UKM Turen Eksis Saat Pandemi, Ini yang Dilakukan

Caption : UKM Maju Bersama Turen ajak maju semua UKM. (ist)

BACAMALANG.COM – Nilai-nilai gotong-royong menjadi warisan kekayaan kearifan budaya lokal yang wajib dilestarikan.

Hal ini karena terbukti sikap gotong-royong ini menjadi kiat efektif bertahan kala bangsa Indonesia diterpa pandemi seperti sekarang ini.

“Kami menerapkan solusi bertahan dari kondisi pandemi yang menyebabkan ribuan UMKM kolaps. Yaitu lewat cara Bela-beli produk dari sesama pelaku usaha di wilayah lokal. Kami ingin gotong-royong untuk kemandirian,” tegas Ketua UKM Maju Bersama Kecamatan Turen, Shinta Dewi Kuswandari, Sabtu (20/3/2021).

Sekilas informasi, dampak pandemi menjadikan ribuan UMKM gulung tikar dan bangkrut. Hal ini tak ayal menjadikan ribuan pelaku usaha mengalami penurunan penghasilan, dan muncul kelas masyarakat miskin baru.

Shinta menuturkan, kalau ditotal keseluruhan ada 500 UMKM dan UKM di Turen. “Tapi sementara yang masuk grup UKM Maju Bersama Kecamatan Turen ada 225 UKM,” paparnya.

Ia menjelaskan, UMKM dan UKM yang cukup maju di Turen yakni bergerak di produk makanan, minuman, craft dan jasa. “Dari UKM dan UMKM yang bernaung di Maju Bersama, yang sampai sekarang eksis yaitu yang bergerak pada produk mamin, craft dan jasa,” imbuhnya.

Adapun kegiatan yang dilakukan untuk pembinaan UMKM mulai dari pelatihan-pelatihan, membantu perizinan, dan pembinaan untuk penjualan secara online.

“Kegiatan rutin 2 bulan sekali pertemuan rutin dengan pelaku usaha di Kecamatan Turen. Biasanya Kita membahas agenda kegiatan,” katanya.

Menurutnya, kendala pengembangan UMKM yaitu dalam permodalan yang masih minim. “Kendala pengembangan UMKM yaitu dalam permodalan yang masih minim, penjualan secara online masih sedikit peminatnya, serta kurangnya inovasi,” jelasnya.

Pandemi, daya beli, dan harapan

Shinta menjelaskan jika pandemi membawa beberapa dampak pada UKM. “UMKM dan UKM sangat terdampak sekali karena sangat turunya daya beli masyarakat, pesanan merosot (75%) bahkan banyak pelaku usaha yang gulung tikar karena tidak adanya pesanan. Sebagian juga kembali fokus menjadi petani,” terangnya.

Shinta mengungkapkan, pihaknya ingin menjalankan Sinergitas dengan DINKOP, DISPERINDAG dan juga instansi yang ada di Kecamatan Turen.

Menariknya, saat ini sebagian UMKM dan UKM sudah mempunyai katalog produk. Sedangkan untuk omset secara total rata-rata Rp 15-20 juta per bulan.

Lebih jauh Shinta menjelaskan tentang solusi bela-beli produk UKM. “Bela beli maksudnya Kita sama-sama membeli produknya UKM teman sendiri untuk memenuhi kebutuhan Kita. Agar perputaran uang tetap terlokalisir,” jelasnya.

Ia mempunyai harapan bisa semakin berkembang dan maju. “Harapannya semoga UKM Maju Bersama Kecamatan Turen berkembang maju menjadi wadah untuk pelaku-pelaku UKM yang ada di Kecamatan Turen. Mendapatkan kemudahan untuk produk-produk UKM bisa masuk swalayan. Kami sudah mempunyai IG dan FB yaitu : UKM Maju Bersama Kecamatan Turen,” pungkas Shinta mengakhiri. (had)