Rahmat Kriyantono: Perlu Strategi Retorika Menenangkan Publik

Foto: Rachmat Kriyantono PhD. (ist)

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani telah mengatakan di media jika kondisi ekonomi Indonesia mengalami resesi pada kuartal ke-3 tahun 2020.

Adanya statement dalam pemberitaan ini, dikhawatirkan memantik munculnya kecemasan dan kepanikan sosial.

Dalam ilmu Komunikasi kehumasan, everybody is a PR, PR bagi dirinya dan bagi kelompok/organisasi. You are PR on yourself.

Jadi setiap pejabat negara secara otomatis juga mesti menjaga reputasi bangsa dan negara.

Hindari gampang berkata-kata atau memprediksi suatu hal yang bisa berdampak negatif bagi psikologis massa.

Memang ada prinsip tell the truth sebagai prinsip utama membangun trust, tetapi, komunikasi juga mesti mempertimbangkan dampak pesan.

Harus menanyakan apa relevansi ucapan terhadap kondisi masyarakat? Jangan sampai tell the truth yang malah menyebabkan chaos, konflik, menurunkan semangat masyarakat, atau bahkan membuat public trust hilang terhadap pemerintah.

Pasti Bu Menkeu sudah punya analisis tentang kondisi ekonomi. Jika memang situasi resesi sudah terjadi (saya maklum karena pandemi ini berdampak pada sektor ekonomi global), maka saya kira perlu bijak dalam komunikasi publik.

Perlu strategi retorika yang bisa menenangkan, tapi, tidak mengandung kebohongan publik.

Lebih baik berkata: “Saat ini Kita sedang berusaha membenahi kondisi ekonomi yang memburuk akibat pandemi. Langkah-langkahnya, antara lain….. Kita punya harapan besar mengatasinya”.

Jika pernyataan itu digunakan sebagai strategi “warning” pada masyarakat karena rendahnya disipilin protokol kesehatan, maka perlu menyampaikan rasionalitas relasi kedisiplinan dan ekonomi.

Tapi dengan tetap kata-kata positif. Misalnya, “Harapan besar itu akan lebih mudah tercapai bila Pandemi cepat berakhir, Pandemi berakhir tergantung kedisiplinan Kita patuhi prokes.”

Saat ini, Kita sedang krisis. Krisis bisa lebih memburuk diakibatkan persepsi-persepsi negatif yang menimbulkan rasa panik. Komunikasi krisis harus mencegah panik, bukan menayangkan rasa panik.

Alih-alih positif, pernyataan menkeu bisa memunculkan rasa panik, putus asa masyarakat dan bisa memunculkan kebingungan publik. Apa benar resesi?

Pernyataan tersebut bisa menstimulasi manuver dan santapan politik dari oposisi. Komen-komen feedback dari oposisi, minimal di medsos, akan ramai. Yang muncul adalah kegaduhan dan kegaduhan inilah yang sebenarnya membikin krisis makin rumit. (*).

Penulis: Rachmat Kriyantono. PhD (Ketua Prodi Magister Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya).