Buku Purnacandra, Buku Festschrift yang Sarat Pesan Universal

Foto: Yusli Effendi. (ist)

BACAMALANG.COM – Berpulangnya Joko Purnomo, salah satu dosen senior Hubungan Internasional (HI) FISIP Universiras Brawijaya (UB) pada 17 Juni 2020 lalu, meninggalkan berbagai kenangan dan hasil karya yang patut mendapatkan apresiasi.

Hal inilah yang mendorong belasan akademisi UB turut menyumbangkan tulisan yang dirangkum dalam sebuah buku. Buku Purnacandra, buku yang dibuat untuk melepas purnatugas dosen Hubungan Internasional (HI), FISIP, UB, telah diluncurkan resmi pada Senin malam, 21 September 2020 lalu melalui webinar.

Yusli Effendi, bersama dengan M. Faishal Aminuddin, merupakan akademisi FISIP UB yang menjadi editor sekaligus penulis di buku ini.

Buku Penghormatan

Buku festschrift (dari Bahasa Jerman) merupakan buku yang diterbitkan untuk penghormatan pada seorang akademisi atau tokoh yang telah selesai menjalankan tugasnya. 

Sub judulnya “Jejak Karya dan Ingatan tentang Joko Purnomo (1978-2020)”, untuk mengenang salah satu dosen senior HI UB yang meninggal pada 17 Juni 2020 lalu karena sakit. 

Pengabdian Suci dan Dedikasi

Joko Purnomo merupakan dosen awal di HI UB dan merupakan lulusan UGM dan Universitas Flinders, Australia.

Ia pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi HI dan Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP UB selama 10 tahun masa pengabdiannya sebagai dosen UB.

Setelah lulus UGM, pria 42 tahun ini sempat aktif di LSM IRE Yogyakarta dan kemudian melanjutkan studi ke Australia dengan beasiswa Pemerintah Australia.

Melibatkan 15 Akademisi

Tidak tanggung-tanggung, sebagai buku untuk melepas dan memberi penghormatan terakhir pada kolega akademisi, ada 15 penulis dan 1 penggambar yang berkontribusi dalam buku ini.

Buku ini ditulis juga untuk menghidupkan tradisi penulisan buku purnatugas (festschrift) yang ironisnya mulai pupus di lingkungan akademisi Indonesia.

Di Malang, setelah sekian lama tidak ada buku sejenis, awal bulan ini ada buku “Tumpeng Akademik” untuk melepas purnatugas pakar linguistik UM, Profesor Effendi Kadarisman.

Dua buku festschrift lain, lahir beberapa tahun lalu untuk merayakan purnatugas professor kampus PTN di Yogyakarta.

Kontribusi Positif

Sebagai pemerhati Kajian Pembangunan (Development Studies), almarhum telah menghasilkan beberapa karya tentang globalisasi dan pembangunan atau hubungan demokrasi dan pembangunan.

Ia hirau pada ketimpangan yang lahir dari kebijakan dan praktik pembangunan yang terlalu mengekor model pembangunan negara-negara Barat.

Saat peluncuran buku ini, selain editor buku, Yusli Effendi dan M. Faishal Aminuddin, pembicara lainnya ialah Wahyu Widodo, dosen ahli Bahasa yang mengulas buku dari sisi linguistik dan Ucu Martanto, sahabat almarhum semasa kuliah yang kini menjadi pengajar di Surabaya. 

Suasana Haru

55 peserta yang hadir saling berbagi kenangan tentang karya dan sisi kemanusiaan almarhum dan sempat larut dalam haru saat adik dan ibunda almarhum mengisahkan sisi lain dan masa kecil Joko Purnomo yang belum diketahui peserta webinar. 

Peserta yang hadir secara daring merupakan kolega, sahabat, mahasiswa, juga keluarga dari almarhum dan berasal dari beragam kota di Indonesia. Diantaranya bahkan tengah berada di luar negeri seperti Belanda, Inggris, dan Australia.

Nilai Universal

Meski diterbitkan untuk akademisi UB, kedua editor buku ini berharap dan berupaya, agar pesan-pesan buku yang memiliki nilai universal dan bisa dijadikan pelajaran atau bahan renungan bagi pembaca yang tidak mengenalnya.

Tulisan Yusli Effendi, misalnya, mengangkat bagaimana pesan soal pendidikan dengan mengutip salah satu karya terkenal sastrawan Lebanon, Kahlil Gibran, yang berjudul Anakmu bukanlah anakmu.

Ia menuliskan, “Ia paham, sebagai pendidik, kami tak elok memiliki murid favorit yang di-anak emaskan dan mencangkok diri kami yang nantinya usang untuk mereka yang bermasa depan panjang.

Mengibaratkan murid seperti anak seperti dalam puisi Khalil Gibran “Anakmu Bukanlah Anakmu” yang sangat terkenal, pendidik bisa saja membuatkan rumah bagi raga muridnya, tapi tidak bagi jiwanya. Rumah mereka ada di masa mendatang. Zaman baru yang tidak mampu gurunya ziarahi, meski dalam mimpi”. (*/had)