Tingkatkan Skill Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat, EJEF Gelar Pelatihan di Wagir

Foto : Usai pelatihan. (had)

BACAMALANG.COM – Masyarakat perlu diberdayakan dalam mengelola aset yang dimiliki untuk meningkatkan kesejahteraan secara mandiri.

Hal ini dikatakan Fasilitator Agus Sugiarto kepada awak media pada Minggu (23/2/2020) usai gelar pelatihan yang dijalankan selama seminggu di Pendopo Kembang Kopi Glagah Ombo, Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

“Masyarakat perlu diberdayakan dalam mengelola aset yang dimiliki untuk meningkatkan kesejahteraan secara mandiri. Karenanya, adanya pelatihan ini diharapkan bisa mengupgrade skill fasilitator agar bisa memberdayakan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan,” tandas Agus Sugiarto.

Agus menuturkan, kegiatan ini berkaitan erat dengan upaya pengkajian penghidupan lestari atau yang familiar disebut Sustainable Livelihood Approach (SLA).

Adapun materi yang diberikan adalah meliputi Sustainable Livelihood Approach (SLA), pengggalian data informasi, penyusunan Renstra (Rencana Strategi), MEL, pengorganisasian masyarakat, dan refleksi fasilitator.

Pelatihan ini mengusung tema yakni “Membangun tanpa memahami apa yang akan dibangun adalah penghancuran”.

Pelatihan diadakan di Pendopo Kembang Kopi yang diselenggarakan oleh Dial Foundation dan East Java Ecotorism Forum (EJEF).

Fasilitator pelatihan berasal dari koperasi fasilitator Nusantara.

Pelatihan ini sendiri sudah dilaksanakan sejak tahun 2017, sampai dengan saat ini sudah ada 3 angkatan.

Pelatihan ini terdapat 5 seri tema yang dilakukan setiap 2 bulan sekali dengan tujuan mengembangkan praktek-praktek pendampingan dan pembangunan masyarakat (community development).

Total ada sebanyak 30 peserta dalam giat inovatif ini. Mereka berasal dari Jawa Timur, Malang Raya, DIY, Papua, Jambi, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.

Peserta kesehariannya adalah pelaku pembangunan di desa, dari aktifis LSM, perguruan tinggi dan komunitas yang akan mengembangkan program pembangunan kelompok masyarakat, masyarakat desa atau suatu wilayah tertentu.

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan skill fasilitator, agar bisa menjalankan dampingan dan fasilitasi di lokasi tugas masing-masing.

Sementara hasil yang diharapkan adalah peserta mampu menjalankan fasilitasi setelah melakukan tahapan : pengamatan, pengkajian, penghitungan (kalkulasi) atas potensi, aset dan modal pada masyarakat itu sendiri.

Metode Partisipan

Selama seminggu, puluhan peserta terlihat antusias hingga pelatihan berakhir.

Hal ini karena penerapan metode partisipan oleh fasilitator pemateri kepada peserta.

Dimana seluruh peserta diberi kebebasan melakukan sharing wacana, sharing pengalaman, dan konsultasi.

“Kami merasa bersyukur karena giat berjalan sukses dengan menerapkan metode partisipasi dan egaliteris. Sehingga antar peserta dan fasilitator pemateri tidak ada batas agar bebas berinteraksi sharing info, wawasan dan pengalaman,” jelas Agus Sugiarto.

Selain menjadi tugas dalam pelatihan, sebagai simbol komitmen dan kepedulian terhadap gerakan empowering, puluhan peserta membuat ilustrasi, coretan dan kata-kata pada secarik kertas dan ditempatkan pada dinding.

“Kami berharap adanya pelatihan ini bisa meningkatkan kemampuan skill fasilitator agar maksimal bekerja. Pesan penting diharapkan fasilitator bisa memposisikan masyarakat sebagai subyek dan bukan obyek dari sebuah gerakan pemberdayaan,” urai Agus Sugiarto mengakhiri. (had)