu banyak kecaman dari masyarakat muslim, bahkan tagar #Palestina sempat menjadi tranding topik di twitter dengan 46,1K Tweets.

Perempuan yang juga mahasiswa Ilmu Komunikasi, Konsentrasi Public Relation Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik Universitas Brawijaya ini mengatakan, warganet baru menyadari bahwa di saat mereka mencari Palestina di Google, layar Google Maps hanya menunjukan garis putus-putus wilayah dengan label “Jalur Gaza” dan “Tepi Barat”(Sabtu, 18 July 2020).

Lokasi yang ditunjukan Google Maps ketika orang mencari lokasi “Palestine” tidak ditemukan.

Hingga Sabtu (18/7/2020), masih banyak warganet di twitter dengan menggunakan hastag #Palestina mempertanyakan kejanggalan tersebut.

Seperti dalam sebuah postingan berikut, @akib_ridwan yang berkomentar “ Dimana keadilan dunia? Apakah keadilan hanya ditentukan dengan versi yang kuasa? Dunia mengapa begini?PBB? Perjuangan hak asasi? Dimana mereka? Dimana keadilan? #Palestina”.

Kemudian salah satu netizen yang lain
@fauzaanafriadi berkomentar, “Sibuknya Kita dengan dunia masing-masing sampai melupakan Kita bahwa negara seiman dan salah satu negara terawal yang mengakui Indonesia merdeka, Palestina resmi dihapus di Google Map”.

Nikmatus mengatakan, pihaknya menyayangkan tindakan Google yang hingga saat ini belum menuliskan nama negara Palestina dalam aplikasi Google Map atau peta digital yang ada.

“Kita tahu bahwa tahun 2016 isu ini sempat hangat diperbincangkan, bahkan Google juga sudah memberikan statement melalui juru bicaranya kepada media Inggris, yaitu The Guardian 10 Agustus 2016 yang berisi tidak pernah ada label Palestina di Google Maps,” ungkap Nikmatus.

Namun, tambahnya, pihaknya telah menemukan Bug yang menghilangkan label Tepi Barat dan Jalur Gaza. Google akan bekerja dengan cepat untuk mengembalikan label tersebut.

“Namun setelah saya cek, ternyata belum ada nama Palestina di Google Maps. Isu ini kembali muncul pada awal pekan ini, tepatnya tanggal 15 Juli, bahkan sempat menjadi trending di social media Twitter,” ujar perempuan yang juga aktivis, penulis, MC dan Jurnalis Independen ini.

Dikatakannya, Palestina merupakan sebuah wilayah di Timur Tengah, antara Laut Tengah dan Sungai Jordan yang hingga saat ini status politiknya masih diperdebatkan.

“Ada dua entitas politik yang menguasai, yaitu Wilayah Penduduk Israel dan Otoritas Nasional Palestina. Fakta lain, jika Kita menelisik lebih dalam Palestina merupakan negara yang sangat penting bagi umat Islam di seluruh dunia,  karena ada Masjid Al-Aqsa yang menjadi kiblat pertama umat Islam, berada di sana,” imbuhnya.

Dipaparkannya, hingga saat ini sudah ada 138 negara-negara yang ada di PBB dan Organisasi Kerjasama Islam atau OKI yang terdiri dari 57 negara juga telah mengakui keberadaan Palestina.

“Kita harus tetap menggelorakan sokongan ke masyarakat muslim lainnya, terutama generasi muda bahwa Palestina merupakan negara Muslim yang wajib kita akui keberadaanya,” pungkas Nikmatus. (had/red)