Jasa Lingkungan Potensi Bisnis untuk BUM Desa

Foto: Pietra Widiadi. (ist)

Oleh : Pietra Widiadi

Seri webinar Pojok Desa dan TV Desa Kemendes, kali ini membahas tentang Jasa Lingkungan sebagai potensi usaha bagi BUM Desa. Dalam sesi kali ini, pemantik diksusi adalah Pietra Widiadi, founder Dial Foundation pemilik brand Pendopo Kembangkopi dan Moch Yasir Sani, Project Menejer Peduli, Kemitraan.

Temannya cukup menggelitik dan memberikan referensi bagi pembangunan BUM Desa. Desa sebagai sebuah entitas usaha, dalam hal ini melalui pengembangan BUM Desa memiliki aset yang cukup besar, namun sering tidak cermat untuk ditemukan dan dikembangkan.

Mengapa hal ini terjadi, salah satu sebabnya adalah pengetahuan dan pemahaman aset yang tidak cukup dari pengelola BUM Desa.

Kapasitas yang belum cukup mengakibatkan, analisa dan pemetaan aset desa menjadi tidak cukup komprehensif.

Umumnya yang dikembangkan hanya merujuk pada usaha biasa saja, usaha seperti usaha yang dikembangkan warga pada umumnya.

Dalam hal ini BUM Desa harusnya melampau kapasitas usaha warga, tidak sekedar sebagai grosir, atau usaha pulsa listrik atau telepon genggam tapi sudah masuk dalam ranah yang tidak dikelola oleh warga, namun memberikan keuntngan secara ekonomi dan sekaligus keuntungan ekologis desanya.

Salah satu potensi adalah Pemanfaatan Jasa Lingkungan (Payment for Ecosystem Services disingkat PES).

Pemanfaatan jasa lingkungan merupakan pemberian insentif kepada masyarakat atau pemilik aset untuk mengelola asetnya berupa tanah atau lahan dan sumber daya alam dengan cara yang dapat menghasilkan jasa ekologis yang berkelanjutan.

Ini merupakan jasa ekosistem yang mendatangkan ‘keuntungan dari alam’ untuk perseorangan, keluarga, masyarakat dan negara. Pemanfaatan jasa lingkungan merupakan transaksi sukarela.

Jasa lingkungan adalah produk sumberdaya alam hayati dan ekosistem berupa manfaat langsung (tangible) dan manfaat tidak langsung (intangible) yang meliputi antara lain jasa wisata alam/rekreasi, jasa perlindungan tata air/hidrologi, kesuburan tanah, pengendalian erosi dan banjir, keindahan, keunikan, keanekaragaman hayati, penyerapan dan penyimpanan karbon.

Dengan demikian manfaat yang diperoleh masyarakat merupakan hubungan timbal-balik yang dinamis yang terjadi di dalam lingkungan hidup, antara tumbuhan, binatang, dan jasa renik dan lingkungan non-hayati.

Terkait dengan hal itu, maka umumnya kapasitas warga di suatu desa kurang memiliki kapasitas dan mereka tidak akan melakukan usaha semacam ini.

Untuk itu, ini adalah peluang besar bagi BUM Desa. Pengembangan ini tentu tidak sederhana dan tidak mudah, karena ukurannya tidak hanya sekedar mendapatkan ekonomi semata tetapi juga memberikan dampak yang positif terhadap pelestarian sumber daya alam dan lingkungan.

Pengelolaan distribusi air untuk memenuhi kebutuhan warga masyarakat yang diambil dari sumber air yang ada di desa dan mengidentifkasi kawasan tangkapan air adalah sebuah keniscayaan.

Sumber air hanya sebuah saluran air yang keluar ke permukaan tanah dan air yang ada diperoleh dari kawasan tangakapan air.

Dari perspektif itu, maka desa atau warga desa yang memanfaatkan air, bahkan pihak ketiga dari luar desa yang memanfaatkan air dari sumber air, wajib memberikan kontribusi untuk melakukan perlindungan kawasan tangkapan air, sehingga sumber air tetap terjaga.

Kontribusi ini berupa imbal saja atau pembayaran jasa pada lingkungan berupa perawatan, penghijuan dan penjagaan kawasan tangkapan air dan sumber air supaya tetap dapat memberikan ketersediaan air bagi kebutuhan mahluk hidup.

Ini tidak terbatas pada manusia tetapi juga makhluk hidup berupa tanaman pangan, seperti sawah padi atau pengairan tanaman pangan yang lain.

Hal ini, meski pun belum banyak dilakukan tapi sudah ada dan dikembangkan. Jadi dana yang diperoleh dari imbal jasa itu memberikan dukungan pendanaan pada masyarakat yang mengelola, memelihara dan melindungi kawasan tangkapan air itu dalam mengembangkan mata pencahariannya, seperti berkebun dan bertani.

Salah satu contoh, dalam kapasitas kabupaten dan kota adalah pelaksanaan imbal jasa lingkungan yang dikembangkan di Kota Mataram terkait dengan pemanfaat air yang dikonsumsi oleh warga kota melalui PDAM.

Banyak contoh yang dapat dikembangkan, ini adalah potensi besar bagi BUM Desa untuk mengembangkan usaha dalam perspektif usaha hijau, atau green business.

Penulis : Pietra Widiadi Founder Dial Foundation pemilik brand Pendopo Kembangkopi. (*)