Hadapi Pandemi Covid-19, UB Bersama Masyarakat Kampung Cempluk Simulasi PSBB

Foto : Tim Simulasi PSBB di Kampung Cempluk. (ist)

BACAMALANG.COM – Menghadapi pandemi Virus Covid-19, Universitas Brawijaya (UB) bersama masyarakat Kampung Cempluk di Desa Kalisongo Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, menggelar simulasi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

“Dalam menghadapi pandemi Virus Covid–19, kami bersama UB menggelar simulasi PSBB,” terang Tim Penyelenggara Simulasi PSBB Kampung Lingkar Kampus Kepala Dusun, Slamet Cia, Selasa (21/4/2020).

Seperti diketahui, penanggulangan wabah Covid-19 terus dilakukan semua elemen, pemerintah dan masyarakat agar wabah Corona segera hilang.

Tak ketinggalan UB bersama masyarakat di lingkar kampus UB Dieng tepatnya di desa Kalisongo yang dijuluki “Kampung Cempluk”, menggelar simulasi PSBB pada 17-18 April 2020.

Simulasi ini bertujuan untuk memahamkan masyarakat jika terjadi keadaan darurat bahkan kemungkinan terburuk jika ada warga yang terjangkit Corona.

Mulai caranya mengatasi pasien positif Covid-19, cara menangani warga yang meninggal dunia akibat Corona, dan cara memakamkan jenazah.

Simulasi juga mensosialisasi cara hidup bersih dan sehat bahkan membagi sembako untuk memenuhi kebutuhan pokok warga saat PSBB berlangsung.

Simulasi PSBB yang digelar mulai Sabtu jam 18.00 sampai Minggu 18.00, melibatkan warga RW 02 Desa Kalisongo yang akan menjadi kontributor komunikasi.

Selama PSBB warga tetap tinggal di rumah menggunakan fasilitas komunikasi zoom meeting, tipi kampung, dan wa grup.

Slamet Cia, menjelaskan, kegiatan ini merupakan rangkaian sinergitas kampung dan kampus dalam menyiapkan kondisi pagebluk semacam ini.

“Sehingga dari sinergitas ini warga kampung cempluk siap dan juga tidak panik serta bahu-membahu untuk saling menguatkan terutama aspek psikologis kolektif warga dengan mandiri,’ jelas Slamet.

Sementara itu, Kepala Satgas Covid-19 UB dr Aurick, menuturkan, kegiatan ini sangat bagus diinisiasi warga kampung sehingga terbangun spirit kemandirian dengan belajar secara terukur bagaimana menangani dari aspek medis di masyarakat.

“Sehingga tidak terjadi kepanikan dan dalam hal ini tim medis akan sangat terbangun jika terjadi kesadaran saling bergotong-royong dalam menangani pagebluk ini, terutama di Kampung Cempluk,” tandas dr Aurick. (had)