Tiga Mahasiswa Dicokok Polisi, Kepergok Transaksi Ganja di Kantin UM

Foto : Konferensi pers Polresta Malang Kota. (ist)

BACAMALANG.COM – Peredaran narkoba dan obat-obatan psikotropika saat ini semakin massif di Kota Malang dengan menyasar kampus sebagai lokasi transaksi, sehingga kewaspadaan perlu ditingkatkan.

Kali ini, dua pengedar ganja dan dua pembeli ganja saat bertransaksi di kantin Universitas Negeri Malang berhasil dicokok unit Reskrim Polres Malang Kota. Ganja seberat 1 kilogram itu diedarkan setelah mendapat kiriman dari Medan.

Kapolresta Malang Kota, Komisaris Besar Polisi Leonardus Simarmata mengatakan, tiga mahasiswa itu adalah FIP (23) beralamat di Lowokwaru, Kota Malang, AKW (20), warga asal Poncokusumo, Kabupaten Malang, dan Agam (23), asal Tangerang. Hanya Acok atau ASW yang berstatus pekerja swasta.

Dikatakannya, kasus ini bermula dari FIP yang memesan ganja 1 kilogram dari medan dengan harga Rp6,5 juta. AKW rekan kuliahnya bertugas mengambil barang dari jasa ekpedisi. 

Selanjutnya, barang itu diedarkan dan mereka bertransaksi dengan pembeli Agam dan Ucok di Kantin UM.

Leonardus menuturkan, mereka ditangkap di kantin UM. FIP membeli dari Medan 1 kilogram ganja. AKW mengambil ke ekspedisi. Sementara untuk 750 gram dibeli Acok kemudian dijual ke Agam.

Leonardus mengungkapkan, ganja itu dijual di kantin UM karena dua pengedar ganja merupakan mahasiswa UM. Sesuai pengakuan tersangka, mereka baru pertama kali menjual ganja. FIP dan AKW menjual ganja dengan harga Rp13 juta atau dua kali lipat dari harga yang dibeli.

Dijelaskannya, Agam dan Acok berstatus pembeli sedangkan FIP atau AKW pengedar sehingga ancaman hukuman berbeda. Untuk pembeli dijerat pasal 111 ayat 1 UU 35 tentang Narkotika tahun 2009, kalau penjual dijerat pasal 114 ayat 1 UU 35 tahun 2009.

Leonardus mengungkapkan, pihaknya masih mendalami jasa ekpedisi yang menerima pengiriman ganja ini. Untuk mengelabuhi petugas ekspedisi, ganja yang dipesan dari Medan ini dibungkus dengan kemasan berwarna cokelat. Keterangan bungkusanpun diberi keterangan sebagai barang pecah belah.

Polisi pun akan meminta keterangan dari pihak terkait seperti jasa ekspedisi.

Dikatakannya, pihaknya masih menyelidiki dan dalami ekspedisinya.

“Kami masih menyelidiki dan dalami ekspedisinya karena mereka mengelabuhi dengan ditulis barang pecah belah. Kami dalami jaringan yang memanfaatkan jasa ekspedisi untuk memutus mata rantai peredaran narkotika yang menggunakan jasa ekspedisi,” tegas Leonardus, Jum’at (21/2/2020). (Had)