Akademisi UB Siap Dukung MBKM Agar Lebih Berkarakter Keindonesiaan

Foto: Webinar mendukung suksesnya (MBKM). (ist)

BACAMALANG.COM – Guna mendukung suksesnya Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di tengah arus digitalisasi, para pakar komunikasi dari berbagai perguruan tinggi berkumpul melakukan diskusi daring.

Diskusi virtual menjajagi Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di tengah arus digitalisasi. diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan pada Selasa (23/2/2021).

“Kami sudah melakukan penelitian atau kajian kearifan timur (perspektif lokal Indonesia). Hasilnya ada yang sudah publikasi internasional berindeks scopus. Kajian kelokalan itu akan berhasil bila masyarakat Indonesia memiliki kebanggaan dengan hasil lokal Kita dan MBKM semakin berkarakter ke- Indonesiaan ,” tutur
Ketua Prodi S2 Komunikasi FISIP-UB, Rachmat Kriyantono, P.hD.

Cak RK, panggilan akrab Rachmat Kriyantono, menjelaskan bahwa semakin tinggi perkembangan teknologi, semakin tinggi pula pengenalan terhadap diri sendiri.

“Melalui MBKM, mahasiswa bisa lebih bebas belajar mendalami keilmuannya. Tujuannya mahasiswa mendapatkan banyak pengalaman di lapangan kerja dan siap terjun di masyarakat,” ungkapnya.

Tiga Jurusan, Tiga Kampus

Sekilas informasi, tiga Jurusan Ilmu Komunikasi dari tiga kampus yakni Universitas Brawijaya Malang, Universitas Mataram, dan Universitas Tadulako Palu ikut hadir. Fasilitatornya adalah Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UB dengan mengusung tema Peluang Pengembangan Keilmuan Komunikasi di Era Pembelajaran Digital Merdeka Belajar Kampus Merdeka.

Ada dua sesi diskusi. Pertama diisi Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP-UB, Dr. Antoni, M. Si. Antoni mengemukakan Jurusan Komunikasi FISIP-UB berusaha membangun ilmu komunikasi yang anti arus utama dan memiliki ciri khas Indonesia.

“Kita tidak anti Barat, karena ilmu yang dipelajari berasal dari sana. Tetapi Kita punya agenda ke-Indonesiaan,” jelasnya.

Kedepannya, menurut Antoni, Jurusan Komunikasi FISIP-UB akan mencoba bekerjasama dengan jurusan komunikasi di kampus-kampus lain mengembangkan ilmu komunikasi yang berbasis kearifan lokal Indonesia itu.

Sesi kedua menampilkan tiga pembicara dari ketiga kampus itu secara panel. Para pembicara itu terdiri dari Rachmat Kriyantono, PhD (Ketua Prodi S2 Komunikasi FISIP-UB), Dr. Ir. Agus Purbatin Hadi, M.Si (FISIP-Unram), dan Dr. Ilyas Lampe, M.Si (FISIP-Untad).

Pada kesempatan yang sama, Ilyas Lampe menyampaikan implementasi, peluang dan tantangan merdeka belajar itu. Targetnya lulusan perguruan tinggi harus kreatif, inovatif, berdaya saing tinggi, memiliki jiwa enterpreneur, dan berwawasan global.

“Tetapi tantangan juga banyak, antara lain masalah magang yang berkualitas, pertukaran mahasiswa, program membangun desa, dan asisten mengajar,” tambahnya.

Agus Purbatin menjelaskan kondisi di NTB dan NTT yang tidak sama dengan di Pulau Jawa. Kata dia, banyak yang harus ditingkatkan, agar pada masa mendatang menjadi lebih baik.

Diskusi yang dipaparkan para Pakar Komunikasi untuk menyambut suksesi MBKM dan digitalisasi ini berlangsung gayeng. Peserta mengajukan pertanyaan dan berlanjut dengan diskusi panel. (*/had)