Seniman Multitalenta Azis Franklin dalam Kenangan

Azis Suprianto (paling kiri), dalam suatu kesempatan pentas dengan instrumen Sape di Hotel Tugu Malang beberapa waktu lalu. (ned)

BACAMALANG.COM – Dunia seni berduka, seniman multitalenta Azis Suprianto meninggal dunia akibat sakit kanker stadium akhir yang dideritanya, Jumat (19/2/2021).

Pria kelahiran Malang, 15 Februari 1966 dengan nama lengkap Yohannes Azis Suprianto ini dikebumikan di Pemakaman Nasrani Sukun, dalam suatu peribadatan yang dipimpin Djoko Prasetijo, Asisten Imam Gereja Hati Kudus Yesus, Sabtu (20/2/2021). Pemakaman ini juga dihadiri sejumlah kalangan, mulai dari seniman, akademisi hingga tokoh agama.

Kepergian seniman serba bisa dengan nama panggung Azis Franklin ini menyisakan berbagai kenangan bagi para sahabatnya. Salah satunya adalah Bachtiar Djanan, wakil ketua Perkumpulan HIDORA (Hiduplah Indonesia Raya), yang saat ini berada di Medan.

“Saya bersaksi, Mas Azis, demikian saya biasa menyapanya, beliau adalah orang baik, sosok seniman yang tulus ikhlas, dan ringan tangan dalam mensupport siapapun kawan-kawan yang sedang punya gawe. Saya yakin semua rekan-rekan seniman dan aktivis di kota Malang pasti mengamini pernyataan saya,” ujarnya dalam sebuah memoar, Sabtu (20/2/2021).

BACA JUGA : In Memoriam Aziz Franklin, Sempat Diusulkan Masuk Nominasi Ikon Prestasi Pancasila

Bachtiar mengaku sebenarnya tidak terlalu ingat kapan pertama kali mengenal Azis.

“Namun yang jelas sudah belasan tahun,” imbuhnya.

Ia mengatakan, telah puluhan kali Azis terlibat dalam berbagai kegiatan edukasi dan entertainment di kafe Warung Kelir. Kafe ini sempat heboh pada tahun 2014 akibat pemutaran film “Senyap”.

“Tapi yang jelas kiprah Azis Franklin bukan hanya sekedar tampil berkesenian, karena ia juga mendukung aktivitas bakti sosial bencana letusan Gunung Kelud, kegiatan-kegiatan pelatihan dan motivasi, sampai mensupport beberapa kegiatan pengembangan desa-desa yang kami dampingi di Banyuwangi,” paparnya.

Atas dasar itulah, kata Bachtiar, Azis selalu membawa atmosfer positif, tak pernah sekalipun menunjukkan sikap negatif, tak pernah menjelekkan orang lain, tak pernah terlihat marah, tak pernah “sambat” dan selalu hadir dengan wajah “sumringah” lengkap dengan senyumnya yang meneduhkan.

Dengan cerdik ia bisa menyembunyikan rasa lelah maupun beratnya beban kehidupan, sekaligus membungkusnya dengan suasana positif dan gembira.

“Ini bukannya melebih-lebihkan, tapi memang seperti itulah demikian adanya. Bahkan saya sebetulnya “iri” pada spiritnya, yang jika boleh saya simpulkan, orientasi beliau dalam berinteraksi dengan orang lain adalah bagaimana menyenangkan orang lain,” urainya.

Bachtiar menilai Aziz bisa demikian cairnya dalam berkomunikasi dengan siapa saja, baik kepada yang lebih tua, maupun kepada anak-anak, dan membuat semua orang tersenyum bahkan terbahak-bahak dengan aneka sulap, dongeng, boneka anak, permainan musik, akting teater, kreativitas barang bekas, wayang suket, wayang kertas bekas, hipnotis, dan pantomim-nya yang jenaka.

Orangnya sangat sederhana, padahal jika dilihat dari jam terbangnya, Aziz tingkatnya sudah internasional. Seniman yang sempat mengenyam pendidikan teater ini sudah melakukan pementasan di berbagai wilayah Nusantara maupun mancanegara.

“Puncaknya adalah pada bulan Oktober-November 2015, beliau pentas di Das International Theatre, Frankfurt dan Pumpe Theatre, Berlin (Jerman), atas undangan dari Gothe Universitat Am Main Frankfurt,” papar Bachtiar.

Satu hal yang sangat ia sangat kagumi dari Azis adalah mampu mengaplikasikan bakat dan keahlian uniknya itu untuk pengembangan pikiran, mental, karakter, dan kreatifitas anak. Misalnya melalui kegiatan pemanfaatan kembali limbah untuk pengembangan kreatifitas anak, pengembangan metode dongeng untuk memotivasi anak agar mau belajar, hypnotis untuk memotivasi anak menjelang ujian sekolah, pertunjukan boneka untuk menghibur dan menanamkan nilai-nilai edukasi keluarga, melatih teater anak untuk pengembangan karakter anak, sampai program trauma healing untuk kejadian bencana alam.

“Pada beberapa peristiwa bencana alam yang cukup besar seperti gempa di Padang (2009), banjir di Tulungagung, gunung Kelud yang meletus (tahun 1990 dan 2014), beliau tergerak menjadi relawan, menghibur, memberi motivasi, dan menghilangkan trauma dengan hipnotis, yang seringkali itu semua dilakukannya atas inisiatif pribadi secara mandiri tanpa dana ataupun dukungan dari pihak lain, berkeliling dari desa ke desa, dari kecamatan ke kecamatan, menggunakan vespa tuanya,” kenang Bachtiar.

Azis memposting video terakhirnya di YouTube pada tanggal 26 Januari 2021, dengan video lagu berjudul “Banjir Datang”. Bachtiar mengatakan, sudah bertahun-tahun tema lingkungan hidup memang menjadi salah satu fokus karya-karyanya, dengan sering mengangkat warna musik etnik Kalimantan melalui petikan dawai sapek yang dibuatnya sendiri, yang sesekali dipadukannya dengan nada-nada pentatonik Jawa.

“Pada tanggal 12 Februari 2021, di laman Facebooknya, beliau masih sempat menuliskan komentar mengucapkan terima kasih kepada salah seorang seniman senior Jawa Timur yang mendoakannya agar lekas sembuh, yang di-posting di wall Facebook Kak Azis, dan pada hari itulah  Kak Azis dilarikan ke Rumah Sakit Lavalette,” tambahnya.

Setelah itu Azis tak lagi memposting apapun di Facebook-nya, termasuk ketika banyak kiriman ucapan selamat ulang tahun beserta doa-doa semoga lekas sembuh membanjiri wall Facebooknya pada hari Senin 15 Februari 2021, di saat ulang tahunnya yang ke-55.

“Dan hari ini, 19 Februari 2021, empat hari setelah ulang tahunnya, wall Facebook-nya kembali dibanjiri ucapan-ucapan dari sahabat-sahabatnya, yaitu ucapan duka cita, selamat jalan, RIP dan sejenisnya, ungkapan-ungkapan kehilangan dari mereka-mereka yang mengenal sosok seniman multi talenta baik hati dan tulus ikhlas ini,” urainya.

Kini Azis Franklin telah tenang abadi beristirahat di alam seberang sana.

“Walaupun kita semua berduka, tapi saya yakin Kak Azis tetap tersenyum dengan senyuman khasnya yang meneduhkan. Dan saya yakin, pemikiran serta sikap positifnya, dan ketulusikhlasan Kak Azis akan tercatat dengan tinta emas di semesta. Dan semoga menjadi teladan serta inspirasi bagi kita semua. Selamat jalan Kak Yohanes Azis Suprianto. Terima kasih telah menjalankan peranmu sebagai contoh positif, dan telah mewarnai atmosfer kesenian kota Malang dengan warna-warni kreativitas yang sangat indah,” kenangnya. (ned/zuk)