Kota Malang Bakal Punya Museum Kematian di Sukun

Profesor Djoko Saryono (kiri), dan Hariani saat diskusi museum "Koeboeran Londo", di TPU Nasrani Sukun, Kota Malang, Sabtu (20/2/2021) (ned)

BACAMALANG.COM – Kota Malang bakal punya satu museum lagi. Museum itu lokasinya di kawasan Taman Pemakaman Umum (TPU) Sukun Nasrani, di Kecamatan Sukun Kota Malang.

“Sebenarnya kami masih mengharapkan saran apakah memang akan jadi museum atau semacam galeri,” ungkap Hariani, dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Sabtu (20/2/2021).

Wanita yang sebelumnya menjabat sebagai jurubicara Pokdarwis Koeboeran Londo di TPU Sukun ini mengatakan, pada intinya museum ataupun galeri ini akan mengusung nama “Koeboeran Londo”.

Ia menuturkan, bahwa pengunjung nantinya bukan hanya menghadiri pemakaman saja, namun dapat melihat koleksi makam, mulai foto-foto, mulai para tokoh dan prosesi pemakaman, hingga alat musik seperti piano dan gitar.

“Intinya kami ingin mengedukasi bahwa pemakaman itu bukanlah sesuatu yang menyeramkan, ada sisi lain yang juga tak kalah menarik untuk disimak, apalagi di sini banyak makam kuno jaman Belanda maupun Jepang dengan segala aksesorisnya,” jelasnya.

Hariani juga menerangkan, bahwa nanti ada ada story telling juga terkait koleksi yang ada. Ia menyebut nama Dolly, atau Madam Dollira Chavid, bos lokalisasi prostitusi Gang Dolly Surabaya.

“Selain itu mungkin tidak banyak yang tahu kalau G. Chr. Renardel de Lavalette, yang mempunyai saham besar dalam pendirian Rumah Sakit Lavalette juga dimakamkan di sini,” ungkapnya.

Namun Hariani mengaku pihaknya juga terus berupaya mengumpulkan data maupun koleksi untuk kelengkapan museum atau galeri yang dijadwalkan akan dibuka bersamaan dengan HUT Kota Malang pada 1 April 2021 mendatang.

Sementara Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Profesor Djoko Saryono berharap, museum atau galeri ini nantinya berkonsep sebagai live museum, bukan hanya sekedar menampilkan artefak saja.

Menurut dia, mendirikan museum memang tidak sederhana, karena selain sebagai galeri untuk publik, sebaiknya juga menampilkan berbagai fungsi.

“Nanti akan ada fungsi rekreatif, yang mungkin bisa dihubungkan dengan dark tourism misalnya. Sementara itu jika ada fungsi edukatif, tentu museum ini akan menjadi tempat diskusi orang-orang dari berbagai disiplin ilmu, mulai antroplogi, arkeologi hingga sastra,” paparnya.

Djoko mengatakan, bahan diskusinya tentang kematian itu sendiri, baik dari upacara, tradisi, sejarah kemanusaiaan, kebudayaannya, maupun penyakit yang terjadi berdasarkan tulang belulang yang ada.

“Namun jangan lupa, nanti bisa juga ditambahkan fungsi sosial, fungsi spiritual serta fungsi ekonomis,” tandasnya. (ned/zuk)