Direktur LEKAS : Perfomance Incumbent Bisa Dijadikan Senjata Pemukul Oleh Rival

Direktur LEKAS Didir Kurnianto (ist)

BACAMALANG.COM – Seiring semakin dekatnya jadwal pendaftaran Pilbup Malang 2020 suhu politik di bumi Ken Arok mulai memanas.

Peluang menang pasangan SANDI bisa dikatakan cukup besar. Hampir semua bahan bakar pilkada sudah dipunyai. Satu-satunya yang kurang hanyalah masalah performance incumbent yang semenjana atau malah kurang baik kalau tidak bisa dikatakan buruk.

Grass root sudah banyak yang mahfum bahwa incumbent kualitasnya ya begitu-begitu saja. Tidak istimewa. Sedang-sedang sajapun juga banyak yang meragukannya. Kekurangan ini harusnya bisa diakumulasi sebagai senjata utama kubu lawan untuk memukul petahana.

Hal ini setidaknya dikatakan Direktur Lembaga Kajian Strategis (LEKAS) Didit Kurnianto, Kamis (20/8/2020).

“Grass root sudah banyak yang mahfum bahwa incumbent kualitasnya ya begitu-begitu saja. Tidak istimewa. Sedang-sedang sajapun juga banyak yang meragukannya. Kekurangan ini harusnya bisa diakumulasi sebagai senjata utama kubu lawan untuk memukul petahana,” terang Didit Kurnianto.

Pria alumnus Universitas Airlangga ini mengatakan, pertanyaannya menjadi, bisakah calon lawan SANDI menggunakan isu ini dengan baik dan cantik.

Sejauh ini secara personal dan profesional, Latifah mampu untuk melakukannya meski dengan berbagai syarat.

Syarat utama adalah kemampuan dan analisa komunikasi politik yang harus ekselen alias sempurna.

Team yang berdiri di belakang Latifah mesti bisa mengolah bahan yang baik, untuk bisa dijadikan alat dalam “menyerang” secara sangat baik sebegitu juga “bertahan” dengan sama baiknya.

Apa yang jadi kelemahan petahana haruslah di eksplore semaksimal mungkin. “Ini bukan berarti akan terjebak dalam negatif campaign, kalau cerdas dalam mengolahnya. Demikian juga dengan kelebihan petahana juga harus dimanfaatkan dengan baik juga, agar tidak menjadi senjata efektif petahana mendulang simpati rakyat Kabupaten Malang,” jelas pria yang juga berbisnis kuliner ini.

PKB , NU , Banom Pecah

Pria mantan aktivis mahasiswa ini menuturkan, kondisi pecah pada PKB, NU dan Banom sudah terjadi sejak awal saat dr Umar berkeyakinan untuk nyalon.

Dari pecah yang selebar rambut di awal hingga sekarang yang semakin melebar dan jelas kelihatan.

“Urusan begini memang bagian lakon belakang layar. Depan panggung, urusan DPP PKB sendiri. PKB biar bagaimanapun adalah representasi Cak Imin itu sendiri. Dengan alotnya rekom dr Umar ini jelas menunjukkan bahwa cak Imin tidak mantab hati dalam mendukung dr Umar, meskipun secara kelembagaan Nahdliyin sudah jatuh hati dengan dr Umar,” ujar mantan aktivis 98 ini.

Didit menjelaskan, perhitungan-perhitungan DPP PKB akan bermuara hanya ke Cak Imin. Alhasil kalkulasi politisnya akan lebih personal sifatnya.

Belum lagi kalkulasi-kalkulasi lain seperti kekuatan dana dan lain sebagainya. Ini membuat kenapa pilihan akhirnya jatuh ke Latifah lebih mudah dipahami.

“Sederhananya, kenapa repot-repot rekom orang lain kalau semisal ada saudara sendiri yang bisa ?. Persoalannya adanya pecahan di awal pasti nanti akan bisa diakomodir dengan cara-cara tersendiri yang kita tidak tahu,” pungkas Didit. (had/zuk).