Sehat Saat Pandemi, Ini Rahasia dari Sekolah Budaya Tunggulwulung

Foto: Ngangsuh Kaweruh di saat New Normal atau tatanan kehidupan baru di Sekolah Budaya Tunggulwulung. (Hum)

BACAMALANG.COM – Sehat saat pandemi, inilah yang dilakukan Sekolah Budaya Tunggulwulung dengan mengedukasi lewat penggunaan massal rempah-rempah yang merupakan kekayaan warisan leluhur bangsa Indonesia.

“Membudayakan rempah-rempah berarti Kita telah menguri-uri budaya dimana rempah-rempah ini adalah bagian dari kebudayaan” ungkap pemateri Eko Mardiono dihadapan para peserta diskusi.

Sekilas informasi, untuk kali kedua Sekolah Budaya Tunggulwulung yang berlokasi di Jalan Sasando No 9 mengadakan Ngangsuh Kaweruh di saat New Normal atau tatanan kehidupan baru.

Masih sama dengan tema pada dua pekan lalu yakni mengupas rempah-rempah.

Berada di ruang pertemuan yang begitu penuh kekeluargaan materi dipaparkan dengan begitu lugas dan sarat pengetahuan.

Pria yang berdomisili di Sukun ini mengatakan bahwa jamu adalah bagian dari rempah-rempah.

Jamu memiliki filosofi yang berasal dari kata jampi dan usaha yang berarti doa untuk kesehatan.

Disamping itu untuk mendongkrak keeksisan jamu harus disokong oleh 5 pilar yakni Pemerintah, akademisi, pebisnis, pemodal dan masyarakat umum. Dari 5 pilar ini harus saling bersinergi agar keberlangsungan jamu dapat tetap bertahan.

Lebih meluas lagi yaitu ada tanaman herbal yakni tanaman atau tumbuhan yang mempunyai nilai atau mengandung zat aktif yang dapat berguna untuk pengobatan.

Beraneka ragam termasuk tanaman herbal terdapat sekitar 1304. Seperti terdapat pada pete, kelor, pecut kuda, sambiloto bahkan pada buah dan sayuran yang bermanfaat untuk pengobatan dapat disebut herbal.

Patut disayangkan sajian dari produk herbal maupun jamu masih kurang diminati jika dibandingkan dengan kopi. Perlu adanya strategi sehingga jamu dan produk herbal lainnya dapat dikemas sesuai permintaan pasar.

Menariknya, pada kandungan tanaman herbal mengandung unsur-unsur energi seperti air, kayu, tanah dan api. Pada unsur-unsur tersebut ternyata dapat menyiratkan kepribadian dan penyakit apa yang dapat diobati.

Diskusi semakin seru, dengan pertanyaan-pertanyaan yang memantik pengetahuan yang lebih luas. Sehingga ada istilah homeo statis tubuh yakni sistem yang ada di tubuh kita yang menjaga keseimbangan fisiologis dan kontrol organ.

Ngangsuh Kaweruh yang diselenggarakan Sekolah Budaya Tunggulwulung patut diapresiasi. Selain menambah pengetahuan juga memberikan kemanfaatan untuk diapresiasi dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kegiatan ini dapat terus berkelanjutan dan berkesinambungan. (WES/Had)