Glokalisasi, Buku Keren yang Diterbitkan Saat Pandemi

Foto: Cover buku. (ist)

BACAMALANG.COM – Masa pandemi memunculkan sejuta kisah menyedihkan dan mentrenyuhkan hati. Namun tidak bagi Yusli Effendi SIP, MA Akademisi muda Universitas Brawijaya (UB) Malang yang justru sukses memproduksi buku berjudul Glokalisasi yang kini jadi best seller.

“Buku ini hasil lockdown selama masa pandemi Covid-19. Proses dimulai Mei, berakhir Juni. Hasil khalwat atau “bertapa” di rumah saat WFH. Biar produktif dan tidak bosan masa WFH,” tandas pria alumnus Hubungan Internasional Fisip universitas Airlangga ini.

Pria yang juga pengamat terorisme dunia ini, berupaya mengisi kosongnya buku berbahasa Indonesia tentang Glokalisasi.

“Saya ingin mengisi kosongnya buku berbahasa Indonesia tentang Glokalisasi. Juga masih sedikitnya buku bahasa Indonesia untuk disiplin Hubungan Internasional dan globalisasi dari pengarang orang Indonesia,” terang pria mantan penyiar/jurnalis radio, dan buruh pabrik eksportir mebel
rotan ini.

Pria peraih S2 International Relations of The Middle East di University of Exeter, Inggris Raya, dan penerima The British Chevening Scholarship ini menuturkan, buku ini merupakan kajian kritikal terhadap globalisasi. Buku ini membahas bagaimana lokal berinteraksi dan merespon kekuatan global.

Menariknya, pelaku kekerasan dalam globalisasi beragam; dari korporasi, negara-bangsa, bahkan komunitas. Negara yang harusnya melindungi warga, atas nama kebijakan neoliberal, bisa jadi malah menindas warganya.

Dengan kelengkapan aparatusnya, negara bisa memanipulasi proses pengambilan keputusan agar seolah partisipatif dan demokratis, dan secara bersamaan bermain mata dengan korporasi global atau komunitas.

Buku ini merupakan kumpulan karya para pengajar Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Brawijaya. Dua belas tulisan dalam buku ini berupaya menyoroti dan mendiskusikan bagaimana lokal berinteraksi dan merespon kekuatan global.

Keragaman temanya terentang dari soal gerakan sosial (koperasi, lingkungan, perempuan), pemberdayaan komunitas dan ekonomi lokal, pandemi dan keamanan, pos-nasionalisme, hingga kajian tentang partisipasi dan metode melakukan penelitian glokalisasi.

Dari ide, penulisan, sampai eksekusi digarap pada masa awal pandemi dan WFH. Proses berikutnya adalah tulisan dari yang lain digabungkan.

“Saya dan editor lain (Muhaimin Zulhair) yang mengomandani buku ini, dari ide, ngoprak-oprak, editing, sampai naik cetak. Jadi Kami gabungkan secara daring lewat Google Drive. Tanpa bertemu langsung. Jadi saya sebagai penulis plus editor,” tandas pria yang juga Sekretaris Jurusan Politik, Pemerintahan, dan Hubungan Internasional (PPHI) ini.

Laris Manis

Buku ini hasil karya keempat Yusli. “Alhamdulillah laku banget. Ada yang sehari 15 tujuan sekali kirim. Sekarang rata-rata 2 – 3 permintaan,” urai pria penggemar Pearl Jam ini. Pembeli buku tidak hanya lokal Malang Raya namun juga Jakarta, Papua Barat, dan luar negeri (Inggris). Pembeli mayoritas dari kalangan mahasiswa, akademisi, dan profesional.

“Ada yang beli format e-book yang tersedia di platform digital Google Play Books dari Jakarta dan Inggris. Resmi dijual per 1 Juli kemarin. Total penjualan belum direkap, nanti 30 Juli baru Kita rekap,” ucap pria juga aktif berkegiatan di Pusat Studi Pesantren dan Pemberdayaan Masyarakat (PSP2M) UB ini.

Foto: Yusli Effendi SIP MA. (ist)

Sinopsis Glokalisasi

Kisah sukses globalisasi yang diyakini mampu melipat ruang dan waktu, membuat kita bak desa global dengan lokomotif kapitalisme sebagai kendaraan tunggal satu arah yang dipacu kencang menuju akhir sejarah manusia, tiba-tiba macet.

Padahal, saking kencangnya globalisasi neoliberal, gerakan protes yang muncul akibat ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang diakibatkannya, tak mampu menghentikan lajunya.

Dua gerakan anti-globalisasi transnasional yang masih punya stamina tinggi—gerakan kiri dan terorisme—bisa dikatakan tak berhasil menghambat globalisasi neoliberal.

Keduanya bak korban patah hati penikmat campursari: menitipkan pesan kegetiran dan lara ati akibat globalisasi, namun tetap saja ditinggal pergi, bahkan mungkin dijogeti.

Bukan gerakan Marxis, anarkis, fundamentalis, fasis, atau aksi pengeboman, protes besar- besaran, occupy, konvensi, maupun perang yang memperlambat roda-roda kapitalis yang biasanya berputar kencang, namun virus yang berukuran sangat kecil.

Virus Korona telah melumpuhkan globalisasi yang selama ini seolah tanpa lawan tanding sepadan. Virus berukuran sangat kecil ini—ukurannya 125 nanometer atau 0,125 mikrometer—telah menyingkap buruk muka globalisasi sekaligus menjalarkan panik, paranoia, serta krisis kesehatan dan ekonomi

Buku ini diilhami oleh kegelisahan pada globalisasi yang membuat kita berpaling ke glokalisasi. Ia adalah kumpulan esai para penulis yang ahli di bidangnya untuk menjelaskan fenomena glokalisasi dari berbagai sudut pandang, mulai ekonomi, politik, budaya, hingga spektrum gerakan sosial, lingkungan dan gender.

Semuanya dimaksudkan untuk memberikan kontribusi akademis yang bermakna, baik bagi suburnya khazanah intelektual, maupun masa depan perubahan sosial di masa mendatang. (Had/Red)