Diversifikasi Teras Berita

Foto: Yunanto, wartawan senior Malang Raya Harian Sore "Surabaya Post" 1982 - 2002. (ist)

Oleh: Yunanto

BACAMALANG.COM – Terminologi diversifikasi (penganekaragaman) kerap dipakai dalam perbincangan masalah pangan. Satu jenis bahan pangan mentah diolah menjadi banyak jenis makanan siap saji, itulah diversifikasi pangan. Ada faktual kreativitas dan daya inovasi dalam diversifikasi dimaksud.

Di jagat publisistik praktika (jurnalistik) juga ada diversifikasi teknik penyajian berita. Membosankan khalayak komunikan media, jika bentuk karya jurnalistik “begitu-begitu saja”. Nampak mencolok pada karya jurnalistik berbentuk straight news atau spot news di media siber.

Diversifikasi karya jurnalistik berbentuk straight news atau spot news paling mudah dikonkretkan lewat teras berita atau lead. Secara langsung judul berita pun akan terdiversifikasi. Hal itu sesuai dengan kaidah judul berita. Intinya, judul diperas dari teras berita.

Setelah terjadi diversifikasi judul dan teras berita, secara langsung terjadi diversifikasi di tubuh berita. Pasalnya, tubuh berita adalah uraian detil dari teras berita yang intisarinya ada di judul berita. Maka judul, teras berita dan tubuh berita menjadi satu kesatuan yang utuh.

Enam Macam
Saya mencermati karya jurnalistik berbentuk straight news atau spot news di berbagai media siber. Bentuknya dari waktu ke waktu, hingga kini, “begitu-begitu saja”. Konkretnya, selalu berbentuk what lead dan who lead. Tak terhindarkan, varian kalimat judul pun “begitu-begitu saja”.

Makna what lead adalah teras berita yang dibuka (diawali) dengan elemen apa. Contoh: Pengambilan paksa jenasah pasien Covid-19 di…dan seterusnya. Begitu pula who lead, adalah teras berita yang dibuka dengan elemen siapa. Contoh: Bupati Malang, H. M. Sanusi, MM melakukan…dan seterusnya. Varian judul pun didominasi dua elemen bahan berita tersebut.

Memang, intisari berita terdapat pada elemen what dan who. Berita peristiwa, berita pendapat, maupun gabungan berita beristiwa dan berita pendapat. Hal tersebut bertolak dari “kiblat” berjurnalistik dari aspek kadar fakta yang dikandung. Ada fakta peristiwa, fakta pendapat, serta gabungan fakta peristiwa dan fakta pendapat.

Kendati demikian teras berita tidak harus selalu diawali dua elemen berita what dan who. Ada enam elemen bahan berita, yaitu 5W + H. Berarti ada enam macam varian teras berita atau enam macam lead. Teras berita sangat variatif, sesungguhnya.

Enam macam teras berita dimaksud, rincinya: what lead, who lead, how lead, why lead, where lead dan when lead. Varian kalimat judul berita pun semakin beragam, sealur dengan variasi teras berita. Begitu pun tubuh berita. Maka terciptalah karya jurnalistik yang variatif. Tidak membosankan dari aspek penyajian.

Kadar Aktualitas
Variasi teras berita yang nyaris tidak pernah digunakan adalah when lead. Padahal, teras berita jenis ini menonjolkan kehangatan berita. Selain itu juga pendongkrak bobot nilai berita dari aspek nilai kadar aktualitas peristiwa. Elemen when “dijual” di judul berita pun sangat memikat.

Tentu, jurnalis bukan ahli nujum. Plus minus when lead selalu ada. Kekuatan elemen when terletak pada peristiwa teragenda. Misal, Presiden Jokowi diagendakan meninjau Waduk Karangkates di Kabupaten Malang, Senin pagi pekan depan.

When lead yang bagus: Senin pagi pekan depan, Presiden Jokowi meninjau Waduk Karangkates di Kabupaten Malang…dan seterusnya. Judul berita pun diawali elemen when, seperti ini: Senin, Presiden Jokowi ke Waduk Karangkates.

Minus elemen when muncul pada peristiwa tidak terduga atau tidak dapat diprediksi pasti (akurat). Misal, peristiwa bencana alam, kecelakaan lalu lintas, kebakaran dan aneka bentuk tindak pidana. Sehingga mustahil membuat when lead seperti ini, misal: Awal pekan depan Pasar Kepanjen bakal terbakar…dan seterusnya.

When lead prediksi masih dimungkinkan, jika elemen who (narasumber) kredibel, kapabel dan memiliki legal standing yang sahih.

Misal, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi di kawasan Malang Selatan dan sekitarnya akan turun hujan lebat disertai angin kencang mulai awal pekan depan. When lead bisa disusun begini: Mulai awal pekan depan diprediksi bakal terjadi hujan deras disertai angin kencang. Prakiraan tersebut dirilis BMKG untuk kawasan Malang Selatan dan sekitarnya…dan seterusnya.

Di Balik Peristiwa
Tidak kalah menarik, varian why lead dan how lead. Varian ini “menjual” informasi tentang “sesuatu” di balik peristiwa atau di balik what dan who.

Syarat why lead dan how lead adalah akurasi elemen tersebut harus tinggi (sangat akurat). Bila diibaratkan, elemen what dan who asapnya, maka elemen why dan how adalah apinya. Galibnya, tidak ada asap tanpa api sebelumnya.

Why lead tentu saja berupa teras berita yang dibuka dengan jawaban atas elemen mengapa atas what dan who. Misal: Kecewa karena suami menikah lagi, Sulastri (35 tahun) nekat membacok Supardi (40 tahun. Peristiwa 351, ayat (2), KUHP (penganiayaan berat) itu terjadi di…dan seterusnya. Varian judul, misal: Suami Nikah Lagi, Senjata Tajam “Bicara”.

Di tubuh berita baru diuraikan ihwal Supardi dan Sulastri adalah pasangan suami-istri. Pencantuman pasal penganiayaan berat dalam KUHP di teras berita, merupakan bentuk pencerahan bagi khalayak komunikan media.

Begitu pun how lead, teras berita yang diawali dengan jawaban atas elemen bagaimana. Misal: Mengenakan seragam polisi berpangkat AKP, Dargombes (37 tahun) menipu puluhan pengguna jalan yang ia “tilang”. Aksi polisi gadungan itu terkuak setelah…dan seterusnya. Varian judul, misal: Berseragam Polisi, Penipu Menebar Tilang Palsu.

Konklusi artikel ini saya tutup dengan ajakan pada kalangan jurnalis muda. Gemarlah bereksperimen dengan tujuan baik dan dengan cara yang baik. Salah satunya, bereksperimen membuat aneka varian teras berita.

Kegemaran bereksperimen tersebut menguntungkan. Tanpa disadari menjadi “lincah” dan semakin cekatan menyusun naskah berita bermutu baik. Berdaya pikat tinggi. Enak dibaca, mudah dicerna.

Catatan Redaksi:
Yunanto, alumni Sekolah Tinggi Publisistik – Jakarta.