Kiprah Anwar Lewat Komunitas Jelajah Kampung, Ajak Pemuda Lestarikan Budaya Lokal

Foto: M. Anwar, salah satu inisiator Komunitas Jelajah Kampung. (ist)

BACAMALANG.COM – Di tengah globalisasi dan pandemi, ternyata aset budaya lokal dengan kearifannya mampu bertahan menahan gempuran perang ideologi dan menguatkan sendi penopang kekuatan negara.

“Kami membentuk komunitas Jelajah Kampung bertujuan melestarikan dan menggugah anak muda agar peduli budaya lingkungan mereka,” tegas Muhammad Anwar, salah seorang inisiator Komunitas Jelajah Kampung yang berdiri tahun 2009, Kamis (25/2/2021).

Ia mengatakan, setiap kampung kampung, wilayah terkecil dari suatu tatanan negeri, pasti mempunyai asal usul, sejarah, nilai adat, budaya dan kearifan lokal yang diyakini dan dijalani oleh segenap warganya.

Jelajah Kampung sebagai portal dan hub gerakan yang diinisiasi oleh generasi muda ingin memungut, mengugemi dan menggaungkan nilai nilai kearifan tersebut agar makin dikenal oleh dunia.

“Melalui ekspedisi, perjalanan, pendokumentasian remah-remah kebudayaan lokal yang masih lestari dan otentik agar menjadi pelajaran bagi kita semua,” terangnya.

Pijakan terciptanya peradaban

Anwar menjelaskam, pihaknya menjelajahi kampung-kampung, lalu menuliskannya di website. Dua perekat komunitas adalah, kecintaan pada kampung dan kegemaran dalam menulis.

Ia mengungkapkan mempunyai 50 anggota dari berbagai daerah di Indonesia, dan awalnya, komunitas ini memulai aktivitas mereka dari karang taruna di Kota Batu pada 2009.

Fasilitasi pemuda, Jelajahi 350 Kampung

Anwar menceritakan, Komunitas ini memfasilitasi anak muda yang mencintai kampung dan suka menulis dituangkan berupa tulisan di website mereka, yakni www.jelajahkampung.com.

Ia menjelaskan manfaat website tersebut adalah seseorang bisa mendapatkan pengetahuan tentang kampung-kampung. Tidak hanya kondisinya, tetapi juga sejarahnya.

“Alhamdulillah saya telah menjelajahi 350 kampung di Pulau Jawa. Sejak 2006–2016 berkelana menjelajahi kampung. Meski sudah dimulai pada 2006, tetapi komunitas ini baru mempunyai anggota pada 2009,” paparnya.

Ia menuturkan, pertama berkunjung di Komunitas Kampung Jago di Tumpang, Kabupaten Malang belajar tentang tradisi masyarakatnya, salah satunya kesenian Bantengan yang berbeda disana.

Ia merasa heran karena di Kota Batu banyak kesenian Bantengan, tetapi tradisinya berbeda, seperti ritual dan dialeknya berbeda, meski bahasanya sama-sama Jawa.

Kerja Serabutan di Jakarta

Ia mengatakan, lulus dari SMA, tidak melanjutkan kuliah karena menurutnya belajar tidak harus di sekolah. Selanjutnya bergabung ke Karang Taruna Desa Pesanggrahan, Kota Batu hingga bekerja pada 2003 di Jakarta sebagai kuli bangunan, tukang buat sirkuit gokart, dan perancang hardware.

Ia memutuskan pulang kampung pada 2006 untuk belajar ke beberapa komunitas dan memulai menjelajahi kampung. Dari ratusan kampung yang dia jelajahi, terakhir ia menjelajahi Kampung Gunung Wukir, Pondok Gede, Bekasi.

Menurutnya, kampung paling menarik adalah di Kota Batu karena di kota ini terdapat sekitar 50 kampung yang memiliki tradisi berbeda, seperti logat dan tradisi selamatan.

Kampung Bukan Marginal

Ia menilai kampung tidak (bukan) marginal karena banyak hal yang bisa dipelajari dari kampung. Kegiatan lain komunitas ini adalah Bedah Krawang pembacaan sejarah babat desa setiap mengadakan kegiatan bersih desa atau ulang tahun desa.

Jika pembaca ingin mengetahui lebih jauh kiprah Komunitas ini bisa mengintip di :https://m.facebook.com/jelajahkampung/?ref=bookmarks. (*/had)