Potret Geliat Kebangkitan Usaha Kala Pandemi di Kota Batu

Caption : Alfian Angga Saputra, jualan martabak imut di Jalan Brantas Kota Batu.(ist)

BACAMALANG.COM – Adanya pandemi juga menjadi momentum kebangkitan dan kemandirian usaha masyarakat menengah ke bawah.

Hal ini ditandai dengan maraknya spirit usaha agar tetap eksis di tengah serangan pandemi yang menjadikan ribuan perusahaan tutup, PHK massal dan munculnya orang miskin baru.

Kota Batu sebagai Kota pariwisata mempunyai banyak destinasi wisata yang dilengkapi dengan pendukung semisal banyaknya hotel, penginapan dan usaha kuliner.

Namun seiring dengan adanya pandemi, maka okupansi hunian menurun sehingga menimbulkan dampak ekonomi terhadap sektor pariwisata, perhotelan dan kuliner.

Hal ini tak ayal menjadkan sebagian masyarakat yang mempunyai pengalaman di dunia kuliner perhotelan, bangkit untuk mandiri membuka sejumlah usaha kuliner di rumah masing-masing.

Kuliner Unik

Salah seorang pelaku usaha kuliner dengan background kerja perhotelan adalah Hendrawan Setiyanto alias Nawi Bagong. Ia pernah menjadi chef 9 tahun, kini sukses mengelola usaha kuliner spesialis nasi goreng (Nasgor) di Kota Batu.

Ia berhenti menjadi chef karena ingin memulai usaha sendiri membuka usaha nasi goreng berbekal modal awal Rp 750 ribu.

Prihatin pandemi

Hendrawan mengaku sangat prihatin karena banyak orang kecil yang kehilangan kerja karena pandemi. Sementara untuk mencari pekerjaan lain yang baru, peluangnya sangat kecil.

Ia mengatakan, pandemi tidak hanya pengaruh terhadap usaha tetapi juga kehidupan usaha kurang maksimal omzetnya.

Ia menyebutkan, bidang usaha yang eksis (tetap prospektif) saat pandemi adalah bidang usaha jasa terutama kuliner karena mungkin orang enggan keluar rumah, akhirnya cari makanan terutama online atau cepat saji.

Ia mengungkapkan, solusi bidang ekonomi saat pandemi mengatasi kehilangan sumber nafkah, adalah menjual jasa semisal menjualkan dagangan orang lain tanpa modal.

Sementara solusi permanen adalah kalau punya modal mulailah berwirausaha dengan melihat pangsa pasar yang bisa menjamin untuk menopang ekonomi.

“Usaha bisa tumbuh adalah dengan melakukan inovasi terobosan membuat menu dan taste yang benar-benar berkualitas,” urainya.

Martabak Mungil

Pelaku usaha kuliner lainnya yang sukses adalah Alfian Angga Saputra, berjualan Martabak Ayam Mini Pamisya Food di Jalan Brantas Kota Batu.

Ia buka sejak Maret 2020 dengan modal pertama Rp 14 ribu, dengan pinjam rombong, kompor, sampai tabung gas.

‘Saya suka kuliner, belajar sendiri dibantu mertua saya awalnya. Kebetulan saya juga kerja di Hotel Pohon Inn,” urainya.

Alfian mengatakan, dirinya prihatin dengan adanya pandemi yang sudah terdampak semuanya, tapi menurutnya dengan adanya pandemi, bisa memotivasi orang, untuk menimbulkan kreativitas baru.

“Jadi kembali kepada kreativitas masing-masing. Jadi untuk rezeki akan tetap terbuka buat Kita asal Kita tetap berusaha dan ikhtiar,” paparnya.

Ia menceritakan dampak pandemi pada tempat kerjanya. “Dengan adanya pandemi dampak saya sebagai karyawan hotel harus bekerja dengan 15 hari kerja dalam sebulan. Tapi disitu harus bisa manfaatkan waktu tersebut, tetap jangan menyerah,” tuturnya.

Ia menyebutkan, untuk pandemi ini usaha kuliner tetap menjanjikan. Karena, dengan bisnis kuliner orang bisa menyisihkan modal yang tidak begitu banyak, resiko pun tidak terlalu besar.

“Saran saya, buat semua saudara Kita, tetap usaha di bidangnya masing-masing. Karena kalau Kita usaha d bidang yang Kita suka, InshaAllah Kita akan tetap semangat buat menjalankan dan yang pasti tetap ikhtiar dan beramal,” urainya.

Alfian menuturkan agar bertahan diharapkan kreatif dalam bidang kuliner, berjalan d bidang kuliner yang menurut semua kalangan masyarakat suka, agar usaha kuliner tetap berjalan.

Solusi lain adalah harus ada modal yang besar pastinya, tapi karena pandemi untuk mendapatkan modal sangatlah susah. “Saran saya mencoba usaha kuliner yang kecil saja tapi yang membuat masyarakat dari anak kecil sampai tua bisa menikmatinya,” pungkas Alfian. (had)