Akademisi UB Soroti Pentingnya Informasi Satu Pintu dalam Penanganan Krisis

Foto: Webinar. (ist)

BACAMALANG.COM – Guna menghindari kesimpang siuran informasi saat krisis (pandemi Covid-19) Pakar Komunikasi dan Manajemen Universitas Brawijaya Malang Pia Wulandari mengatakan pentingnya informasi satu pintu.

“Untuk mencegah simpang siurnya informasi saat masa krisis (pandemi Covid–19), maka informasi yang disampaikan kepada publik harus melalui 1 pintu,” tegas Pia Wulandari saat webinar bertema Pentingnya Peran Juru Bicara dalam Masa Penanganan Krisis baru-baru ini.

Seperti diketahui, even webinar digagas oleh komunitas mahasiswa strata 1 dan 2 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya yang bernama PR Chat! dan berkolaborasi dengan UB Experts (Badan Usaha Kepakaran UB).

Selanjutnya, perempuan alumnus FISIP Universitas Airlangga ini mengatakan, juru bicara bukanlah orang yang mencari kepopularitasan, anti lebay dalam berkata dan bertindak, dan berbicara harus berdasarkan data dan fakta yang sebenarnya.

Sementara itu, Johan Budi Sapto, Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2005 – 2016 memberikan pernyataan tentang pentingnya profesi jubir.

“Sebagai Juru Bicara Kita harus paham betul bagaimana menilai sebuah informasi yang ada, dan akhirnya bisa memberikan dampak yang positif untuk lembaga Kita,” terangnya.

Johan juga menjelaskan bahwa seorang Juru Bicara juga harus mampu memberikan saran komunikasi kepada pemimpin lembaga mereka.

“Juru Bicara yang seharusnya memberitahu kepada pimpinan besok harus berbicara apa. Seperti contoh Saya Juru Bicara KPK, saya yang harus menyarankan kepada pemimpin saya besok beliau harus berbicara seperti apa di depan media” ujar Johan Budi.

Dalam ranah perguruan tinggi, keberadaan juru bicara juga sangat membantu menjaga dan meningkatkan reputasi perguruan tinggi.

“Untuk meningkatkan reputasi UB diluar negeri, UB menunjuk juru bicara, yang memang pada saat itu adalah Ibu Maulina Pia sendiri, untuk menyampaikan visi misi secara langsung dan menjalin hubungan dengan Timur Tengah”, ucap Rektor UB periode tahun 2014 – 2018, Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS.

Sementara, dalam dunia hiburan, Abdul Rachman Hidayat atau yang biasa dipanggil dengan Mas Abbe, pendiri Talent Manager, Abbe Talent ini menyatakan bahwa juru bicara memiliki andil yang besar, apalagi pada saat salah satu tallent yang dibawah naungan Abbe Talent diterpa permasalahan.

“Memulai sesuatu itu mudah, mempertahankan itu yang sulit. Maka, juru bicara juga harus bisa menjadi penengah atau mediator bagi kedua belah pihak yang bermasalah sehingga masalah dapat ditangani dengan baik,” jelas Abbe.

Fakta dan Data

Dalam upaya meredam krisis dan menyelesaikan masalah, Johan Budi Sapto Pribowo yang saat ini juga menjabat sebagai anggota DPR RI Fraksi PDIP periode 2019 – 2024, menekankan bahwa informasi yang diberikan harus berdasarkan fakta dan data sebenarnya.

Selain itu, Johan juga menegaskan bahwa juru bicara juga harus menghargai awak media. Maka, untuk memaksimalkan penyampaian data dan informasi kepada publik tersebut, juru bicara juga harus tahu bagaimana berbicara dengan media.

“Pertama, jangan pernah berbohong kepada media. Semua yang ingin dikatakan harus sesuai dengan data dan fakta. Kedua, juru bicara tidak boleh memberikan kalimat yang multitafsir dan ini sangat berbahaya karena bisa menimbulkan tafsiran yang berbeda-beda,” paparnya.

Selain itu, Juru Bicara hendaknya tidak menjawab pernyataan yang belum dipahami jawabannya dan sangat tidak diperbolehkan untuk menjawab no comment.

“Jangan sekali-kali menjawab no comment. Anda Juru Bicara dibayar untuk bicara. Anda tidak bisa mengucapkan itu,” tegas Johan Budi.

Sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Johan Budi, Prof. Mohammad Bisri, guru besar teknik pengairan UB mengatakan, setiap menyampaikan sesuatu harus berdasarkan data yang diperoleh dari hasil riset terlebih dahulu dan paling penting adalah menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru. (hum/had/red)