Pilbup Malang Makin Seru, Akademisi UB Ini Gambarkan Dinamika PKB-NU dan Ladub-Sandi

Foto: Tri Hendra. (ist)

BACAMALANG.COM – Pasca deklarasi Ladub (Hj Lathifah Shohib-Didik Budi Muljono) dan Sandi (Sanusi-Didik Gatot Subroto) kini peta politik dan konstelasi pilbup Malang memasuki babak baru.

“Pastinya saat ini pertarungan pilbup Malang semakin seru. Hal ini karena di tubuh Sandi dan Ladub muncul dinamika internal yang harus dicari solusinya,” tegas Akademisi Universitas Brawijaya, Tri Hendra, Senin (25/ 8/2020).

Loyalis dr Umar Kecewa

Tri Hendra menuturkan, pasca rekom jatuh ke Lathifah dan tidak kepada dr Umar Usman MM, memicu friksi di tubuh NU dan PKB.

“Di satu sisi, ini memang bisa menimbulkan friksi di tubuh PKB dan NU, terutama yang struktural. Butuh waktu konsolidasi yang tidak mudah untuk menyatukan loyalis dr Umar yang kecewa. Apalagi waktu pilkada tinggal 4 bulan lagi,” terang pria alumnus FISIP Universitas Airlangga ini.

Pria yang juga dosen Ilmu Politik UB menjelaskan, adanya fenomena ini tidak berarti menguntungkan bagi kubu Sandi karena sosok Lathifah mempunyai basis massa besar di Kabupaten Malang.

“Dari sisi petahana, sebenarnya tidak bisa disebut ‘menguntungkan’ juga. Terlalu buru-buru menyimpulkan demikian. Sebab Lathifah, bagaimanapun juga, adalah sosok yang sangat popular dan basis massanya bagus di Dapil Malang Raya. Apalagi, dia adalah satu-satunya calon perempuan yang akan bertarung dalam pilkada Kabupaten Malang,” jelas Tri Hendra.

Tri Hendra mengungkapkan, keberadaan Lathifah menjadi modalitas meraup dukungan Fatayat-Muslimat, serta kelompok-kelompok perempuan yang tergabung dalam ormas atau sekedar kelompok pengajian.

PKB – NU Terbelah

Tri Hendra memaparkan terkait soal banom yang merapat ke petahana, itu sudah bisa diprediksi sejak awal.

“Jauh sebelum rekom PDIP ke petahana, ada beberapa tokoh penting NU (saya tidak bisa sebut nama), yang memang jelas mendukung petahana. Itulah kenapa petahana punya cukup kepercayaan diri maju via PDIP,” imbuh Tri Hendra.

Soal rekom PKB yang tidak merekom dr Umar, setidaknya bisa dilihat dari beberapa sudut pandang.

Salah satunya adalah DPP PKB mempunyai referensi, entah hasil survey, pemantauan trend calon potensial, atau masukan dari para pihak di Malang, yang kemudian menjadikan Lathifah sebagai calon potensial yang mereka dukung.

“Atau ada aspek pragmatis lain, hitung-hitungan matematis (untung rugi secara politik dan logistik), sehingga Lathifah dipandang sebagai calon yang ideal,” tegas Tri Hendra mengakhiri. (had/red)