Civitas UB Jadikan Blimbing Wuluh Camilan Khas Malang

Foto: Kegiatan PKM. (ist)

BACAMALANG.COM – Manisan merupakan salah satu makanan tradisional yang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia. Salah satu komoditas sayuran yang memiliki prospek menjadi produk olahan ekonomis adalah tomat dan belimbing wuluh. Namun, tomat dan belimbing wuluh cepat sekali rusak karena pengaruh mekanik, kimia dan mikrobiologi sehingga mudah menjadi busuk sehingga pengolahan tomat dan belimbing wuluh untuk memperpanjang masa simpannya sangat penting.

Alternatif yang saat ini digemari masyarakat adalah manisan sayuran dengan potensi pasar manisan tomat dan belimbing wuluh cukup menjanjikan dengan permintaan produk cukup tinggi.

Salah satu UKM yang mengolah aneka sayuran tersebut adalah UKM Si Ti Nursiyah (STN) yang juga merupakan anggota Asosiasi Malang Jatiraya Kabupaten Malang. Produk unggulan UKM STN tersebut diantaranya adalah keripik sayuran seperti, keningkir, junggul, bayam dan terong. Selain itu ada juga produk lain yakni manisan sayuran yang terdiri dari tomat, belimbing wuluh.

Pemilik UKM STN, Siti Nursiyah menjelaskan, bahwa kapasitas produksi keripik sayuran mencapai 3 kg per komoditas sayuran. Sehingga untuk 5 item mencapai 15 kg per hari. Sedangkan produksi manisan sayuran untuk belimbing wuluh mencapai 25 kg dan tomat 15 kg per 3 hari.

“Saat ini kami masih menggunakan teknologi proses produksi manual dan konvensional mulai dari proses pemasakan, penirisan sampai pengemasan hingga kami hanya dapat mencapai 3 kg per komoditas sayuran perhari dan 25 kg blimbing wuluh serta 15 kg per 3 hari produksi,” jelas Ny Siti Nursiyah pemilik UKM, Minggu, (22/11)

Melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Brawijaya (UB) tahun 2020, tim dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB yang digawangi Wendra G Rohmah, bersama dengan Dr. Evi Kurniati, dan Riska Septifani, memberikan solusi tepat melalui teknologi tepat guna Spinner Inverter dan Oven Pengering Kabinet yang mudah diadopsi oleh UKM mitra.

“Melalui fasilitasi Spinner Inverter dan Oven Pengering Kabinet ini kami harap proses produksi menjadi lebih efektif dan efisien, sehingga produktivitas tenaga kerja juga bisa meningkat”, terang Wendra beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, seperti penggunaan Pengering Kabinet dengan kapasitas produksi 10-15 kg per proses, 3 hari bisa menjadi 1 hari saja dengan biaya yang lebih ekonomis dan keuntungan maksimal.

Selain fasilitasi Spinner Inverter dan Oven Pengering Kabinet, tim dosen FTP UB juga memberikan bimbingan teknis dan pendampingan kepada UKM mitra antara lain tentang sistem produksi, cara proses produksi yang baik (CCPOB) atau Good Manufacturing Practices (GMP), manajemen pengelolaan usaha, standar jaminan mutu produk dan juga pemasaran.

“Harapan kami semoga dengan adanya kegiatan ini dapat semakin memotivasi Bu Siti selaku pemilik UKM STN untuk membesarkan usahanya dan menghasilkan produk yang berkualitas dan berdaya saing sebagai produk camilan khas Malang”, pungkas Wendra. (Lis/red)