Ajak Mencintai Sungai, Perum Jasa Tirta I Adakan Ludruk Waduk Bareng Kartolo

Foto : Pagelaran ludruk. (ist)

BACAMALANG.COM – Karena Jatim menjadi salah satu wilayah penyangga air, namun masyarakat masih mengotori air maka kiranya penting diadakan upaya sosialisasi lewat kesenian ludruk.

“Jika perilaku masyarakat tidak diubah, maka air bisa jadi musibah. Kita hidup dekat air tapi sering kali mengingkari eksistensi air,” kata Direktur Utama Perum Jasa Tirta (PJT) I, Raymond Valiant Ruritan.

Seperti diketahui, kepedulian masyarakat terhadap lingkungan khususnya sungai terus diupayakan Perum Jasa Tirta I. Sosialisasi pun dilakukan dengan menggunakan pertunjukan rakyat lewat kesenian ludruk. Dengan menggandeng ikon ludruk Jawa Timur, Kartolo cs, PJT I mengajak masyarakat untuk lebih mencintai sungai.

“Ludruk waduk di Bendungan Sutami Karangkates yang digelar Sabtu malam ini menampilkan Kartolo cs. Lakon yang diangkat berjudul Banjir Kemarau. Ini judul yang sangat kontras untuk memahami banjir di tengah kemarau atau kemarau yang mengalami banjir di situasi serba kontras saat ini,” kata Raymond Valiant Ruritan.

Ia menjelaskan, masa saat ini kontradiktif banyak terjadi. “Ada yang senang gembira, sedih, kaya dan miskin. Untuk itu, kami ajak masyarakat ramah terhadap sungai. Seperti tidak mengotori sungai dengan sampah atau mencemari dengan limbah,” tuturnya.

Raymond menegaskan, Jatim menjadi salah satu wilayah penyangga air untuk kebutuhan hidup masyarakat. Ironisnya, kata dia, masyarakat hidup dari air dan juga mengotori air.

Pertunjukan ludruk lebih dari 150 menit itu cukup menyita perhatian masyarakat Malang, khususnya di wilayah Hulu Brantas di Karangkates. “Ini pendekatan budaya di wilayah hulu. Generasi saya ikut menikmati ludruk saat itu. Dan Sutami ini adalah bendungan pertama di Brantas di Jatim, sehingga kami juga ingin beri hiburan bagi masyarakat sekitar waduk dalam rangka memeringati HUT PJT I ke-30 tahun ini,” paparnya.

Raymond memiliki pandangan khusus dalam memberikan pemahaman pada masyarakat atas pentingnya menjaga kelestarian air dan sungai. “Ludruk ini kesenian yang merakyat dan dinantikan di Jatim sejak lama. 30 tahun (usia PJT I, red) belum pernah nanggap ludruk. Kartolo ini ikon Jatim, sehingga kami juga beri kesempatan ludruk tampil kembali,” katanya.

Pesan moralnya, lanjut dia, dalam bentuk teater rakyat ini juga sebagai sarana mengomunikasikan ide yang paling mudah diterima dan dicerna oleh masyarakat, tanpa perlu berikan prolog berkepanjangan. Dalam menggarap lakon Banjir Kemarau ini, tim Kartolo cs juga cukup serius dalam menyiapkan materi yang disampaikan.

“Banjir Kemarau ini tim kreatif Kartolo minta data wawancara khusus untuk menggali data. Wawancara juga dengan Humas PJT I. Kartolo cs ini orang yang cukup serius dalam menyiapkan pesan lewat pertunjukan yang menghibur. Tentunya ini sangat surprise,” ujarnya.

Pertunjukan seni tradisi ini sebelumnya sudah pernah dilakukan PJT I. “Tahun 1995 dan 2017 kami pernah nanggap wayang. Namun kali ini kami putuskan naggap ludruk dan yang nonton juga banyak. Mumpung kartolo masih bisa pentas juga,” pungkasnya. (Had)