Komunikasi yang Mudah Dipahami dan Paparkan Solusi Resesi

Foto: Pia Wulandari. (ist)

Oleh : Pia Wulandari

Indonesia masuk resesi, setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan di berbagai media, jika proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal III/2020 yang diperkirakan minus 2,9 persen – minus 1,0 persen.

Kondisi resesi ini sebenarnya sudah diprediksi akan terjadi oleh banyak ekonom, jika Covid sulit dikendalikan.

Aneka Respon Publik

Saya akan membahas dampak messagenya Sri Mulyani saja, dan tidak membahas tentang resesi ekonominya.

Sebenarnya sebagai menkeu, Sri Mulyani sedang menjalankan salah satu tugasnya, yaitu menyampaikan kondisi keuangan dan ekonomi negara kepada publik.

Saat ini dia, sebagai menteri, wajib menyampaikan pesan kalau memang negara akan mengalami resesi di kuartal ke- 3 2020.

Statement itu pasti mengundang berbagai macam respon dari publik. Mulai dari respon yang negatif mulai kepanikan, ketakutan, hingga kemarahan.

Tapi ada juga publik yang merespon biasa saja hingga yang positif dengan bisa menerima kondisi itu lalu bersiap-siap menghadapi masa itu dengan bijak.

Namun statement tentang resesi itu sebaiknya jangan hanya sekedar pengumuman sebuah keadaan, namun Sri Mulyani juga harus menjelaskan penyebab terjadinya resesi dan langkah-langkah pemerintah yang akan diambil demi menyelamatkan kondisi itu.

Media Turut Berperan

Lalu teman-teman media selayaknya juga ikut wajib menyampaikan keterangan penyebab dan solusinya.

Jangan terlalu menghighlight pengumuman resesinya saja, bahkan memframing pengumuman itu, seolah-olah negara dalam keadaan genting sehingga menimbulkan kepanikan publik.

Sri Mulyani harus mampu menyampaikan bahwa resesi ini sebagai dampak dari kurang berhasilnya Indonesia dalam mengatasi Covid 19.

Lalu menghimbau masyarakat untuk bersama-sama pemerintah menangani Covid ini demi keluar dari masa resesi.

Kemampuan Meyakinkan Publik

Yang perlu dicegah adalah statement tadi jangan sampai jadi blunder kalau diplintir dengan celotehan netizen atau publik bahwa statement itu justru membuka aib pemerintah yang kurang dalam menangani Covid 19.

Nah disinilah kemampuan komunikasi publik Sri Mulyani diuji. Dia harus meyakinkan publik bahwa kondisi resesi ini bukan hanya dialami oleh Indonesia saja tapi sudah dialami duluan sama negara-negara lain di kuartal ke- 2 tahun 2020.

Dia pun harus menjelaskan bagaimana upaya pemerintah di kuartal ke-2 tahun 2020 agar ekonomi Indonesia tidak masuk ke dalam resesi.

Harus legowo pula bahwa usaha tidak berhasil, bukan karena dia dan timnya gak becus, tapi angka penularan Covid masih tinggi dan terus berlangsung menjadikan ekonomi Indonesia goyah.

Jadi Sri Mulyani harus terbuka menjelaskan kepada publik dengan bahasa yang mudah dimengerti, dan harus pula fokus menyampaikan upaya-upaya pemerintah yang riil mengatasi resesi ekonomi Indonesia.

Ini semua akan bisa berjalan baik jika media juga ikut membantu Sri Mulyani menenangkan masyarakat. Jangan memancing di air keruh demi rating, iklan, oplah, dan keuntungan ekonomi korporasi media saja. (*)

Penulis : Pakar Komunikasi dan Management Krisis Universitas Brawijaya (UB), Maulina Pia Wulandari, S.Sos.,M.Kom.,Ph.D.